Jaturampe

Beranda » Agama » Cita dan Cinta Terselempit Dalam Kitab Bonang

Cita dan Cinta Terselempit Dalam Kitab Bonang

Follow Jaturampe on WordPress.com

Salah satu kitab kuna yang banyak jadi pembicaraan dan rujukan kaum esoteris Jawa adalah Kitab Bonang/ Het Boek van Bonang (buku ini pernah diteliti dan dikaji secara serius dan mendalam  oleh Schrieke). Kitab yang berisi uraian mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Dalam kitab ini dijelaskan Ketunggalan Tuhan secara baik-baik. Ia tetaplah pencipta yang tidak akan berbaur dengan ciptaanNya. Banyak istilah isk, asik dan ma’suk yang sering dijabarkan dengan cinta kasih, dimana obyek dan subyeknya adalah Tuhan jua. Ini merupakan bentuk pengingkaran terhadap ajaran pantheisme yang mengajarkan bahwa Tuhan sederajat manusia, meski tak dipungkiri ada banyak kemenduaan istilah, yang perlu penjabaran lebih lanjut. Dan ini merupakan keasyikan dan keindahan sasta mistik pada umumnya. Syeikh Bari’ mengatakan:

..” Ingun anekseni satuhunu anging Allah kang asifat asih anyeteni tan antara sapolahing kang sinihan ameruhi sih nugrahanira dadi nir ananing kang sinihan, tansah anut ing sihing dzatullah” mangka matur rijal ing Syaikh al-Bari, ” Anenggeh ta reke asiking jiwaraga puniki sarta lan sih nugrahaning pangeran?

Mangka akecap Syaikh Al- Bari, “E, Rijal, iya ujarira iku maksih amilan paekan, ingsun ta, Rijal, ora mangkono, osiking jiwaraga iku enir, anging dzatullah kewala kang angendah anirnaken ananing  kang sinihan ika.”

(Aku bersaksi bahwa sesungguhnya, hanya Allahlah yang dalam CintaNya tanpa putus-putus, membagikan kenyataan kepada sang kekasih dalam segala tingkah lakunya serta memenuhinya dengan kasih karuniaNya, sehingga adanya kekasih itu lenyap dan selalu mengikuti gerak gerik Dzat Illahi. Lalu berkatalah seseorang kepada Syaikh Al- Bari, ” Jadi ini berarti gerak gerik badan dan jiwa sama/serasi dengan kasih kasih karunia Tuhan.”

Kemudian Syaikh Bari menjawab, “E, Rijal (sebutan untuk seorang laki-laki), bila kau mengatakan demikian, engkau masih menerima adanya kejamakan dalam keesaan. Aku tidak berpendapat demikian. Gerak gerik jiwa pada manusia yang dikasihiNya  lenyap dalam Dzat Illahi meleburkan jiwa itu.”

Sekali lagi, isi dalam Kitab ini membutuhkan tuntunan guru/mursyid yang berpengalaman dalam hal yang nyata, bukan hanya kepintaran dalam hal yang berasal dari buku  nir laku, tetapi butuh pengalaman yang nyata mengenai rahsa dan rahasya. Hanya sayangnya di zaman sekarang para guru sufi ini lebih memilih “bersembunyi.” Kalaupun menampak, mereka hadir dalam bentuk-bentuk yang tiada dapat diduga (bisa berupa seorang petani, nelayan, pengusaha maupun tampilan-tampilan, yang banyak mengecoh masyarakat. Jikapun kehadirannya diketahui oleh banyak orang maka para guru sufi ini kemudian memilih  meninggal (ini bisa diartikan mati atau pura-pura mati dan kemudian muncul di tempat lain, dengan pergantian nama juga pergantian wajah). Untuk itu, jika teman-teman punya info atau malah mengetahui keberadaan para Tokoh Kuno, segera hubungi saya, sehingga kita bisa bareng-bareng meguru kepada Beliau, hehehehe…maklum, zamannya sudah keriput.

Salam darussalam,

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s