Jaturampe

Beranda » 2011 » April

Monthly Archives: April 2011

Nilai dan Kadar Cinta

Rasa-rasanya buku dari hasil karya Ibnu Ghazali adalah sebuah kajian yang sangat lengkap dan teramat layak untuk dijadikan pegangan dan sumber dari ilmu-ilmu tentang agama, meski sesungguhnya masih banyak juga mata air lainnya, seperti karya dari Syeikh Qusyairi, Ibn Arabi, Al Hakim, ibn athaillah dan lainnya, namun itu sifatnya sebagai pelengkap ketika tahapan demi tahapan dari tulisan Ibn Ghazali berhasil dipahami. Ihya ‘Ulumuddin menjadi master piece dari syeikh ini, hingga hampir sebagian besar umat islam mengenal bahkan menjadikan sebuah koleksi buku (hmm..meski harganya terbilang wow..dan masih menjadi langit bagi diri saya pribadi, maka satu-satunya jalan ya..menjadikan Perpusda sebagai sahabat akrab, hehehehe).

 

(lebih…)

Iklan

Wajah-Wajah di Sebuah Sore..

Ya..benar ada beberapa wajah cemas menampak dari balik keriangan anak-anak sekolah yang melewati diriku. Tatapan yang sayu tapi lebih tepatnya khawatir pula tidak percaya diri. Dari segala gesture badannya, seolah menjerit dan berteriak bahwa sudah teramat bosan dengan rutinitas/ aktivitas selama bulan-bulan ini, tapi bagaimana hendak menolaknya, toh kegiatan ini juga pernah dialami oleh kakak dan juga saudaranya yang lain yang juga pernah merasakan kalutnya menghadapi ujian.

Sempat juga menanyai mereka yang sedang bergerombol di samping gerbang sekolahannya. “Hm..bagaimana kegiatanmu hari ini, Dik”? kataku di sebuah siang. Mereka segera menukas dengan jawaban yang hampir serentak, ” Wah, remuk redam mas, setiap harinya kami harus melalap habis soal dan bermacam  ujian, lalu kami harus berakrab-akrab ria dengan angka dan hitungan yang cukup membotakkan kepala.” Aku pun terdiam, dengan sebuah senyuman yang sengaja kukulum agar mereka menatapku tetap sebagai orang luaran. ” Yup, begitulah hidup, ada teramat banyak ujian yang hendak mengujimu, dan ujian nasional ini adalah salah satu tonggak dari sebuah masa yang akan segera engkau masuki. Guru dan orang tuamu menitipkan segudang harapan di atas pundakmu, keinginannya melihat putra-putrinya sanggup menghadapi berbagai persoalan dan bukan menganggapnya sebagai sebuah beban tetapi adalah bagian proses hidup yang harus dilewati, dimana para muda-mudi adalah semangat yang menyala, bukan pribadi-pribadi loyo dan mudah menyerah, apalagi impoten dalam hal mencari ilmu. Sebuah keinginan yang juga merupakan bagian dari misi besar negara ini  dalam menghadapi berbagai dinamika yang menyertai perjalanan sebuah bangsa. Jangan sampai sebutan bangsa buruh selalu terus melekat.  Dari sudut mataku, kulihat anak-anak muda itu menatap dengan cukup antusias, dan ada sedikit pandangan yang seperti hendak menggerayangi setiap jengkal tubuhku. “Bapak seorang gurukah.” Akhirnya keluar juga pertanyaan yang sebelumnya hanya berupa sebuah gerakan-gerakan kecil. Aku menatapnya sembari senyum, “Bukan Dik, saya ini dulunya hanyalah seorang pemuda yang pernah juga merasakan kegundahan, sedang masa-masa itu, kulewati dengan hati yang cuek, karena setiap harinya sengaja kuabdikan diri pada semangat seni, entah musik, atau seni-seni lain, dan sekolah bagiku hanya sebuah neraka yang teramat tidak mengenakkan, tapi hidup terbukti tidak ramah pada mental-mental manja seperti mudaku. Ibarat sebuah kereta masa yang telah meninggalkanku ngungun dalam gersang dan kerlip hari. Dan sekarang aku seperti gundukan penyakit yang melengkapi sebuah masyarakat, terbelakang dan tak terbaca kota, jadi cerita hidup saya hendaknya hanya kualami sendiri, sedang nasib dan cerita hidupmu masih berada di ujung depan sana dan janganlah mengulang kisahku, bolehlah engkau belajar seni apasaja tapi jangan pernah lupakan untuk tekun juga belajar pelajaran sekolah lainnya.” Mereka manggut-manggut semacam daun yang dipukul air hujan. Salah satu dari mereka (yang mempunyai rambut bergelombang) tiba-tiba berkata, “Terimakasih nasihatnya Pak, kami bertambah pengetahuan akan masa depan kami sendiri, tetapi, setiap masa akan ada rajanya tersendiri, boleh jadi yang sekarang tetap menjadi seniman, lusa akan menjadi seorang guru kecil meski pada sebuah masyarakat terbelakang dan terpencil sekalipun, boleh jadi yang sekarang seorang musisi kelak akan menjadi seorang tentor yang akan menelorkan komposer-komposer handal, boleh jadi yang sekarang terbuang kelak ketika jalan hidupnya sudah ditemukannya akan menjadi sebuah karakter yang gigih, tidak mudah putus asa dan menjadi pelaku yang mengetahui dengan benar bagaimana mengatasi dan menjalani hidup ini.”

