Jaturampe

Blog yang Saya Ikuti

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 272 pengikut lainnya

Iklan

Seniman Kudus Menggarap Anak

Mempersiapkan sumber daya manusia yang peduli tentang seni dan kesenian adalah tujuan jangka panjang dari sebagian kecil seniman kudus ini. Mengapa? laju zaman adalah keniscayaan, namun manusia yang berjiwa seutuhnya, yang berorientasi berpadunya norma, etika dan estetika menjadi sebuah ukuran yang sedikit angil. Di tengah sajian acara-acara kesenian yang sedemikian wagunya di Kota Kudus, kami bergerak berirama

af338410-f378-47ff-a90b-8cc809a1bac8

bed2d2a6-72d2-4e10-bbd4-33b21e981d30

f239b9ab-2650-44d0-b5a4-887e947abda7

Ligan Culture Community

Iklan

Soto Kudus Kondang Kaloka

Dalam Visualisasi Dandangan 2018, Komposisi tercipta, meski baru 80%, tapi setidaknya membuat kami lebih mengingatnya, sebab apapun, bagi kami proses adalah utama. Bukankah begitu?

Saatnya Seniwati Kota Kudus Buangkit!

Akan menjadi indah, jika para penari wanita mulai mau tampil di acara-acara kesenian, mengingat terbatasnya SDM walkhusus (istilah apa maneh iki)  perempuan. Maka, membahagiakan ikut jadi penyaksi di Acara AIU Budaya Desa Jurang, Gebog  Kudus kemarin malam. Ya…Sekar Jaturampe yang merupakan perpaduan penari muda dan STW (O…yeah) melenggak-lenggokan badannya. Bukan sekedar makna erotis yang ingin disajikan namun berharap magis….

Oh…

dca

Seniman Kudus di Visualisasi Dandangan

Semaraknya persiapan para Seniman Kudus yang bekerjasama dalam acara Visualisasi Dandangan, 2018 tak kurang seratusan lebih pelaku seni terlibat

 

a1

c

20180516_112950

mIMG-20180517-WA0008

Semoga kebersamaan ini berlanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reportase Stupa#2

we2

Nampak trio vespa (Ariz, Joko, Bro Ubrut) dari Desa Jepang mulai datang dengan dandanan retro khas mereka. Pemuda Desa Jurang (Teater Gatang) serta kawan-kawan Kanzu juga hadir. Kurang dari jam 20.00 WIB, acara dibuka oleh moderator. Yup, sengaja dalam Stupa, Master of Ceremony tetap Usturroid, yang masih belia dengan harapan agar menempanya untuk senantiasa belajar diksi sekaligus belajar beragam seni (secara tak langsung) sebelum memoderatori acara. Pembukaan beserta doa pun dilantunkan, maka secara sah Stupa#2 dengan judul “Kesenian untuk Apa dan untuk Siapa” dibuka…

Narasumber pertama adalah sang tuan rumah. Berkopiah hitami, baju batik warna coklat serta hitam sarung, Dengan pose kesukaannya (sedikit miring –entah ke kanan, atau ke kiri) Mas Leo mulai menata duduk dan berkata, “Semoga Stupa ini, menjadi satu bentuk ikatan kekerabatan kita selaku makhluk Tuhan dan makhluk social. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang beragama, berbudaya, berilmu pengetahuan, sekaligus berkesenian. Secara mendasar, hampir semua manusia dibekali Tuhan dengan perasaan seni, namun dalam pengejawantahan kehidupan sehari-hari dapat dikategorikan dengan pelaku seni, penikmat seni. Ya, alam dapat dinikmati berupa-rupa, semua bisa merasakan keindahan. Misalnya melihat senja dengan warna saga, memburat di barat. Peristiwa tersebut bisa jadi dianggap biasa, atau sekedar dinikmati, namun bisa juga dibuat bahan perenungan sehingga muncul gagasan yang diwujudkan dalam karya berupa seni rupa, seni musik, tari, teater atau lainnya. Lalu untuk apa? Tentu saja untuk manusia itu sendiri pula untuk masyarakatnya. Sebagai makhluk budaya, ia akan mengolahnya, menjadi sebentuk upacara, dengan harapan, semua yang hadir diperayaan ataupun upacara tersebut menjadi tercerahkan. Bukankah salah satu fungsi seni adalah menghaluskan perasaan maupun perilaku? Ya..Saya percaya, kegiatan seni erat berhubungan dengan sisi religiusitas seseorang, Karya seni apapun, hampir dipastikan akan melalui sebuah perenungan, tapi berkenaan dengan bagus atau tidaknya hasil tersebut itu merupakan teknis, dan berbanding lurus dengan permenungannya.

