Jaturampe

Beranda » Agama » Inilah Tauhid Para Pemuja Cinta?

Inilah Tauhid Para Pemuja Cinta?

Follow Jaturampe on WordPress.com

Pernahkah engkau mendengar kisah pertemuan para sahabat ketika bertemu di Tsaqifa Bani Sa’ida? Ya..pertemuan ini bermula ketika ada berita tentang kematian Sang Manusia Agung, Nabi Muhammad SAW. Dari perjumpaan itu, terpetik hikmah yang teramat dahsyat untuk selalu dikenang, sebab masing-masing jawaban dari para sahabat tersebut, menjadi sumber inspirasi para sufi hingga hari ini dan hal itu kemudian dapat menilik  kadar kecintaan dan ketauhidan para pencari Tuhan.

Kejadian ini bermula ketika ada beberapa orang yang pergi menemui  Sayidina Ali Ra (ukuran jawaban tersebut nanti akan  dijadikan rujukan untuk pemilihan khalifah), tentang pendapat pribadinya terhadap Tuhan,   dan bertanya, “Bagaimana pandangan anda tentang Tuhan?” Sayidina Ali kemudian menjawab, “Aku tidak melihat sesuatu melainkan Tuhan semata” (man raitu syai-an illa raitullah). Kemudian mereka mendatangi Utsman. Dan Utsman bin Affan menjawab, “Aku tidak melihat sesuatu melainkan Tuhan di belakangnya. Rombongan tersebut mendatangi juga Umar, dan Umar menjawab, ” Aku tidak melihat sesuatu melainkan aku melihat Tuhan di depannya.” Karena masih belum puas akhirnya rombongan tersebut mendatangi Abu Bakar, kemudian mendapat jawaban, ” Aku tidak melihat sesuatu namun aku melihat Tuhan bersamanya.

Secara tata nilai Cinta, jawaban Sayidina Ali lah yang menunjukkan kepenuhan cinta, sebab cintanya meruah hingga memenuhi segenap nadi kehidupannya. Tuhan menjelma menjadi sesuatu gerak terus menerus, baik dalam geliat pikir maupun gejolak hati. Ruang di setiap sel-sel darahnya menjadi ungkapan kekagumannya akan Keindahan dan Keagungan Tuhan. Pencarian yang tiada pernah usai, dan tarikan itu begitu indah. Lalu apakah jawaban dari sahabat lainnya menjadi kurang kadarnya? Tentu saja bukan, menurut saya hal itu hanya sekedar clue dari Tuhan sebagai Sutradara Sempurna yang ingin menunjukkan tahapan-tahapan didalam merinduiNya. Bukankah Sang Sutradara membutuhkan pemain-pemain untuk mementaskan pertunjukan akbarnya?hehehe.

Secara tata nilai pengelolaan kehidupan jawaban dari Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki jawaban yang sangat mengagumkan, ini dikarenakan mengharmonikan segala sesuatunya. Baik tarikan untuk kehidupan maupun tarikan hidup itu sendiri. Maka wajar jika akhirnya Abu Bakar dijadikan Khalifah pertama pengganti Nabi Muhammad SAW.

Bagaimana jika pertanyaan itu dipertanyakan kepada kita?hehehe, mungkin akan ada bermacam-macam jawaban. Bagi Konglemerat jawabannya mungkin” Aku tidak melihat sesuatu selain proyek-proyek besar,” bagi pekerja seks komersial mungkin akan menjawab, “Aku tidak melihat sesuatu melainkan uang dan kemaluanmu.” Bagi koruptor mungkin akan menjawab,” Aku tidak melihat segala sesuatu melainkan celah-celah.” Bagi salesman mungkin akan menjawab, ” Aku tidak melihat segala sesuatu melainkan anggukan dari pelanggan.” Bagi seorang peminta-minta mungkin jawabannya adalah, “Om, beri sedikit rejeki”

Lalu bagaimana jawabanmu, hai Jaturampe?

Aku akan menjawab ” Rabbana aamanna fak tubna ma’asy syahidiin!

boleh dong..!kalau jawabanmu apa, hayooo!

 

 

 


5 Komentar

  1. Titi mengatakan:

    Pandangan ku tentang Dia ?
    Ketika aku ada DIA tidak ada
    Ketika DIA ada aku & semua lenyap
    Itulah pengalaman ku

  2. Titi mengatakan:

    sama sama mas Budi
    aku yo seneng kok ke blog nya mas Budi, paling tidak ada yang melestarikan dan menggali falsafah2 Jawa yang memang sangat sarat makna

  3. Ode Sukiman mengatakan:

    perjalanannya dah bagus, tapi “DIA” berarti belum mengenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s