Jaturampe

Beranda » Agama » Nilai dan Kadar Cinta

Nilai dan Kadar Cinta

Follow Jaturampe on WordPress.com

Rasa-rasanya buku dari hasil karya Ibnu Ghazali adalah sebuah kajian yang sangat lengkap dan teramat layak untuk dijadikan pegangan dan sumber dari ilmu-ilmu tentang agama, meski sesungguhnya masih banyak juga mata air lainnya, seperti karya dari Syeikh Qusyairi, Ibn Arabi, Al Hakim, ibn athaillah dan lainnya, namun itu sifatnya sebagai pelengkap ketika tahapan demi tahapan dari tulisan Ibn Ghazali berhasil dipahami. Ihya ‘Ulumuddin menjadi master piece dari syeikh ini, hingga hampir sebagian besar umat islam mengenal bahkan menjadikan sebuah koleksi buku (hmm..meski harganya terbilang wow..dan masih menjadi langit bagi diri saya pribadi, maka satu-satunya jalan ya..menjadikan Perpusda sebagai sahabat akrab, hehehehe).

 

Ada satu hikmah yang sengaja saya garis bawahi sewaktu menelusuri karya beliau, yakni adanya kalimat yang menyatakan ” Sesungguhya orang tidak mengenal Allah di dunia, tidak akan melihatNya di akhirat, dan sesungguhnya kenikmatan surga diukur dengan kadar cinta kepada Allah dan cinta Allah menurut kadar makrifat kepadaNya. Ya.. kalimat yang teramat gagah dan sangat membuka hati dan rasa saya pribadi, bagaimana tidak? Bahwa ladang ujian sesungguhnya ternyata ada di dunia ini, dimana percobaan untuk berkenalan denganNya dimulai dari saat kita kecil sampai ajal menjemput, istilah singkatnya, Tuhan senantiasa menghampiri dan membuka diriNya agar hati kita merasakan kehadiranNya terus menerus dan berulang-ulang, hanya sayangnya kita yang sengaja membetengi hati dengan sesuatu hal yang bersifat duniawi, dunia di sini bisa diartikan sebagai sesuatu selain Tuhan, ini bisa berwujud materi, kesenangan bahkan ilmu.

Dalam kitab Kasyful Mahjub pun dikatakan, “Yang dimaksud fana (lebur) adalah leburnya kehendak hamba dalam kehendak Tuhan, bahkan leburnya wujud hamba ke dalam wujud Allah. Hal ini tidaklah berarti kesamaan antara wujud Tuhan dan hamba, melainkan tingkat kepasrahan dari seorang hamba terhadap kehendakNya, namun juga tidak bentuk kepasrahan yang pasif, melainkan berbuat dan berbuat, dimana hasilnya yang baru kita pasrahkan kepada kehendak hakiki. Dan ini merupakan bentuk cinta yang sesungguhnya.

Terakhir adalah sebuah pesan yang pernah disampaikan kepada saya dari seorang petani kampung bahwa, ” Jika kamu mencari Tuhan, maka kamu akan bertemu dengan Tuhan.” meski dengan wujud yang bagaimanapun.

 

 


2 Komentar

  1. Titi mengatakan:

    Yup Bener mas Budi apa yang di bilang Ghazalli. Aku sih ndak baca buku…males hihihi, ndak punya waktu
    Semua berdasarkan pengalaman pribadi aja. ketika MAN ROBBUKA… itu yg menjawab jiwa. Jiwa akan menjawab JUJUR. Jujur apa yang hati terdalam = sirr paling cintai. Kalau memang lebih mencintai dan mengisi hati nya dengan uang ya maka MAN ROBBUKA ? jiwa menjawab UANG :)
    Alhamdulillah aku bisa jawab karena KARUNIA NYA semata
    Apalah yang bisa kita perbuat ? ndak banyak sebenernya….hanya setitik ikhlas + rajin membersihkan hati dan pikiran :)
    Salam maju pantang mundur mas!!

  2. Tonny mengatakan:

    Mas Budi, saya pernah membaca satu buku kecil dari Ghazali, dan setelah membacanya saya merasakan kengerian yang sangat, judulnya Bahaya Lidah. Saya merasa seperti tidak bisa mecium bau syurga setelah membaca buku itu, karena kita berdosa justru dari hal-hal kecil tapi sering kita lakukan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s