Jaturampe

Beranda » Agama » Allah Itu Wujud atau Tidak Wujud, Sih?

Allah Itu Wujud atau Tidak Wujud, Sih?

Follow Jaturampe on WordPress.com

Siapa yang tidak kenal Ibn Ghazali? Seorang pembaharu di agama Islam. Beliau banyak dikenal bukan hanya ulama, tetapi beliau juga  seorang filsuf, penulis buku, dan seorang yang dihormati beragam masyarakat lintas  negara dan agama. Banyak buku yang tercipta dari tangan beliau salah satunya adalah Ihya Ulumuddin (kebangkitan agama) dan juga Miskah Al Anwar. Beliau  mempunyai banyak minat terhadap cabang-cabang ilmu, entah itu Fiqh, mantiq, dan ushuluddin.

Di sini saya tidak akan banyak menyinggung sejarah atau kehebatan-kehebatan beliau, karena banyak situs atau blog yang terus dan selalu memperbincangkan sepak terjangnya. Saya hanya menyorot perkataannya yang terdapat pada buku Misykat Al Anwar yang di dalamnya, beliau mengatakan bahwa sesungguhnya “Penggerak segala sesuatu bukanlah Allah, tetapi Wujud.” Wujud yang dalam penggambaran beliau adalah wujud yang dipatuhi (Al-Mutha’) yang sifatnya dibiarkan susah dimengerti. dan ini menjadi pertanyaan saya.

Menjadi satu pemakluman karena seringkali Ibn Ghazali ini mempelajari ajaran-ajaran kaum sufi (meskipun tidak semua ajaran ia setujui) hingga beliau sering dijadikan standar tengah (penyatu) antara kaum ulama dan kaum sufi. Beliau lebih sering merujuk pada karya-karya Junaid Al Baghdadi dan juga Bayazid Bistami.  Nah, pertanyaan saya terhadap tadi begini, ” Jadi adakah sang “Wakil” yang mengatur lalu lintas alam ini (yang namanya beliau sebut sebagai “Wujud?”) Lalu kemana perginya Sang Pemilik Segala? Wuih, rasanya kata pergi tidak cocok ya? Oke, lalu di mana Tuhan?

Apakah Wujud tadi adalah sebentuk idzin dari Tuhan agar semua makhluk/alam mengenal beliau? ini berhubungan dengan firmannya tentang sebuah harta yang tersembunyi, dan cinta untuk diketahui? Atau jangan-jangan Tuhan ini kemudian melingkupi segala ada, tetapi sesungguhnya Dia tidak ada batasan, sehingga penampakannya merupakan sebuah wujud yang bentuk salah satunya adalah ilmu?Apakah wujud ini adalah makhluk ataukah bagian dari Tuhan?

Banyak juga referensi dari Kitab Jawa yang menyatakan bahwa Tuhan wujud dalam  Nur dan Ilmu dan Sir Jamal dan Jalal. Demikian juga pelajaran-pelajaran di sekolahan yang mengatakan tentang Sifat Wajib Tuhan yang ada 20.Tetapi bagaimanapun yang wajib itukan baru dalam penafsiran manusia sendiri to?

Tuhan adalah misteri yang tiada pernah habis, bahkan ratusan juta kata tiada sanggup melingkupi Ilmu dan wijudNya. Namun itu bukan berarti kita membatasi diri untuk berhenti dalam mencari dan merenunginyakan.


10 Komentar

  1. alid abdul mengatakan:

    wah ini bisa pertanyaannya nanti jadi begini “Allah itu ada gak sih?”
    gak ikut ikutan ahhhhhhhhhhhh *ngaciirrr

