Jaturampe

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 24 pengikut lainnya

SwaTantu Merambah Movie

Tanggal 26 Agustus 2020, SwaTantu bekerja sama dengan Teater Sejiwa (PBSI UMK Kudus) mengerjakan projek film yang berjudul Sada Lanang. Naskah ini merupakan adaptasi dari cerita klasik Jawa yakni Raden Panji Asmarabangun dengan Dewi Sekartaji. Lewat arahan dari sutradara lulusan dari IKJ yakni Warih Bayu S.Sn.

Dengan bekal properti (alat musik dan pakaian sendiri) serta bantuan dari @Panggungkahanan, Dapur Engpie, JackKidsShop, Raja Lele, Komedi pinggiran, Desa wisata Jurang Kudus, serta suport yang selalu mengalir Bu dari Nina Diduck. Terima kasih pada semua pihak yang membantu terlaksananya kegiatan ini. Sungguh ini suntikan energi yang sangat berguna. Tuhan Maha Baik

Lanjutan: Jawa Corona

58599926019-1584077689440

Gambar: Foto/Viva co.id

Berlanjut

“Bismillahirrahmanirrahim dijadikan pembuka apapun dari putaran laku apapun. Tinggal kamu amati kalimat tersebut dianggap sebagai ayat pada surat apa, lalu adakah yang tidak ada kalimat tersebut, serta pada surat apa kalimat tersebut diucapkan sebanyak dua kali, itu yang harus kalian amati untuk kemudian diputarkan atau kalau perlu dimaknai”  kojah Mbah Biek beruntun

Kami benar-benar diam, cecak dan jengkerik bersama idem mengiyakan. Tak tahu harus berbuat apa, barangkali hanya bahagia dan syukur atas segala apa yang dilimpahkan.

“Piye Jang kamu tahu hal yang dibicarakan, Mbah Biek? Tanya Lik Barji penasaran memecah keheningan

“E..setahu saya kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” yang dijadikan ayat nggih di Al Fatihah, lalu surat yang tidak ada kalimat Bismillahirrahmanirrahim nggih Surat Ath Taubah, sedang yang satunya lagi, oh..lupa saya, Lik? Jawab Bajang

“Kelingan kewan semut apa ora, Mas Bajang?” sahut Mbah Biek sembari terkekeh

“Ahaiiii, nggih Mbah, Surat An Naml ada penyebutan sebanyak dua kali!” Jawab Bajang dengan mata berubah terang.

(Kuingat dulu) bahkan sewaktu mendapat amplop berisi wang duaratusan ribu dari para balon kepala desa, mata Bajang tak secerlang itu. moment itu membuatku klecam-klecem sendiri

“Hei…Momie Monglie, adakah makna baru kau pahami, kok senyum sendiri, adakah semut menjadi perhatianmu, coba uraikan di sini?” Tanya Lik Barji

“Nganu lik, setahu saya semut binatang berkoloni, suka bergotong royong, ini dibuktikan ketika salah satu semut menemukan makanan maka ia segera meninggalkan jejak bau feronom yang kelak dibaca semut lainnya. Uniknya lagi semut berkomunikasi menggunakan metode bunyi, bahwa ia akan memukul  tubuhnya sebagai petanda ada ancaman, hingga sarang Tuan Ratunya akan selamat. Ya, mereka sangat taat dan patuh pada Pemimpinnya” Ujarku turut bersemangat.

Kami terdiam dalam ruang yang sesak asap rokok berputar-putar. Untuk beberapa menit tiada kata. Bahkan corona!

“Selain kalimat di atas,  penyebutan Tuhan itu Esa (ilāhuw wāḥid) ada sebanyak 19 kali lho, Le (2:163, 4:171, 5:73. 6:19. 12:39, 13;16, 14:52, 16:22, 16:51, 18:110, 21:108, 22:34, 29:46, 37:4, 38:65. 40:16, 41:6) bahkan kata wahiid memiliki numerik sembilanbelas juga kan, masih pelajaran ingat abajadun, dimana waaw 6, aliif 1, ha 8, dhal 4?” Lanjut Mbak Biek memecah kesunyian

“Ini kode butut, jangan-jangan memang jenengan sedang bermemori pada SDSB jaman mbiyen og, Mbah. Persis seperti dugaan Lik Barji, tadi!” Gerutu Kemat

 Kulihat Mbak Biek terkekeh riang. Tak pernah kujumpai itu selama kenal dengan beliau. Barangkali obrolan campur bawur semacam warung kopi ini membungahkan dirinya.

