Jaturampe

Beranda » filsafat » Islam Jawa Rasa Ice Cream

Islam Jawa Rasa Ice Cream

Follow Jaturampe on WordPress.com

Sluku sluku bathok, bathoke ela-elo…bathoke ela elo,

Si Rama menyang Solo.. oleh olehe payung motha,

Mak jenthit lolo lobah.. wong mati ora obah ,

Yen obah medeni bocah..yen urip goleka dhuwit

Siapa sih orang jawa yang tidak kenal lagu ini? rasanya, sedari kecil, orang tua kita senantiasa menembangkan lagu dolanan itu kepada kita, dan hati  menjadi ‘ayem tentrem’ kemudian tertidur dalam pelukan sang ibunda. Tapi siapa sangka ada makna yang dalam mengenai isi lagu ini ( ini menjadi ciri khas para nenek moyang kita, jika menanamkan kebijakan senantiasa memakai simbol-simbol yang biasanya tidak bersifat menggurui). Sampai sekarang, banyak yang menduga, lagu ini salah satu karya Sunan Kali Jaga..

Menurut sesepuh dan pinisepuh orang Jawa makna lagu ini adalah sebagai berikut:

Sluku sluku bathok, bathoke ela-elo…bathoke ela elo

(suluku suluku batinuka, batinuka la ilaha ila llah…jalankanlah hatimu yang senantiasa mendzikirkan lafadz la ilaha ila llah)

Si Rama menyang Solo.. oleh olehe payung motha

(suatu saat, kitapun akan pergi menuju Tuhan yang Satu, maka persiapankanlah dengan mendawamkan dzikir ini, mumpung masih ada waktu, insyaallah  senantiasa berada dalam payung – perlindungan -dari Nabi Muhammad SAW dan Tuhan)

Mak jenthit lolo lobah.. wong mati ora obah, yen obah medeni bocah

(dalam melakukan dzikir ini usahakan memusatkan perhatian pada Tuhan yang Esa, tanpa gerak, baik gerak tubuh, gerak pikir ataupun gerak khayal, biasanya diserupakan dengan keadaan orang yang mati)

yen urip goleka dhuwit

(namun, jika pagi datang menjelang, maka bekerjalah dengan hati yang sungguh-sungguh..dan tidak lupa dengan dzikir dalam hati/ dzikir khafi)

Maka, di zaman modern ini, kadang Kearifan lokal, (baik ajaran penduduk asli Jawa maupun ajaran para Walinya) -yang sangat lembut dan jauh dari kesan menggurui, masih sangat kita butuhkan, karena kadang beberapa kyai zaman sekarang hanya menekankan muatan agama yang cenderung saklek atau kaku..bahkan tanpa segan segan menambahkan bonusnya, yakni : budaya Arab..

mungkin ada pembaca yang ingin memberi tambahan arti dari lagu ini, sumonggo…

(pernah diposting di Kompasiana)


2 Komentar

  1. Mbah kembar mengatakan:

    Krang jelas

  2. jaturampe mengatakan:

    hehehe, terimaksih kunjungannya mbah kembar..

    maksud dari tulisan itu hanyalah cara dakwah dari wali/kyai jaman dulu itu sangat-sangat lembut, terkesan tidak menggurui dan tidak memakai bentuk pentungan, tetapi lewat budaya, baik lewat cerita ringan,nyanyian-nyanyian , yang ditembangkan ketika anak-anak kecil beranjak tidur. Bahwa nyanyian sluku-sluku bathok itu mengajarkan tentang (bekal) perjalanan hidup yang senantiasa mengisi hati dengan zikir la ilaha ilallah, dan ketika sudak tidak ada kegiatan/kerja..dzikrnya disertai dengan ketiadaan gerak (semadi) dan hanya memusatkan perhatian semata pada “pencarian” Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s