Jaturampe

Beranda » jaturampe » Islam di Tanah Jawa

Islam di Tanah Jawa

Follow Jaturampe on WordPress.com

ini adalah cerita tentang perjalanan pangeran Jayengresmi yang bertemu dengan Ki Pariwara ( keturunan dari Ki Ageng Sela -Syeh Abdurrahman) di sekitar Sela -salah satu desa di  Kabupaten Purwadadi Grobogan- (diambil dari kitab Centini, Jilid I, pupuh ke-29 yang bertembangkan Dhandhanggula, baris ke empat, lima dan enam).

seperti pada umumnya, di tanah Jawa, sebuah pitutur biasanya berupa tembang-tembang macapat dan dilagukan  saat  menjelang tidur, selain berguna untuk memasukkan nilai juga mengenalkan budaya/tradisi bahkan agama sekalipun.   ini menjadi catatan bahwa sebuah pitutur tersebut  biasanya jauh dari rasa minteri atau menggurui sang anak…

Dhandhanggula

baris ke-4 yang berbunyi :

Papaliki ajinen mberkati, tur selamet seger kawarasan, pepali iki mangkene, aja agawe angkuh, aja ladak aja ajail, aja manah surakah, lan aja calimut, lan aja guru aleman, aja jail wong jail pan gelis mati, aja amanah ngiwa

( Petuah yang bernilai ini sangat memberkati, agar selamat jiwa raga, yaitu: jangan angkuh, jangan galak dan jahil (orang yang jahil akan cepat mati)  jangan mempunyai hati yang serakah, jangan suka mencuri, dan jangan terlalu manja, jangan mencondongkan hati untuk berbuat yang mengarah ke kiri – perbuatan buruk)

baris ke-5 yang berbunyi:

Aja saen den wedi ing ngisin, ya wong urip hya ngegungken awak, wong urip pinet baguse, aja lali abagus, bagus iku dudu mas picis, pan dudu sandhangan,  dudu rupa iku, wong bagus pan ewuh pisan, sapapadha wong urip pan padha asih, perak ati warnanya

(jangan malu ketika berbuat kebaikan, ya..orang hidup itu mengagungkan harga diri, orang hidup memang ditekan kebaikan, tapi jangan lupakan kebaikan itu sendiri, karena kebaikan itu bukanlah berupa emas permata, bukan berupa gebyar pakaian, bukan rupa muka, kebaikan itu berupa rasa saling mengasihi sesama manusia dan biasanya berpedoman pada rasa di hati nurani.. )

baris ke-6 yang berbunyi:

Aja mangeran ing mas picis, aja mangeran ing busana endah, aja mangeran ing kabisane, aja mangeran ngelmu, aja mangeran teguhireki, aja mangeran japa, aja gunggung laku, kabeh iku siya-siya, aja nggugoni kawruhireki, lah iku mundhak apa

(jangan menuhankan perhiasan, jangan menuhankan pakaian, jangan menuhankan kepintaran, jangan menuhankan ilmu, jangan menuhankan kekuatan, doa-doa, jangan menampakkan perbuatan baik, dan jangan percayai pengetahuan ini, buat apa?)

tentunya penafsiran ini masih kurang makna, maklum, saya hanya orang muda yang baru belajar bahasa

monggo..jika ada yang menambahkan,

Postingan di Kompasiana tanggal, 3 Januari 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s