Jaturampe

Beranda » jaturampe » Negeri Rahsa serba Rahasia

Negeri Rahsa serba Rahasia

Follow Jaturampe on WordPress.com

Sungguh, ada banyak simbol, rahsa bercampur rahasia di negeri ini. Namun pertanyaan dan gundah gulana para penduduk negeri ini telah dijawab oleh para leluhur bangsa dengan sebuah petuah yang disandikan dengan samar

baik lewat pandangan tentang masa depan sebuah negara, tentang agama, politik juga nilai-nilai budaya. Sekian misteri itu bisa saja tersaji dalam bentuk dongeng-dongeng anak, legenda ataupun keriangan pantun, gurindam ataupun sanjak. Dan benar saja, semua kengerian itu, dengan tepat diprediksi oleh para leluhur kita. Maka, diperlukan kerangka pikir yang satu dan menyeluruh, mengamati keadaan (membaca) baik yang tersurat ataupun yang tersirat, jika ingin menemukan petuah yang tersembunyi itu. sebab komunikasi yang samar itu menjadi ciri khas milik putra negeri.

Lihat saja tembang sederhana –yang menurut banyak orang– ciptaan dari Sunan kalijaga yang berjudul Ilir-ilir…bukankah dalam tembang ini ada prediksi dari Kanjeng Sunan tentang kekhawatirannya pada ranah agama, yang terancam rusak karena kedatangan para Penjajah (bisa berupa manusia/kelompok, bisa saja berupa ide). Di tembang (yang syairnya) berbunyi Dodotira…dodotira kumitir bedhah ing pinggir, dumana jumlatana, kanggo seba mengko sore, terpetik simbol bahwa pakaian agama (dodotira) terancam sobek/robek kehakikiannya setelah diabad-abad sebelumnya, kedatangan Islam dan agama yang sudah ada serupa dengan padi yang berwarna hijau (ijo royo-royo) menyatu dengan sang sawah.

Atau juga cerita-cerita yang pernah berkembang di Jawa dan Sumatra, tentang kecerdikan dan keceriaan Sang Kancil yang sanggup mengalahkan hewan-hewan besar dan buas lainnya, bukankah inilah sandi yang terus menemani anak-anak pribumi, yang mungkin diharapkan untuk selalu cerdik meskipun banyak kelompok, ide atau sampah-sampah modern menumpuk di setiap penjuru bumi Nusantara. Lalu siapakah Gajah, Harimau, Kera? Tentunya, pembaca dapat menghubungkannya dengan peristiwa kekinian atau negara-negara asal binatang tersebut. Bukankah julukan Sang Kancil (menurut penduduk Sumatra adalah Syah Alam Dirimba) atau bahkan warga Aceh dahulu memberinya anugerah berupa sebutan Wali (wakil) dari Nabi Sulaiman dan diberi Gelar Wali Thaba yang pernah diutus ke Negeri Saba’

Atau juga sandi yang berpuluh-puluh tahun menggantung dalam benak rakyat Indonesia, tentang khabar datangnya Sang Satria Piningit? Siapa pula ini? Berasal dari manakah? Benar saja tokoh ini mempunyai multi tafsir, tergantung kesenangan yang menafsirkannya. Kalau penafsir yang berlatar belakang hukum maka sang Satria Piningit menjelma menjadi sebentuk keadilan yang dapat menyejahterakan masyarakatnya dengan kepastian hukum. Jika Satria Piningit ditafsiri oleh ekonom, maka ia menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang idenya murni berasal dari anak negeri, bukan hasil pengembangan kerja dari Adam Smith ataupun Keynes. Jika penafsir berlatar belakang agama maka bisa ditebak maka satria piningit adalah Sang Imam Mahdi. (kok jadi banyak tokoh ya?)

Menurut para futurolog,  Satria Piningit dapat diartikan sebagai sekelompok wayang kulit yang semula berada dalam pingitan (kotak penyimpan wayang) kemudian mendunia karena banyak falsafahnya yang mampu menjawab tantangan dunia modern beserta sampah-sampahnya. Namun apapun tafsirannya, makna piningit mengandung maksud tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Bukankah negera China juga gemar mempelajari falsafah Tao dan Talmud baru-baru ini? Ada apa ini?

Mengacu pada para penafsir di atas, maka saya tidak mau terjebak mengikuti tanpa filter tentang tafsiran-tafsiran di atas meskipun segala titik dapat juga terhubung dengan sendirinya. memang, saya condong pada tafsiran para Futurolog, yang berupa kehebatan wayang di negeri orang, namun miskin makna di negeri sendiri. Tentang tokoh yang sengaja sembunyi atau disembunyikan, namun terselamatkan oleh para leluhur kita, atau jangan-jangan, skenario ini memang sengaja dibuat karena hasil penerawangan buyut-buyut kita tentang ancaman yang akan melanda di Nusantara? Jikalau itu benar maka satu yang pasti, cerita itu dibungkus dengan kehalusan, keanggunan falsafah dari para leluhur kita dan jawabannya yang ada di sana. Ngomong-ngomong, siapa ya, wayang yang bersembunyi dan disembunyikan? teriring salam dan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada mbahkung yang berada di Darussalam atas petuah dan khidmatnya

 

postingan di kompasiana tanggal, 31 Januari 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s