“Sudah, kelihatannya tema obrolan hari ini cukup sampai di sini saja, hendaknya di rumah nanti kalian akan merenungkan kembali, jika Tuhan masih memperkenankan bertemu, datang saja tanggal 30 nanti, Ya!” Ucap Mbah Biek lemah hampir tak terdengar

Bersambung

 

Rumusan Covid19

58599926019-1584077689440

Gambar: Foto/Viva co.id

“Kami menyerah, Mbah, barangkali mie instan membuat otak kami mengeras hingga mudah pasrah takluk, tertekuk dan tunduk!” sahut Nang Kemad

“Sik, barangkali Nakmas momie monglie alias Jatu tahu?” lirik Mbah Biek sembari menggoda

“Oalah mbah-mbah, lha jeneng kula mawon Tommy dimana cenderung berima dengan Thomas atau Thompson, ra ya jelas sekular dan mlekutar ta?” jawab saya sekenanya

“Ayolah, jangan kura-kura berperahu, Nakmas, dalam pusaran hati ada yang berbicara maka ucapkanlah sesuai dengan apa yang kau rasa!” Selidik Mbah Biek yang kernyit dahinya menjelma bak Sherlock Holmes

“Bismillahirrahmanirrahim!” jawabku yang tentu akan kusambung dengan karang-karangan yang berbaur pot dan bunga-bunga kosakata populer dimana kaitkata akan menjelma berupa lingkaran kalimat yang berputar-putar serta beragi tinggi hingga pendengar akan jengah dan bosan, maka aku kan selamat. Oh…doakan Baim ya!

Ruangan kering dan hening. Sebelum kulanjut busa tetet-toet tetet-toet tiba-tiba Mbah Biek berdehem dan berkojah

“Yah…benar, engkau benar, Nakmas, itu jawabnya! Sahut Mbah Biek tiba-tiba

Hati pucat, dahi berkeringat, matapun bercat: gelap. Oh….mengapa pas? Lalu dimana titik tepatnya? Oh…doakan baim ya!

“Lha kok bisa, Mbah Biek, coba beri keterangannya! Tukas Lik Barji tidak menerima

“Uraikan saja tiap huruf dari Bismillahirrahmanirrahim itu. Ba, sin, mim, lam, lam dst, jumlahnya tepat sembilanbelas kan, dan kalimat itu dijadikan sebagai pembuka apa saja lho? Memutar baik kala membaca kitab maupun berpusar kegiatan berbuat, ta? Bismillahi ngawiti ngaji sapa ingsun kelawan nyebut asmane gusti Pangeran Kang  Rahman, dzat kang welas asih ing dalem donya lan akhirat, sifate Allah Arrahimi dzat kang welas asih ing dalem akhirat blaka tertemtu marang sekabehane wong mukmin, begitulah basa jawane kalimat yang diajarkan sewaktu kecil dulu” Kata Mbah Biek sembari menyulut kreteknya kembali

Tarikan menghujam lewat kata-kata yang diurai Mbah Biek, membuat kami terbuka (entah bagian tubuh mana yang terbuka) dan menyala (entah dibagian tubuh mana yang menyala)

“Lanjut, Mbah Biek..namun keseruan ini nampaknya malah menjauhkan pembicaran tema copat capit Corona, Mbah!  Tukas Bajang memberanikan diri

“Sabar tah, aja kesusu  kaya narsum nang ILC kae! Jawab Mbah Biem gemas.

Tanpa direncana, Lik Barji, Bajang, Nang Kemat dan aku sendiri untuk kemudian melingkar dan berbisik. Lalu menyanyikan sebelum didahului suara radio milik tetangga yang kencang memutar Ebiet G Ade

Dicari sesobek kertas, dicari sepotong arang Ia menggambar sebisanya Asal bisa terungkapkan perasaan yang menggebu “Suminah, aku cinta kamu!”

