Jaturampe

Beranda » jaturampe » Mencari Tuhan antara Bintang dan Mentari

Mencari Tuhan antara Bintang dan Mentari

Follow Jaturampe on WordPress.com

QS. Al An’am [6] : 76 “ Dan ketika malam tiba padanya, ia melihat bintang dan berkata, inilah Tuhanku, tetapi ketika bintang menghilang, ia berkata, aku tidak menyukai Tuhan yang lenyap. Dan ketika ia melihat kemunculan matahari, ia berkata, Inilah Tuhanku, tetapi ketika ia melihatnya terbenam, ia berkata, sungguh, jika Tuhan tidak mengarahkanku, aku akan menjadi bagian kaum yang tersesat”.

Ah..Seorang Nabi Ibrahim as saja memerlukan waktu untuk mengenal dan mencari Tuhannya, apalagi kita? Kegiatan mencari Tuhan tidaklah lekang oleh waktu, meski zaman terus berganti, ruang terus berpindah, namun tetap saja pencarian itu dilakukan oleh berbagai macam manusia nir suku, agama pun bangsa sekalipun. Rindu  menggelegak, hinggap di ubun ubun, minta segera dilunasi. Bagaimana dengan anda?

Mungkin bentuk tuhan zaman sekarang berganti dibanding sewaktu zaman Sang Khalil,  dahulu tuhan tuhan (kaum era Nabi Ibrahim as) berbentuk gemintang, mungkin sekarang bintangnya berganti dengan  akal/budi. Mungkin, sewaktu dahulu dizaman kaum Nabi Ibrahim tamsilannya matahari, sedang diwaktu sekarang berbentuk ilmu, tetapi hakikinya semua sama, baik akal budi maupun ilmu adalah sesuatu yang bukan Tuhan. Ada suatu ungkapan yang mengatakan Al Ilmu hijabul Akbar (dan .. ilmu adalah hijab/tutup yang maha besar), . Ini akan menjadi sedikit kontradiktif dengan hadits Nabi Muhammad, yang mengatakan ” carilah ilmu meski sampai ke negeri Cina” atau ” Carilah ilmu dari kecil sampai masuk ke liang lahat.” Saya tidak tertarik untuk meriwayatkan keabsahan dari hadits-hadits tersebut, karena banyak ulama ulama yang lebih shahih dalam pencariannya, saya hanya berusaha mengkombinasikan ketiganya bahwa, untuk tataran pencarian dunia/materi dan ilmu akhirat, berusahalah cari  berbagai kebijakan, baik dari kitab suci maupun  berita kebenaran dari leluhur/ nenek moyang.  pun  itu tidak akan pernah habis, sebab ada saja cabang cabang dari masing-masing ilmu) dan jangan terjebak, sebab, untuk menelusurinya membutuhkan energi dan ruang waktu. Bukankah Ilmu Tuhan diibaratkan tintanya seluruh lautan, penanya sebanyak ranting namun tetap saja tak terjajagi? intisarinya justru ada ditingkat kepasrahan seperti yang ditunjukkan Sang Khalil, seperti yang dilakukan Sang Musthofa (Thoha) bukankah beliau menyepi ke Gua Hira’? masak Kanjeng Nabi  sekedar meniatkan refreshing?tentu tidakkan?..hehehe, pastinya tujuannya ya sama, yakni mencari petunjuk Tuhan. Ya, manis sekali ungkapan dari Nabi Ibrahim.. Sungguh, jika Tuhan tidak mengarahkanku, aku akan menjadi bagian kaum yang tersesat. Inilah paswordnya, untuk login ke dimensi lanjutan. Segera raihlah tingkat pasrah, bergeraklah dengan seluruh rasa

lalu, lepaskan budi, lepaskan Ilmu, bergegas pasrah kepada Tuhan..

Biar lewat petunjukNya, kita diarahkan sesuai dengan kehendakNya..

salam Darussalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s