Jaturampe

Seniman Kudus di Taman Budaya Jawa Tengah

Berbekal puisi dari Mas Wijang Wharek Al Ma’uti, Mas Jumari HS, Leo Katarsis komunitas seni SwaTantu tampil dalam Festival Seni Jawa Tengah. Bukankah ini hal yang menggembirakan?  Oh…Tuhan Maha Baik

 

 

Terkenang (Dalam Dasawarsa)

Terkenang Pertemuan

senimankuduSS

Selain sebuah kecupan

Dan peluk kehangatan

Dari seribu musim penghujan

Yang dicatat buku harian

Sungguh, dengan apalagi pertemuan mesti dikenangkan?

 

Tungku perapian padam perlahan

Waktu menggigil dalam kesunyian

Dan kau merentang jarak di kejauhan

Sementara langit menyisakan gerimis

Seperti suara-suara ghaib

Seperti suara-suara ghaib

(Meminjam puisi Mas Whijang Wharek)

20082018 Selamat Dasawarsa Sang Swara: teruslah berkarya!

senimankuduSS2

 

Lanjutan Reportase Stupa#3

Awalnya

Sebelumnya

Mbah Kamdi menyunggingkan senyum, barangkali dalam hatinya membatin bahagia, setidaknya ada generasi muda tumbuh curiosity untuk mengetahui capaian tertinggi metalurgi bangsanya. “Nak, rata-rata masyarakat keris sebatas menduga bahwa tuah diasumsikan dengan getaran energi yang muncul akibat perbedaan frekuensi yang terjadi dari perbedaan lipatan besi serta induksi energi berasal dari hasil laku semacam prana yang dialirkan Sang Empu pada masing-masing lipatan (ini pendapat dari Haryono Arumbinang). Bisa juga daya tuah berasal dari permohonan melalui doa/mantra tertentu yang dilafalkan sang empu, kemudian dimasukkan dan disimpan di dalam bilah keris, layaknya suara yang tersimpan dalam flash disk, maka keberadaan dan keberlangsungan tuah bergantung dari kekuatan laku sang empu jika Gusti ngijabahi, tuah tetap ada sepanjang keris tersebut masih terawat dan terhubung batin dengan sang empu. bukankah anakmas pernah membaca Surat Al Hadit, lalu hubungkanlah pemberian nama-nama yang diajarkan Tuhan pada khalifah di dunia. Bisa jadi Sang Empu mengetahui nama azali dari besi, nama azali dari bintang, nama azali dari api, dan lain-lain, kemudian pengetahuan mengenai hal tersebut ditanamkan lewat tirakat sang empu

Alam makin sunyi, jangankan suara jengkerik bahkan desir anginpun tak ada. Hanya suara-suara tembakau yang pating kretak-kretek terdengar bergantian.

“Terimakasih atas jabarannya Mbah Kamdi, dan sekarang mari kita dengar pendapat dari Mas Leo Katarsis selaku sesepuh dari Stupa ini, mangga mas!

Mas Leo Katarsis menerima mikropon dari MC lalu berkata, “Sejak kecil hingga sekarang saya jarang menggali informasi dari klenik maupun keris, namun menurut kepercayaan saya, sebilah keris itu ada ya sebab reka manusia. Dia tetap jadi benda budaya. Hasil olah Budi-Daya-Rasa. Selama di dunia, manusia tak kan menciptakan sesuatu yang hidup atau ruh. Keris tetaplah benda mati meski ia dipercaya memiliki daya atau energi. Jikapun dia bermuatan energi ataupun spirit, tentu bukan dari keris itu sendiri, tetapi dari si mPu yang membuat dengan melakukan laku tirakat, munajat bermohon kepada Tuhan Maha Agung untuk menyematkan sedikit “daya” pada keris. Andaipun beribu mantra yang tersematkan menjadi satu energi keris tersebut ia hanyalah benda mati. Semua tetap berpulang kepada Tuhan. Saya percaya topik begini akan tetap jadi kajian yang menarik bagi penduduk Nusantara khususnya Jawa yang seumuran dengan saya ataupun setidaknya seumuran Bung Tommy, tapi bagi generasi milenial ataupun paska milenial, tentu akan kelimpungan dalam mencarinya. Nah, dititik ini kita sebagai generasi penghubung hendaknya juga memberikan informasi meski setitik pengetahuan, kalaupun tidak bisa kita mulai dengan memberikan arahan ataupun lewat porsi lain dengan gerak kesenian. Bukankan Garin Nugraha sebagai salahsatu sineas berhasil menjelajah dunia dengan tema film-filmnya. Sebut saja Setan Jawa, Opera Jawa dll, tentu saja garapannya lain dibandingkan sutradara lainnya. Ia mengemas dengan apik, lewat tarian bahkan musiknya pun digarap utuh dan anggun lewat Rahayu Supanggah, jadi tanpa meninggalkan budaya Jawa yang adiluhung, hadir pula karya yang tidak memojokkan budaya negerinya. Generasi milenial musti meniru hal itu.” Ujar Mas Leo dengan suara serak-serak berdinamika

