Jaturampe

Beranda » Jawa » Kesejatian Jawa Yang Terungkap

Kesejatian Jawa Yang Terungkap

Follow Jaturampe on WordPress.com

Berpijak dari kata Jawa “Mulih marang jatine” ataupun kata mulih marang mulanira, hakikatnya berarti kembali kepada awal muasalnya. dan itu  adalah sebentuk kata yang menyeruduk, dalam arti banyak memengaruhi sebagian besar penghuni Jawa. Yup..semua pasti kembali, tetapi kembali ke mana? Nah itulah yang menjadi persoalan, namun jangan gentar sebait firman dari Tuhan sudahlah mampu menenangkan diri, bahwa ” Semua yang berawal dari Tuhan pasti akan kembali ke Tuhan. Persoalannya adalah surga dan  neraka juga bagian dari tiupan nafas Tuhan, kan? Apakah tempat itu merupakan hunian sejati kita? Eng..ing..

Dalam ajaran  di Kitab Bonang diuraikan bahwa Manusia adalah Adam Nakirah dimana ini berarti ada ataupun tiadanya tetap bergantung pada AdaNya, dan ini bukan berarti ada yang kembali ke tiada sebenarnya yakni kosong, sunya, lekas tanpa bekas.  Istilah dalam kitab itu disebut Adam Jinis.

Memang memerlukan kehati-hatian dalam mengarungi  pengetahuan di kitab ini sebab bahasa disini tidak vulgar sevulgar kitab jawa lainnya yakni, Serat Hidayat Jati, tetapi saya percaya  keduanya adalah hal yang saling melengkapi, dimana satu sisi kita memerlukan keterus terangan di sisi yang lain, indahnya meruah sebab ada nilai yang berhias sastra. Mungkin hal ini sesuai benar dengan falsafah dasar Jawa yakni, seimbang atau harmoni.

Dalam Tuhan tiada ada bayangan, bahwa diriNya Ada karena AdaNya sendiri, sementara dalam makhluk ada dan tiadanya bercampur. Hmm…berkunang-kunang dan mengernyitkan dahi?hehehe, tenang bos, sabar. Nah ini, ” Manusia yang menyadari ketiadaannya segera menyingkir untuk memberi tempat kepada Tuhan.” Ini bisa diartikan dengan hati yang senantiasa memikir dan mendzikirkan Asma, Shifat dan Af’al Tuhan. Petuah dari jawa membahasakannya sebagai berikut, ” Liar sirnanning lintang selangit, ketiksan dening surya, aja sala tunggu, sileming sakehe lintang, ora yen dadio surya pan mustakil.” (terjemahan bebasnya) bagaikan lenyapnya bintang-bintang di langita bila disinari oleh matahari, namun lenyapnya bintang-bintang tersebut bukan berarti bahwa mereka menjadi matahari, itu kan mustahil, Mo!hehehehe

Segala ada yang tercipta menunjukkan adanya Tuhan dan dalam semua makhluk, Tuhan dapat dijumpai. Inilah falsafah Jawa yang adiluhung itu, maka wajar jika para leluhur kita senantiasa mencoba untuk tetap berada di tengah, harmoni dan selaras baik antar manusia, agama, ras maupun tarikan-tarikan apapun.

salam darussalam,

 

 

Iklan

6 Komentar

  1. Heru Purwanto berkata:

    saya bangga jadi orang jawa :)

  2. Titi berkata:

    Lha sak durung e Hindu, Budha, Islam teko , leluhur leluhur mbiyen yo wes paham ” sekolah urip “. Adohhhhh sebelum Hindu Budha teko nang Nusantara, Menungso Nusantara malah wes jago jago ma’rifat hahahaha

  3. fishin 2 go full berkata:

    I like Your Article about Kesejatian Jawa Yang Terungkap | Jaturampe Perfect just what I was searching for! .

  4. liberty reserve berkata:

    I like Your Article about Kesejatian Jawa Yang Terungkap | Jaturampe Perfect just what I was looking for! .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s