Jaturampe

Beranda » filsafat » Wajah-Wajah di Sebuah Sore..

Wajah-Wajah di Sebuah Sore..

Follow Jaturampe on WordPress.com

Ya..benar ada beberapa wajah cemas menampak dari balik keriangan anak-anak sekolah yang melewati diriku. Tatapan yang sayu tapi lebih tepatnya khawatir pula tidak percaya diri. Dari segala gesture badannya, seolah menjerit dan berteriak bahwa sudah teramat bosan dengan rutinitas/ aktivitas selama bulan-bulan ini, tapi bagaimana hendak menolaknya, toh kegiatan ini juga pernah dialami oleh kakak dan juga saudaranya yang lain yang juga pernah merasakan kalutnya menghadapi ujian.

Sempat juga menanyai mereka yang sedang bergerombol di samping gerbang sekolahannya. “Hm..bagaimana kegiatanmu hari ini, Dik”? kataku di sebuah siang. Mereka segera menukas dengan jawaban yang hampir serentak, ” Wah, remuk redam mas, setiap harinya kami harus melalap habis soal dan bermacam  ujian, lalu kami harus berakrab-akrab ria dengan angka dan hitungan yang cukup membotakkan kepala.” Aku pun terdiam, dengan sebuah senyuman yang sengaja kukulum agar mereka menatapku tetap sebagai orang luaran. ” Yup, begitulah hidup, ada teramat banyak ujian yang hendak mengujimu, dan ujian nasional ini adalah salah satu tonggak dari sebuah masa yang akan segera engkau masuki. Guru dan orang tuamu menitipkan segudang harapan di atas pundakmu, keinginannya melihat putra-putrinya sanggup menghadapi berbagai persoalan dan bukan menganggapnya sebagai sebuah beban tetapi adalah bagian proses hidup yang harus dilewati, dimana para muda-mudi adalah semangat yang menyala, bukan pribadi-pribadi loyo dan mudah menyerah, apalagi impoten dalam hal mencari ilmu. Sebuah keinginan yang juga merupakan bagian dari misi besar negara ini  dalam menghadapi berbagai dinamika yang menyertai perjalanan sebuah bangsa. Jangan sampai sebutan bangsa buruh selalu terus melekat.  Dari sudut mataku, kulihat anak-anak muda itu menatap dengan cukup antusias, dan ada sedikit pandangan yang seperti hendak menggerayangi setiap jengkal tubuhku. “Bapak seorang gurukah.” Akhirnya keluar juga pertanyaan yang sebelumnya hanya berupa sebuah gerakan-gerakan kecil. Aku menatapnya sembari senyum, “Bukan Dik, saya ini dulunya hanyalah seorang pemuda yang pernah juga merasakan kegundahan, sedang masa-masa itu, kulewati dengan hati yang cuek, karena setiap harinya sengaja kuabdikan diri pada semangat seni, entah musik, atau seni-seni lain, dan sekolah bagiku hanya sebuah neraka yang teramat tidak mengenakkan, tapi hidup terbukti tidak ramah pada mental-mental manja seperti mudaku. Ibarat sebuah kereta masa yang telah meninggalkanku ngungun dalam gersang dan kerlip hari. Dan sekarang aku seperti gundukan penyakit yang melengkapi sebuah masyarakat, terbelakang dan tak terbaca kota, jadi cerita hidup saya hendaknya hanya kualami sendiri, sedang nasib dan cerita hidupmu masih berada di ujung depan sana dan janganlah mengulang kisahku, bolehlah engkau belajar seni apasaja tapi jangan pernah lupakan untuk tekun juga belajar pelajaran sekolah lainnya.” Mereka manggut-manggut semacam daun yang dipukul air hujan. Salah satu dari mereka (yang mempunyai rambut bergelombang) tiba-tiba berkata, “Terimakasih nasihatnya Pak, kami bertambah pengetahuan akan masa depan kami sendiri, tetapi, setiap masa akan ada rajanya tersendiri, boleh jadi yang sekarang tetap menjadi seniman, lusa akan menjadi seorang guru kecil meski pada sebuah masyarakat terbelakang dan terpencil sekalipun, boleh jadi yang sekarang seorang musisi kelak akan menjadi seorang tentor yang akan menelorkan komposer-komposer handal, boleh jadi yang sekarang terbuang kelak ketika jalan hidupnya sudah ditemukannya akan menjadi sebuah karakter yang gigih, tidak mudah putus asa dan menjadi pelaku yang mengetahui dengan benar bagaimana mengatasi dan menjalani hidup ini.”

Ganti sekarang, akulah yang manggut-manggut, mungkin inilah salah satu kelebihan generasi sekarang, ketika ASI, Tajin dan susu instan dicampur dan dijadikan makanan ketika mereka kecil. Ada yang tiba-tiba berdesir dalam hatiku, sebuah kenyamanan yang serupa dengan pemuda pemula yang bertemu dengan kekasihnya, dimana cinta menjalar dan meruah penuh. Dan ini menjadi sebuah doa dan juga membentuk kata-kata semoga.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s