Luby dan pemuda dari Sanggar Poentoen’ pun asyik berbisik. Ya, sebagai putra dari seniman kudus kawakan, ia memang baru tertarik dengan dunia film.

f

Stupa#3: Reportase Ringan

Sebuah repotase ringan kegiatan Seniman Kudus

Tatap rembulan mengubah malam makin senyap. Namun, tentu saja itu tidak mengurungkan niatan kami untuk berkumpul, njagong bareng dan sinau bareng. Ya, telah tiba dengan seksama, Sabtu Pahing yang mana menjadi penanda acara Stupa#3 dilaksanakan. Sebagian teman-teman SwaTantu (Acik, Hana, Anas) malah sudah hadir sedari siang, sekedar membantu kesiapan Ariz Sang Tuan Rumah. Ya, menjadi kesepakatan forum bersama, Sabtu Pahing-an ini akan dilaksanakan di Jepang Pakis RT 4 RW 4 Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Sekitar jam 07.45 WIB, Bro Kenyol datang dengan deru Ertelu, ngetitir halus memarkirkan di depan lokasi. Pemuda-pemudi semula duduk dan yang sebagian menata properti panggung, bergegas selaksana mendengar gerak nada riang Sweet Sister menyanyikan tembang milik Ray Charles. Hingga, satu dua tiga, untuk beberapa menit bergerak serempak hingga tercipta nuansa kegotongroyongan khas masyarakat Jawa

Kecang garing, krupuk bawang, semangka merah bergumul dengan semangka kuning. Teko kopi teko teh yang bersanding ramah menyambut. Hingga di antara anggukan serta tumpukan televisi, radio kuna alat musik kami letakkan. Ah, betapa bagian dari waktu seperti inilah yang akan kami rindukan. Ah…rupanya, Komandan kami -Farid Cah Kudus sudah datang. Ia duduk di lincak bersama Adi UMK kawan lama kami. Tangan mereka yang kekar ramah menyambut seiringan ulas senyum dihiaskan, “Selamat datang, Kawan, sepertinya malam ini, sebagian narasumber tidak datang, ada beberapa pasien yang tidak bisa ditinggal!” katanya

Benar, di tema Klenik, Unik, Antik & Cantik Pak Lukartana (sebagai narasumber yang sesungguhnya pas untuk tema Stupa#3) tidak bisa rawuh, ada beberapa kegiatan yang menanti uluran tangan dan kasih sayangnya, sementara Mas Miko (Praktisi Dukun Politik) yang terkenal tajam mendalam babagan ilmu prediksi dan segenap utak-atiknya, mendadak absen, hehehehe. Buku-buku yang berhubungan dengan tema tidak ditemukannya, katanya, dipinjam oleh empat bakal calon anggota legislatif. Untung saja, Mas Leo Katarsis, sebagai sesepuh kami, meskipun ruas kakinya luka sebab forstep motornya hadir menyempatkan diri. Oh….

Segera, Master of Ceremony –Usturroid membuka acara dengan salam dan lantunan doa bersama, dan tak lupa (sekali lagi) bergema lagu nakal dari Sweet Sister dengan panduan satu dua tiga “Hit the road Jack and don’t you come back, No more, no more, no more, no more Hit the road Jack and don’t you come back, No more. What’d you say?”

a

Seniman Kudus Menggarap Anak

Mempersiapkan sumber daya manusia yang peduli tentang seni dan kesenian adalah tujuan jangka panjang dari sebagian kecil seniman kudus ini. Mengapa? laju zaman adalah keniscayaan, namun manusia yang berjiwa seutuhnya, yang berorientasi berpadunya norma, etika dan estetika menjadi sebuah ukuran yang sedikit angil. Di tengah sajian acara-acara kesenian yang sedemikian wagunya di Kota Kudus, kami bergerak berirama

af338410-f378-47ff-a90b-8cc809a1bac8

bed2d2a6-72d2-4e10-bbd4-33b21e981d30

f239b9ab-2650-44d0-b5a4-887e947abda7

Ligan Culture Community

Soto Kudus Kondang Kaloka

Dalam Visualisasi Dandangan 2018, Komposisi tercipta, meski baru 80%, tapi setidaknya membuat kami lebih mengingatnya, sebab apapun, bagi kami proses adalah utama. Bukankah begitu?

Saatnya Seniwati Kota Kudus Buangkit!

Akan menjadi indah, jika para penari wanita mulai mau tampil di acara-acara kesenian, mengingat terbatasnya SDM walkhusus (istilah apa maneh iki)  perempuan. Maka, membahagiakan ikut jadi penyaksi di Acara AIU Budaya Desa Jurang, Gebog  Kudus kemarin malam. Ya…Sekar Jaturampe yang merupakan perpaduan penari muda dan STW (O…yeah) melenggak-lenggokan badannya. Bukan sekedar makna erotis yang ingin disajikan namun berharap magis….

Oh…

dca