Copat Covid19

58599926019-1584077689440

Gambar: Foto/Viva co.id

“Mari kita berpikir sejenak mengenai angka 19 yang merupakan bilangan prima ke-8 . angka yang terdiri dari angka 1 yang merupakan bilangan pokok pertama, dan 9 merupakan bilangan pokok terakhir sebelum ia akan mengulang dirinya kembali? Lha bukankah kota kalian Kudus itu berdiri pada tanggal 19 juga bukan? Rajab kan? Oh…tidak mengertikah kalian?” Tanya Mbak Biek yang langsung kami respon dengan muka seribu bingung. Oh..bapa Akaca bumi prtiwi

“Sampun ta, Mbah Biek, langsung to the coin atau point kemawon, jangan penuh istilah atawa setilah, selak saya nanti nimbal sowan ke Mbahyai di Pati, je. Jangan-jangan ini memori jaman SDSB dulu, ya? ” Kata Lik Barji nrunyang kurang sabaran

“Hahaha, kamu masih belum berubah Barji, sebentar ta ah, membahas ini harus halus dan butuh banyak energi, namun jikalau engkau tak sabar silakan saja!” Jawab Mbah Biek tetap tenang

“Hanjo, Lik Barji iki memang og, nak ora gadhuk, pelan-tenang-slowdown ben ora kloloden, Lik!”  ucap Bajang sedikit sinis

“Iya, maaf Mbah! Mangga dilanjut!

Mbah Biek tampak melolos kretek dari bungkusnya, kemudian menyalakan korek gas kuna –katanya beli di Toko Saerah dekat Sleko jaman mbingen

“Ya, tak jajal langsung wae kanthi pitakonan kanggo dulur-dulur kabeh sing ana nang kene. Coba sebutkan angka 19 yang ada di kitab kang saban hari kamu ngaji!” Ujar Mbah Biek dengan mata adem tentrem namun senatiasa nyala

“Jawaben surat apa kuwi, Jang, awakmu kerep saba sigit lan tau mondok, ta?” Kata Lik Barji sedikit melunak

“Nganu mbah, e…Surat Al Maryam kalau saya tidak salah ingat! Jawab Bajang ragu-ragu

“Ya benar…lalu apa maknanya, Jang? angka sembilan belas apa lagi yang ada di kitabullah, ringkesnya selain Saqar yang bermakna sebagai ujian ya? Tukas Mbah Biek cepat

Kami yang semula bangga dengan Bajang ketika bisa menjawab pertanyaan Mbah Biek, mendadak balik mlempem lagi. Bajang plongak-plongak sinambi kukur-kukur rambutnya, meskipun kami pun tahu bahwa kepalanya tidak gatal. Oalah beibeh…pertanyaan sulit, namun ini enaknya njagong dengan beliau, pinisepuh prasaja yang bentuk pertanyaan akan balik dijawab dengan pertanyaan. Berasa hidup penuh semangat nyala. Setengah menit kemudian Bajang menyerah pasrah. Bukankah ini menjadi pukulan bagi kami bahwa kami tidak sehebat generasi dulu yang gemar mengaji. Benar-benar Gusjigang bukan GusGangJenang.

Sayup terdengar suara merdu

Kemana pun aku pergi Bayang-bayangmu mengejar Bersembunyi di mana pun Selalu engkau temukan Aku merasa letih Dan ingin sendiri Kutanya pada siapa Tak ada yang menjawab Sebab semua peristiwa Hanya di rongga dada Pergulatan yang panjang Dalam kesunyian. Masih mungkinkah pintumu kubuka Dengan kunci yang pernah  senantiasa kupatahkan?

Corona Masuk Jawa

sambungan

58599926019-1584077689440

Gambar: Foto/Viva co.id

Ruang tamu Mbah Biek masih sama, kursi rotan dan lantai yang dirolak semen saja. Lukisan Pak Karno pun masih miring ke kiri, sementara ukiran Pancasila gagah atasnya. Persis delapan tahun yang lalu. Setelah beruluk salam dan masuk rumah, tak lama kemudian terdengar kekeh riang Sang Tuan Rumah.

“Kadingaren, kalian-kalian beranjangsana kemari. Ada urusan apa kok bisa bersama-sama, jarang-jarang ini lho!” tanya Mbah Biek dengan suara bijaksana

Kami sedikit tersudut, selain momen lebaran kami jarang sowan beliau, meski sesungguhnya rumahnya tak jauh dari desa yang kami tinggali. Tapi begitulah, sehebat-hebatnya teknologi malah menjauhkan kami dari keweningan kojah para sesepuh. Ah…

“Nganu Mbah, Corona masuk ke Jawa! Kata Bajang

“Gimana?” Tanya Mbah Biek

“Ee…virus corona alias Covid-19, mbah, medeni bianget, kalau tidak salah sudah seribuan yang terkena, dan puluhan yang meninggal, kami harus bagaimana ini, tidak bisa kerja, sementara yang di rumahpun makin panik, makin pelik!” Jawab Bajang

“Eeehheeeee, oalah begitu ya, virus Wuhan? Kita semua pasti akan kembali ke pada-Nya, bukan? Entah jalan mana, dengan cara apa kematian yang menyebabkan?” Tanya Mbah Biek sembari terkekeh.