Aristoteles mengatakan (dalam dua karyanya, baik Politics dan Poetics. Dalam Politics, Aristoteles menyebutkan bahwa seseorang yang mengalami perasaan memilukan atau ketakutan akan mengalami katarsis dengan cara mendengarkan lagu-lagu sakral, dengan begitu, ia akan merasa dipulihkan, kemudian diperkuat dalam buku keenam, Poetics, yang menyebutkan bahwa Tragedi (Drama Yunani Kuno) menirukan perasaan pilu dan takut, dengan demikian Tragedi akan meng-katarsis emosi tersebut. Ya…selain melalui agama, manusia diharapkan mendapatkan pencerahan, permenungan atau katarsis diri melaui seni. Setelah menemukan tokolan tersebut, Sang Seniman itupun akan berusaha mengabarkan pada lingkup terkecil maupun pada masyarakatnya. Bukankah salahsatu fungsi seni itu adalah harmoni?” kata Mas Gunadi dengan khas suara berat dan dalam

Lantunan Joan Baez menggema sepenuhnya dalam hati sepertinya menambah malam makin berisi…duhai
May God bless and keep you always
May your wishes all come true
May you always do for others
And let others do for you
May you build a ladder to the stars
And climb on every rung
May you stay forever young.

May you grow up to be righteous
May you grow up to be true
May you always know the truth
And see the lights surrounding you
May you always be courageous
Stand upright and be strong
And may you stay forever young.

Forever young, forever young
May you stay forever young.
Bersambung..

Sajian Seniman Kudus

Genap satu bulan berdiskusi mengenai hubungan intim manusia Jawa dengan Semar, maka terciptalah komposisi musik berjudul Janggan Semarasanta https://youtu.be/WRI2P07fQDI

Fulldie, Kematian Penuh? Oalah, Mak!

“Wannajmi idzaa haw(a)” kata Mbah Malik tiba-tiba. Kami dari beberapa pemuda yang selama delapan menit mengerubunginya menjadi kaget. Sungguh, bukan satu jawaban yang kami harapkan.

“Punapa maknanipun, Mbah Malik? kadose kokseje kalih ancas pitakone, Dik Karno kalawau!” Tanya Lik Dirman.
sempat kulirik raut muka kami yang terus bertaut. Ini benar-benar peristiwa yang menegangkan, apalagi untuk keramatnya malem Jumuah. Sementara Mbah Malik, masih asik menggosak-gosok batu persianya

“Demi bintang yang benar tenggelam, bukankah itu pembuka dari surat An-Najm ta, Mbah? Tentang soraya yang membenamkan diri bukan? Seloroh Wisnu tukang watu
“His, jangan sok tau, Wis, biarkan Mbah Malik dengan konsentrasinya, biarkan Mbah Malik dengan teropongan bintangnya
Tak berapa lama, terdengar dehem tiga kali dari arah Mbae, kamipun menyiapkan telinga untuk mendengar petuah-petuah.

“Dulu, Sembilan bintang itu merelakan diri, menyerahkan satu bagian tercantiknya pada ini negeri, lalu hingga detik ini, ia bertengger anggun di poster tiap instansi. Bukankan itu kerelaan yang luar biasa? Benar yang diucapkan saudaramu Wisnu tadi, Tsurayya yang hilang atau jatuh bersamaan dengan terbitnya Putra Sang Fajar. Nah, permasalahannya adalah, kini entah bisikan dewa mana yang menitahkan bahwa Marope menjadi tertiadakan sebab karakter harus diajarkan. Padahal Marope adalah bintangnya satu harapan. Penjaga dalam pekat, penjaga malam pekat, tanpa diajar, tanpa harus dibayar” Tuah Mbah Malik sembari menyedot rokok klembaknya.

“Sik-sik, Mbah. Lalu apa hubung semua ini? Tsurayya ini bintang tujuh kan, lalu apa itu fajar, dan apa pula itu Marope? Bingung aku, Mbah! Desak Lik Hasan penuh harap
“Jadi begini, Lik, singkatnya ada sembilan bintang utama dalam gugusan Pleiades yang terdiri dari Electra, Maia, Taygeta, Alcyone, Sterope, Marope, Atlas dan Pleione.” Jawabku mencoba untuk tidak mengawang-awang dan focus pada pokok diskusi yang membumi
“Lhah, lalu apa hubungannya dengan Full die scholl?” Tanya Lik Husni, menyergap tiba-tiba

“Nah itu, Tsurayya Sang Bintang tak tampak sebab ikhlas mengalah pada fajar sinar mentari, menjadi resah, jikalau nantinya ini negeri menjadi peteng ndedhet tak tampak bentuk dan kondisi. Lagian bukan Full Die Scholl tapi Full Day School, Lik Husni! Jawab Wakhid agak njalur.
“Oalah…Sang Bintang Sembilan sedang mriang butuh puyer bintang tujuh, ta? Canda Gambul

“Heh, kamu jangan gojek untuk kasus ini, Gambul! Sesungguhnya ini ranah pembicaraan yang ra gemen-gemen, lho, sesungguhnya Maa dhalla shaahibukum wamaa ghaw(a), Wamaa yanthiqu ‘anil haw(a)! Hardik Hasan

“Oh…mana tantu, mana tali-temali ituu! Kata Mbah Malik tiba-tiba berlarii