Ganti sekarang, akulah yang manggut-manggut, mungkin inilah salah satu kelebihan generasi sekarang, ketika ASI, Tajin dan susu instan dicampur dan dijadikan makanan ketika mereka kecil. Ada yang tiba-tiba berdesir dalam hatiku, sebuah kenyamanan yang serupa dengan pemuda pemula yang bertemu dengan kekasihnya, dimana cinta menjalar dan meruah penuh. Dan ini menjadi sebuah doa dan juga membentuk kata-kata semoga.

 

 

 

Negari Ini Butuh Banyak Peneliti, Lik!

Benar saja, sesungguhnya masih ada begitu banyak kebingungan  menghadapi  banyaknya penelitian yang baru-baru ini terjadi. Bermula dari hasil penelitian Profesor Aryso Santos yang mengatakan bahwa Indonesia adalah Benua Atlantis, setelah beliau mengadakan penelitian selama 30 tahun, sungguh ini menunjukkan sebuah penelitian yang membutuhkan waktu yang tidak pendek  sehingga tidak mungkin hasil temuannya tidak asal njeplak saja. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Dikelilingi oleh banyak gunung berapi (kalungan wesi – hasil terawangan Jayabaya)

Mengesampingkan kenyataan bahwa sampai hari inipun Atlantis (tambah Lemuaria) merupakan kajian yang masih menyimpan teka-teki, apakah benua ini dahulunya ada, ataukah hanya bualan dari para Filsuf (terutama Plato), paranormal dan juga pengamat dunia lama, tetapi isu ini merupakan kajian yang harusnya disikapi dengan gegap gempita dan semangat 45, mengingat dan menimbang sampai hari inipun negara Indonesia masih kurang peduli terhadap sejarahnya sendiri, hehehehe.

Maka tidaklah  aneh, dahulu sewaktu jaturampe sekolah, Islam pertama adalah Samudra Pasai, namun seiring dengan adanya penelitian-penelitian baru maka baru diketahui sekarang bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia  adalah Kerajaan Perlak, dan tidak menutup kemungkinan kerajaan Hindu pertama bukanlah Kerajaan Kutai (hmm..ada yang mengatakan Kerajaan Kandis, to?), wah..dari balik tumpukan tanah, gunung dan laut, negari ini merupakan kenyataan sejarah yang masih belum diketahui secara pasti.

Mungkin petunjuk, dengan beragamnya kosakata, bahasa, dan adat-istiadat yang ada, cukup melegalkan bahwa Indonesia adalah salah satu peradaban yang kuno, meskipun hal tersebut masih berupa tantangan yang harusnya dijawab dengan adanya sebuah penelitian yang bersifat besar-besaran dan dukungan dana yang tidak sedikit, hanya sayangnya, para pemuda di negara ini masih asyik untuk sekolah di bidang ekonomi lah, bahasa Inggris lah (hahaha, meskipun ada ungkapan bahwa ” sehebat apapun belajarnya, tetap saja masih kalah pemikirannya tentang ekonomi dengan dunia barat, lha wong mereka belajar kapitalis sejak lama, je) hahahahaha. Itupun masih bagus, yang lebih menyakitkan lagi, banyak pemuda dinegari ini hanya asyik dengan hahahihi dalam teknologi namun miskin pengetahuan tentang keadaan sekitar. Mungkin akan lebih mengasyikkan jika banyak pemuda yang kuliah di jurusan arkeologi maupun jurusan sejarah (dan ini didukung besar-besaran oleh pemerintah, dengan dibukanya beasiswa gratis tis tis) sehingga para lulusannya berupaya untuk mengadakan banyak penelitian dan akhirnya berhasil menguak kenyataan bahwa Bangsa ini adalah bangsa yang sangat dikagumi, dihormati sejak awal peradaban, bukan bangsa yang hanya dikenal karena para koruptor dan cukong cukong penghisap alamnya saja.