  2. Titi mengatakan:

    Sebenarnya di katakan ” wujud ” juga sulit mas Budi. Tidak bisa di jelaskan pakai kata kata soal nya hahaha. Kata kata dan panca indra itu kan hanya utk hidup di dunia, cari makan, meneruskan keturunan dan temen temennya ( urusan dunia lah pokok nya ) , sedangkan pengetahuan ttg Dia itu sendiri kan alam yg tinggi ( pengalaman ruhani ), ketika pengetahuan ruhani di bawa ke ranah materil ya sulit di jelaskan.
    Kalau saya sih berdasarkan pengalaman adalah demikian :
    1. Dia maha dekat, sangat dekat sebagaimana UDARA..kebayang kan gimana ? jadi BUKAN seperti urat leher lagi malahan…saking dekat nya.
    2. Dia juga maha jauh, artinya utk sampai kesana ya memang bener bener jauh, butuh bensin / kebaikan jiwa / kemurnian jiwa yang tinggi yang bersumber dari hati ( terbuka nya hijab )
    3. Dia ada dimanapun kita palingkan wajah kita ( balik ke contoh analog nomer 1 )
    4. Dannnnnnnnnnnn…. yang di sebut sbg Dia itu sendiri sebenarnya ya bukan dia ( merujuk nomer 1 – 3 )
    5. Cahaya Nya terpecah pecah dalam tiap ciptaan Nya, ini klimaks nya. Kembali ke nomer 1 – 4
    Muter muter ? IYA karena tidak ada satu mobil pun yang mampu menjawab siapa produsen nya, dsb. Tapi orang orang yang membuat mobil itu tahu produk nya. Demikianlah analog nya
    Sulit memang di jelaskan , harus di alami. Sama spt seseorang yg bertanya rasa panas itu spt apa ? ya penjelasan nya banyak, tapi si penanya tetap belum mengalami menyentuh panas itu sendiri. Binggung ? wes nyuwun supoyo ngalami wae mas.
    Salam

    • jaturampe mengatakan:

      mbak Titi memang all around, kaya pengalaman dan suka gojek juga seperti saya, hehehe, terimakasih lho mbak..

      hmm, kayaknya di kompasiana sekarang mbak Titi banyak penggemarnya ya, kulihat kemarin banyak yang komen di sana, selamat ya mbak..

  3. Titi mengatakan:

    ah ora kok mas, di kompasiana itu bukan buat bicara yg dalem dalem. tulisan ku itu di buka buat RUANG CHAT hahahaha
    dadi ora perlu sampeyan gawekne selametan , mbuang mbuang duit , mendingan sini duit nya kasih aku aja hahahaha

  4. Hendry Ferdinan mengatakan:

    Allah adalah satu-satunya Tuhan Sang Pencipta, Hakim dari seluruh makhluknya, Maha Kuasa, Maha Penyayang,,,harus percaya ada nya Allah..

    • jaturampe mengatakan:

      saya sepakat mas, hehehe
      yang saya tanyakan hanya seberapa besar wujud dan cinta kita kepada Tuhan, atau jangan-jangan hanya mulut dan gerak badan kita yang pura-pura, ataukah bersama batin kita mencintaiNya? meski, cinta atau tidak cinta kita, Tuhan tetap seperti adanya, hehehe
      begitu mas Hendry..
      salam darussalam

  5. Titi mengatakan:

    Cinta kepada Nya tidak dapat di lakukan kecuali DIA sendiri yang menempatkan cinta itu di hati kita. Cinta kepada Nya sebesar 1/2 semut saja merasuki hati, maka sekalipun tubuh terpotong maka tidak akan merasakan sakit apapun

  6. Tato Sugiarto mengatakan:

    Q.S. 57 AL HADIID 3: “Dialah yang awal dan yang akhir, yang zahir dan yang batin, dan Dia mengetahi segala sesuatu”.

    PARADOX tersebut akan kita pahami kalau dihubungkan dengan “wave-particle dualism”. Ini dijelaskan melalui Ibadah HAJJI, dalam kondisi zahir DIA ditampikan melalui situs dan ritus Thawaf dan Sya’i (sembah raga), dalam kondisi batin dihayati melalui Wukuf di Arafah (sembah rasa). Candi Borobudur menggambarkan kondisi paradox tersebut melalui Triloka – Kama Datu, Rupa Datu, Arupa Datu. Analogi yang bisa dijelaskan secara ilmiah juga sudah diisyaratkan oleh para Wali Songo melalui pagelaran Wayang Purwo kisah “Dewa Ruci”. Siapa saja yang serius mengkaji agama secara utuh sebaiknya menjumpai “Sang Guru Sejati” yang mengajar Philosophia Perennis melalui Bumi Pertiwi.

    Kenyataan dan Kasunyatan tersebut seyogyanya dipahami oleh mereka yang berkecimpung dalam sains dan bisnis modern (visionary strategic thinking).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s