Jaturampe

Beranda » Agama » Diskusi Warung Tuhan (bag 1)

Diskusi Warung Tuhan (bag 1)

Follow Jaturampe on WordPress.com

Jaturampe

Malam yang sungguh menarik, tepat malam Jumat Kliwon dimana kubawa diriku mengunjungi warung dipinggir jalan itu, warung ini hanyalah salah satu warung yang  remang-remang, dengan bola lampu 10 watt yang hanya dapat menyorotkan wajah-wajah sederhana para kaum petani di desa. Sesampai di sana, kujumpai para pelanggan tetapnya, penduduk lokal penghuni kampung sebelah, bermuka cerah.

Seperti menjadi kebiasaan, tema malam Jumat Kliwon ini mereka akan membahas tentang rahasia-rahasia Tuhan. Dan itu menjadi topik yang juga jadi kesenanganku, ya..sekedar up grade pengetahuan maupun sekedar ikutan nimbrung. Pertama ku jumpai Mas Topan, seorang pekerja PLN, Wakhidun penggiat seni rebana, Mustopa wirausahawan sukses, Pak Kambali pensiunan PNS  yang masih semangat mencari jalan kembali, juga ada si Kelik sang seniman gendheng. Dibalik  rutinitas pekerjaan tetapnya, mereka semua juga masih berjibaku di sawah, ya..sekedar melestarikan budaya nenek moyangnya yang juga petani.

” Hayo, siapakah Tuhanmu itu, ungkapkan dengan apapun yang kau rasa, kau ketahui maupun kau pahami. Di sini tiada ada guru atau murid, yang ada adalah para pencari yang sama-sama saling rindu”? tanya mas Topan selepas minum kopi bikinan Mang Harja -sang pemilik warung-, seluruh orang menatapnya dengan pandangan kaget.

” Ah, Tuhan itu adalah Dzat yang Agung, sulit untuk dicari, kadang memanggil kadang pula menghilang, ini bagai judul film Kejarlah Daku Kau Kutangkap, hehehe,” kata Kelik, seniman senewen itu

” Bagiku, Tuhan adalah seperti yang tertuang dalam hadits bahwa Aku adalah harta yang tersembunyi, dan mencintai untuk diketahui, jadi selama kita mencintaiNya maka beliau akan selalu dekat dengan orang yang juga mendekat, Dia berlari pada orang yang juga berjalan kepadaNya,”kata Pak Kambali sembari sesekali menyedot rokok kreteknya.

“Wah, ujaran yang berat semua nih kalau menurutku, Tuhan adalah pemegang saham tertinggi dalam perusahaan, dan kita adalah salesnya, yang mengabarkan tentang produk-produk unggulannya, jadi selama kita menjual barangnya yang kita titipkan maka Tuhan akan menggantinya dengan kembalian berlipat, jadi ini menjadi semacam jual beli yang terbuka,” kata Mustopa

” Weits, ini Tuhan kok disamaratakan dengan pemilik saham dan makhluknya menjadi salesnya to, Lik? wahhh..pikiranmu ini penuh dengan angka-angka, entah untung atau rugi, balasan atau ganjaran, surga atau neraka, awas ini berbahaya lho, Mus!begitu harapanmu tidak tercapai maka manusia bentuk inilah yang akan memprotes Tuhan, lalu memprotes seluruh manusia yang tidak cocok dengan arah pikirannya.” ucap Pak Kambali mencegat omongannya Mas Mus.

“Tenang…tenang saudara, obrolan ini harus dengan pikiran dan hati yang penuh mengharapkan petunjuk, bukan sekedar silang pendapat memperebutkan mana kebenaran diri masing-masing, sesuai dengan pertanyaan saya tadi, berilah ungkapan mengenai TuhanMu, yang merupakan pengenalanmu terhadap DiriNya, ini tentu saja satu sisi berbeda dengan lainnya, satu sisi janganlah menyalahkan sisi lainnya, bukankah perbedaan adalah rahmat?” Celetuk mas Topan mencoba melerai sedikit kusir yang oleng. “Sekarang coba ungkapkan pendapatmu Dun Wakidhun, bukankah dirimu pernah nyantri di Ponpes, pastinya sisi darimu akan bisa juga menambah pengetahuan di obrolan ini!”

Terdengar suara dehem yang keluar dari mulut Wakidhun, seorang musisi rebana. Sepertinya ia akan mengeluarkan pendapat namun tercekat entah dibagian titik mana. Pengunjung warung hanya bisa menunggu, sesekali menyeruput kopi yang sudah hampir habis. Akupun mulai memesan pisang goreng, rasa lapar dalam hatiku serupa dengan laparnya ruhku akan pengetahuan tentang Tuhan. Aku mendengar suara mendesis, hmm..nampaknya mas Wakidhun mulai akan bersuara.

Minal hay al ladzi layamut bid dzat, illa hay al ladzi layamut bil irdh, dari dzat yang Maha Hidup ke yang hidup dan tidak akan mati, karena percikan karuniaNya” kata mas Wakidhun memecah suasana malam jumat itu, lantas iapun kembali diam membatu.

“Coba berikan keterangan-keterangan tambahannya, lik, jangan beri kami kabar namun kami hanya menangkap kulitnya saja, apa maksud dari Maha Hidup, apa maksud Yang hidup,biarkan sandiwara abadi ini terbuka lebar, kita menjadi tahu, mana sutradara agungnya mana pemainnya, dan mana peran antagonisnya, ingat jaman sekarang ini, keresahan sudah mencapai ubun-ubun, entah itu masalah ekonomi, politik bahkan agama, jangan biarkan informasi yang mas miliki menjadi sekedar pengetahuan saja”? kata mas Kelik

” Dialah Dzat yang Agung dan Indah karena kesempurnaannya, karena rasa kesepian dan keinginan untuk diketahui maka Tuhan meniupkan RuhNya kedalam Adam (ketidakberadaan) lalu Tuhan juga mengenalkan Asma-Asma IndahNya,  amanat ini diterimanya dengan gagahberani, meski harus menjalaninya lewat tamsilan, tetapi intinya Adam gagah berani, bagaimana mas Wakhidun, apakah jawaban saya segaris denganmu, untuk meneruskan penjelasanmu”? sela Mustopa

Malam semakin bertambah, sepertinya angin ditawan oleh bulan yang mengintip dari balik gemawan. Burung gagak berteriak hampir berbarengan dengan suara perkutut milik Mang Harja.

 

BERSAMBUNG


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s