Tiada kepanikan bermukim di paras muka, rambut beliaupun lebat beruban meski umurnya menginjak usia delapanpuluhan telah menempa hidup yang dihayatinya.

“Iya, tapi Lik Barji ini eh..kami berlima ini takut re, mbah, lantas sowan lah kemari, barangkali Panjenengan bisa memberikan resep ketabahan ataupun lisuso eh solusi? Kata Nang Kemat gugup

Kami terdiam dalam ruang yang penuh sesak berputar-putar. Untuk beberapa menit tiada kata. Sekalipun corona

 “Pertama, andaikan Pangeran sedang murka tetap yakinilah bahwa kasih sayang dan ampunan Beliau lebih luas melingkupi, Le. Meski sesungguhnya hitungan 19 itu memang tidak gemen-gemen lho. Bayang maut serta jalan keluar di situ juga. Murka dan rahmat-Nya berputar bersama jua!” Kojah Mbah Biek memecah keheningan

Sayup alun suara Ebiet G. Ade

“Selama musim belum bergulir masih ada waktu untuk saling  membuka diri  sejauh batas pengertian Pintu tersibak, cinta mengalir  sebening embun Kasih pun deras mengalir cemerlang sebening embun”

Corona di Negeriku

58599926019-1584077689440

Gambar: Foto/Viva co.id

“Ini bagaimana sih, dimana-mana kok bicara corona, cafe lan warung makan, WA ErTe dan grup alumni: corona, bahkan tebing dan jurang tinggi bicaranya satu kata corona, jian coro tenan!” Kata Lik Barji jengah

“Ya, kenyataan memang sedang menggejala kok, Lik, bukan di Jawa dan Indonesia saja, malah China, Itali dan Usa porak-poranda. Bagaimanapun ini kejadian luar biasa yang butuh disikapi dengan syirius tenan!” Jawab Bajang menimpali

“Sing gak tak senengi ki, kabeh kaya ahli, lha bukannya sang virus belum ditemukan tambanya, ta!”  Sanggah Lik Barji

“Memang belum sih, Lik, tapi hampir semua berusaha, mencoba semampunya untuk menerapkan disiplin ilmu yang dimiliki, mulai akademisi, praktisi kedokteran malah ustadz milenial pun tak ketinggalan!” ucap Nang Kemad

“Halah, mbelgedhes ah, gombal-gambul!” Lik Barji makin gusar

“Sudahlah, jangan panik, aku tahu kita sebagai warga biasa  bisanya ya menunggu, pemimpin kita sudah banyak berusaha, kok. Aku yakin ini hanya bentuk kegundahan sampeyan dimana banyak tanggungan yang sampeyan tanggung, ya anak ya isteri? Tanyaku  perlahan

“Ee…iya, aku kalut, mau keluar-masuk rumah serba takut, kadang bukan diriku yang kupikir, tapi anak-anakku yang masih kecil, bagaimana mereka bisa bertahan nantinya, bagaimana dengan sistem imun mereka. kuatkah..oh!” jawab Lik Barji pelan

“Bagaimana kita sowan ke Mbah Biek, beliau sesepuh winasis, yang berulangkali mengalami masa pageblug di masa dulu? Barangkali bisa memberikan kita wejangan yang menentramkan, bukan? Ucap Nang Kemat

“Tapi beliau itu hanya tani ndusun lho, Nang! Lha wong pembicaran corona alias covid19 ini mengglobal dibahas para ahli belum ada tamba yang bisa dijadikan acuan lho!” Jawab Lik Barji menimpali

“Tidak ada salahnya kita coba, bukan?

“Bukankah ini menjadi kerumunan nantinya?” kataku

“Wis ah, kalutku ke ubun-ubun ini, jangan tunggu pak polisi! Lik Barji tak sabar menimpali

Kami terdiam dalam ruang yang sesak asap rokok berputar-putar. Untuk beberapa menit tiada kata. Bahkan corona!

