Jaturampe

Beranda » filsafat » Megat Ruh Rock n Roll!

Megat Ruh Rock n Roll!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Istilah megatruh berasal dari kata megat  (memisahkan, berpisah, seolah-olah berpisah sementara) dengan ruh. Kata ini  sangatlah populer di Jawa. Lalu njur ngapa? Bukankah asal mula ruh itu tiupan dari Tuhan ?njur mengapa harus dipegat?Memang ada-ada saja kok orang Jawa ini! Aeng..aeng!Tapi begitulah, penduduk jawa, selain terkenal  keunikan keyakinannya, juga terkenal didalam menggali dan memadukan kata. Menurut pendapat para ahli Jawa, istilah ini lumrah untuk mengganti makna “Berbadan Ruh”. Makna hakiki dari manusia. Nyatanya, ada saja to warna dan swasana di alam mimpi? Bukankah kita benar-benar ada di dalam alam mimpi , walaupun raga kita berbaring di ranjang?Hmm..hmm..hmm, benarkan, kang? bahkan hal yang tidak mungkin kita lakukan di alam nyata ternyata terjadi di mimpi, pernah to?

Lalu apakah ini maksud dari para leluhur kita? supaya kita terus hidup di alam mimpi?berimajinasi melupakan gerlap dunya?Weeittts…tentu saja tidak. Arah dan kompas jawa itu justru berharap orang-orangnya turut meramaikan jagad demi keselarasan antar berbagai kutub, memayu hayuning bawana, yang berarti, sifat dan karakter seyogyanya lentur pada apapun tarikannya, baik tarikan politik, agama, filsafat, maupun hal krusial lainnya. Yang penting harmonis Jeng! begitu kata mbokdhe Paijah.

Tetapi bila tiba  malam, jangan ditanya lik, wong-wong Jawa akan bersemadi, mencari kesunyian, menghirup hakiki, melepaskan segala sesuatu yang mengikatnya. Dibebaskannya beban dan tanggungan, baik kerlap dunya maupun kerlip pikiran, semata hanya puja untuk TuhanNya.

Lalu, mengapa orang Jawa sekarang (seakan-akan kehilangan jawanya)? apa gerusan  teknologi, modernitas pula globalisasi meluluh lantakkan segala bangunan filosofi Jawa? Apakah makanan dunia internasional telah meracuni perut kebijaksanaan?Tentu tidak kawan! Orang Jawa itu selalu menerima kemestian alam, lalu mencoba beradaptasi pada perubahan itu, lha tapi jangan tanya, bila mereka sudah mahir beradaptasi, wuihh…dilalaplah modern itu, digoreng kemudian dicampur dengan falsafah jawanya, hingga menjadi tampilan baru, yang kadang berbeda dengan makna mulanya. (di sini agama adalah contohnya) hmmm…hmmm.

Simpelnya, orang Jawa itu laksana musik Rock n Roll. Senantiasa hadir meski ada banyak   perubahan alunan, sesekali menghilang, kemudian mecungul. Sekarang boleh saja R&B laris manis, boleh saja musik India bernehi nehi, boleh saja folk song lekat di telinga, jazz berhebles heblez, namun akan ada suatu masa  Tembang Macapat  dan maknanya akan kembali lantang terdengar dan mulai akrab ditelinga anak cucu Jawa.

Megat Ruh, megat berarti berpisah, memisahkan diri (dengan sengaja) namun itu hanya suatu upaya sementara. Bukankah ketika kita berpisah dengan pacar atau isteri, keberadaan kita akan lebih dimaknai, lalu begitu bertemu, weeee, jangan ditanya lik, hujan peluk dan ciuman akan mendarat di pipi dan jiwa kita to? lalu akan ada asmaradahana yang dahsyat kan?hehehehe

sayup terdengar pelog pathet nem mengalun..

Duh duh Dewa, bathara ing Jawata gung, mugi paringa aksami, mring daksih kang kawelas sayun….

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s