Jaturampe

Beranda » jaturampe » Di Sini, Erianto Anas Boleh di Hukum Pancung!

Di Sini, Erianto Anas Boleh di Hukum Pancung!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Seringkali kita mendengarkan orang yang berkata, pikirlah ucapanmu, renungkanlah kejadian itu, atau awas jangan bandel ya! masak kejadian itu terjadi tanpa pernah kau pikirkan sama sekali? Bukankah ucapan ini mengandung satu kata yang satu kata yang tetap yakni otak dan rupa rupa kegiatannya. pikir berasal dari kata fakkara atau tafakkaru yang menurut Quraish Shihab berarti :
1. Mengorek sehingga muncul apa yang dicari/dikorek
2. menumbuk sampai hancur
3. menyikat sehingga kotorannya hilang

semua menunjuk pada kata pencarian, pencarian yang benar benar membutuhkan waktu. Maka wajar di zaman sekarang seringkali anak anak diberikan tugas untuk belajar, bukan hanya kegiatan yang berupa pengetahuan saja, melainkan kegiatan yang bersifat sikap maupun gerak psikomotorik. Lalu menjadi semacam kewajaran jamur dimusim penghujan, sekarang ini banyak bermunculan lembaga lembaga bimbingan belajar baik yang berupa pelajaran pelengkap maupun sanggar tari, teater maupun musik.

Kata kedua yang sering singgah di telinga kita adalah kata dzikir. apakah dzikir itu? banyak orang yang mengartikan dzikir adalah mengingat (bisa diartikan mengingat di otak maupun di hati), mengingat di otak dan di hati yang hanya ditujukan untuk mengingat Tuhan semata, baik lewat sholat, pembacaan kitab suci, maupun mendaraskan AsmaAllah. Menurut Qordhawi fungsi otak inilah yang paling tinggi hal ini juga sebangun dengan yang dikatakan oleh Imam Khomeini bahwa tadzakur lebih atas derajatnya dibanding taffakur. Ibarat taffakur adalah kegiatan mencari maka tadzakur menjadi mesin untuk mengingatnya.

Umat Islam terdahulu sangatlah menjunjung tinggi kedua kegiatan ini. Tak ayal banyak yang belajar seiring dengan kegiatan harian mereka, ada yang belajar sambil berjalan, ada yang berjalan sambil makan, bahkan tak jarang ada yang belajar sembari ngendon di kakus. Semangat inilah yang membuat umat Islam maju di zaman dahulu. Siapa sih yang tak kenal Ghazali, Ibn Sina, Ibn Arabi, Mulla Sadra, Imam Syafi’i? merekalah garda depan dari para pemikir agama mewakili masanya. Setengah mati mereka belajar kemudian setengah matinya lagi untuk menulis. Banyak yang mengatakan kegiatan menulis adalah upaya mengingat kembali apasaja yang pernah dicarinya.

Lalu zaman sekarang ini bagaimana keadaan umat Islam? adakah seorang pembaharu di bidangnya? yang berusaha mencari dengan sungguh sungguh ke”samar”an wujud Al Qur’an selain dari cerita cerita tentang sejarahnya? ataukah mereka pada loyo, takut dikatakan bid’ah, kafir bahkan murtad? celakanya yang mengatakan tersebut (kebanyakan) tokoh Islam yang berbendera tinggi. Memang sih masih banyak generasi genarasi yang seperti yang mengharu biru (Erianto Anas contohnya), tapi cobalah hitung dengan jari, paling paling hanya angka yang tak lebih dari 60 orang saja (kalau zaman sekarang belum termasuk kategori menakutkan) tapi bagaimana dari dengan generasi selanjutnya? Lihat saja, sekarang banyak anak anak usia sekolah dasar sudah masuk dalam sekolah yang cenderung terkotak kotak, masuk NU lah, Muhammadiyah lah, Persis ataupun Lukmanul Hakim yang semuannya merupakan hasil dari dorongan orang tuanya. Hmm…Islam yang tak lagi berjama’ah dengan hanya label Islam saja. Celakanya terkadang satu sisi menjelekkan sisi yang lain, satu sisi mengkafirkan yang lainnya, satu sisi menghalalkan darah sisi yang lainnya. Pastinya ini akan terbantahkan dengan jawaban perbedaan adalah rahmah? Lalu salahkah keadaan ini? tentu saja tidak, karena semua itu merupakan pilihan masing masing individu, hanya sayangnya mengapa tidak saling bahu membahu. Bersatu padu untuk bersatu dengan atas nama Cinta pada negara? paling paling ketika besar mereka akan masuk ke salah satu parpol yang (kemungkinannya) hanya memperjuangkan alirannya saja. Okelah, ada hadits yang mengatakan umat Islam akan terpecah menjadi beberapa golongan, bahwa sangat sulit mencari Islam sejati di akhir zaman. Tapi benarkah ini akhir zaman? jangan jangan ini malah baru awalan sebuah era keemasan.

Kegiatan otak yang ketiga adalah Nazhar atau nalar, yaitu memandang dengan mata kepala dan mata hati. Mata kepala ada dua yakni kiri dan kanan, masing masing semuanya mempunyai fungsi, misalnya jika salah satu mata kelilipan maka mata yang lain dibutuhkan untuk melihat jalan. Ada pesan tersembunyi yang mengharapkan kita tidak cepat mengambil keputusan lewat pandangan mata, usahakanlah meminta bantuan mata hati untuk menimbangnya. Mata hati yang bijak menjadi pertanda
kearifan dari orang itu. Mata hati orang yang bijak menjadi penanda bergemuruh ombak ilmu didadanya. semoga Andalah manusia bijak itu.

so, bagaimana keadaan Erianto Anas? Pantaskah ia dihukum “pancung” di sini? pantaskah darahnya tersebar di hamparan dunia kompasiana ini? Terserah penafsiran pembacanya akan makna kehadirannya, yang jelas ia salah satu pendekar yang memberanikan diri untuk tetap berdiri meski arus kencang menentangnya, meski selaksa amarah bergejolak di dunia maya. Pilihan untuk menjadi bijak ada di tangan sampeyan. Mau memancung atau mengamini pula caci maki..

salam darussalam,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s