Sayup terdengar alun lagu

“Ada  seberkas sinar menyelinap jatuh di ilalang, tersentak ‘ku bangun dari impian, Aku melangkah susuri sungai kembali mencari kegaibanMu Suara jengkerik bernyanyi menyusup dan menggeletar kegaduhan ini begitu sepi seperti diam, seperti mati yang nyata hanyalah aku sendiri”

Kudus di antara KPK dan KPAI

“Gilak, ini asal muasalnya begimana sih, Kang, ruwetmya kagak karuan, saling silang, njlimet kayak teka-teki silang mingguan?” Kata Bagas membuka sesi diskusi kecil-kecil

“Hla ya, embuh Dik Bagas? Aku dhewe ya setengah bingung mentiyung, mrana isine ngana, nang kene beritane mengkene. Jajalan, piye kuwi pendapate, Si Jatu sapa ngerti luwih ngerti merga maca rokan, uga blogeran barang!” Jawab Kang Kemad

Iya,  ayolah berpendapat, Mas Jatu, sekalipun nanti berasa wagu! Kata Pakdhe Wakiran

Aku nyengir, sembari mikir. Lha wong lagi enak-enaknya nikmati wudud, kok malah kena sampur. Oalah, beibeh…

“Benarkah ini kelanjutan masalah cecak buaya? benarkan ada kaitan Taliban versus India? Benarkah gerak pikir masyarakat mendasar kojahnya pada persatuan guru besar dan 1.390 dosen yang bersuara? Ataukah KPK memang jadi kurang marwahnya? Bedakah merevisi komisi sama dengan mendukung koruptor? Nah, harusnya Nak Jatu kamu giring dengan pertanyaan begitu, baru ia kan bisa bersuara?” Sela Mbah Sidik bersemangat

“Waduh, boten mekaten ta, Mbah, saya inikan penggembira sekaligus paling muda, Panjenenganlah  yang selalu kami nanti pendapatnya, satu sebagai sesepuh diskusi di sini, dua ya karena paling bijaksana di antara kami” jawabku mencoba berkelit

“Hora, sesekali diskusi dimulai dari pendapate yang paling muda! Tukas Mbah Siddik yang dibarengi dengan anggukan Kang Kemad, serta Pakdhe Wakiran. Gilak kompak bener….

“Halah, jangan Mbah, saya tidak setuju itu, kelamaan, ini masuke extra ordinary crime lho! Tema pembicaraan yang tidak gemen-gemen, dosen dan guru besar yang berhak berpendapat. Jangan diserahkan tongkat pendapat pada seniman apalagi masih muda, nanti liaaar! Kata Bagas

“Tidak bisa begitu, Bagas, muda itu tepat dan tempatnya belajar untuk berkoar! Kata Mbah Siddik

“Baik, karena Mbah Siddik sudah mendhawuhkan begitu, tapi jika salah ya wajar, kan masih muda dimana ini berbanding lurus dengan cupetnya pengetahuan. Ehehe…begini menurut saya (pertama) kape adalah alat yang digunakan ketika hendak ngecat mobil serta rumah, baik kape yang bergagang pun kape tak bergagang. Terkadang kape juga digunakan untuk menggaruk kotoran yang melekat di lantai. Seberapa kotornya lantai ataupun seberapa kumuh cat rumah yang mengelupas sedemikian pula kape akan berguna. Sekali lagi baik kape yang bergagang maupun kape yang tidak bergagang, manut Sang Pemegang nggih” jawabku sangat serius

“Nah, benarkan, lha wong Jatu kok diberi ruang, ngawur perkataannya, KPK kok jadi kape?” sela Bagas

“Hus, jangan menyela, bagas, biar diselesaikan pendapatnya dulu, mangga! Jawab Mbah Siddik

“Kedua, kemarin-kemarin ada dua komisi bergerak dan berjumpalitan dua kali di kota yang kebetulan juga, ada dua Susuhunan, anehnya, dua komisi ini sekarang tengah bergoyang-goyang lho, nggih? Adakah yang salah? Jangan-jangan dua Mbah Sunan tidak berkenan, jangan-jangan ada doa yang dipanjatkan keturunan-keturunan Mbah Sunan! Sebab Kudus itu marwahnya kudu tulus, kalau ada tendensi lain bermain sedikit saja, diputarlah itu skenario, istilahnya membawa kebenaran akan diuji dengan ke-Benar-an, meminjam istilahnya Mas Bagas, ini tidak gemen-gemen! Ini pendapat saya selaku penggembira sekaligus paling muda, Panjenenganlah  yang selalu kami nanti pendapatnya, satu sebagai sesepuh diskusi di sini, dua ya karena paling bijaksana di antara kami! Kataku memaksakan pendapat wagu

Bersambung