Jaturampe

Beranda » Jawa » Pitutur Jawa Itu Palsu!

Pitutur Jawa Itu Palsu!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Pernahkan sampeyan mendengar pitutur jawa mengenai Pandam, Pandum, Pandom dari Kitab Wedhatama karya Mangkubumi IV? Jika pernah membaca berarti sampeyan termasuk melestarikan petuah para leluhur, hehehe, tetapi jika belum, maka akan saya ringkaskan, walau memakai bahasa gaul dan seadanya, pula pendapat  bebas tidak 100 persen sesuai teks..

  1. Pandam berarti dilah, penerangan, atau lampu. Dimana teks aslinya berbunyi (sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning jiwangga, yen mangkono kena disebut wong sepuh, liring sepuh sepi hawa, awas loro ning atunggil) dimana mempunyai saya tafsiri sebagai berikut: sesudah mendapatkan wahyu dari Tuhan,  segeralah mengolahnya dengan menjalankan kebaikan tersebut, karena ngelmu (angel ketemu)/ ilmu pada hakikatnya adalah  bagaimana cara kita menghayati (menghidupkan) dalam kehidupan. Memerintah diri untuk menahan diri dari segala goda nafsu yang tidak utama. Yang begini bisa disebut orang yang tercerahkan (sepuh) karena awas dan waspada terhadap goda pula dapat membedakan dua wajah namun hakikinya juga satu.. (ini berhubungan dengan falsafah jawa mengenai keyakinan kepada Tuhan)
  2. Pandom: Pedoman : mengenai hukum alam. Dimana teks aslinya berbunyi (mangka kantining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi mring sangsaya, yeku pangreksaning urip) tafsiran bebas saya adalah sbb: maka dengan tumbuhnya sebuah kesadaran, sadar tentang makna hidup dan kehidupan, bahwa intisarinya adalah awas, waspada, senantiasa dan ingat. Ingat tentang makna hidup sejati untuk keelokan kehidupan, menjadi penggerak/poros hidup sebagai Khalifah Tuhan, dan senantiasa menjaga hidup untuk berbuat keselarasan keadaan kehidupan.
  3. Pandum : ukuran/takaran. Dimana teks aslinya sebagai berikut: (Mangkono mungguh ingsun, ananging ta sarehne asnafun, beda-beda panduk panduming dumadi, sayekti nora jumbuh, tekad kang padha linakon) yang saya tafsiri sebagai berikut, Begitulah pendapat saya, tetapi karena didalam menjalani hidup untuk sebuah kehidupan akan  banyak menemui tantangan maka perbedaan ukuran tadi akan menjadi keniscayaan, yang tentu saja berbeda takarannya pemaknaan hidup. Namun semua ini kembali kepada semangat untuk menjalaninya, pamrih melakukan bakti itu.

Begitulah teman, pitutur dari leluhur-leluhur kita. Sebuah petuah yang biasanya berupa tembang/lagu. Jadi ada semacam irama, dendang yangakan masuk ke dalam hati , mengurat dan mengakar di dalam jiwa bahkan sampai ke dasarnya. Hmm..kalau begini Pitutur Jawa itu Palsu (Paling Sueger) jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, hehehehehe

Sampeyan setuju?

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s