Jaturampe

Beranda » opini » Monolog Gelandangan Pinggir Jalan

Monolog Gelandangan Pinggir Jalan

Follow Jaturampe on WordPress.com

Berkendara angin aku mengarung sendiri

pucuk bukit tandus pula kiloan getir ombak

dan sepi masih mengubur jejak

langkah kaki yang tapaknya makin mengecil

Apakah sebuah utopia

dimana adil bersanding dengan sejahtera

tetap saja miskin

bergelayut atau hanyut

capung hanya keringat begulir

airmata sering!

Toh..

pementasan tetap berjalan

meski  sebuah tragedi maha satir

layar digelar

lampu padam

mendadak lantang  berteriak

sesosok bayang tubuh

” Inilah wajah, dan ini gelisah “


1 Komentar

  1. […] Monolog Gelandangan Pinggir Jalan (via Jaturampe) In jaturampe on Februari 28, 2011 at 10:29 am Berkendara angin aku mengarung sendiri pucuk bukit tandus pula kiloan getir ombak dan sepi masih mengubur jejak langkah kaki yang tapaknya makin mengecil Apakah sebuah utopia dimana adil bersanding dengan sejahtera tetap saja miskin bergelayut atau hanyut capung hanya keringat begulir airmata sering! Toh.. pementasan tetap berjalan meski  sebuah tragedi maha satir layar digelar lampu padam mendadak lantang  berteriak sesosok bayang tubuh " Inilah … Read More […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s