Jaturampe

Beranda » 2011 » Juli

Monthly Archives: Juli 2011

Bahkan Untuk Bercita-citapun Tidak Boleh!

“Ah, rasanya baru kemarin..matahari menyorotkan sinarnya hingga sekujur badanku menjadi legam. Ah rasanya baru kemarin, asyiknya diri bermain bersama kalian, menyelam kubangan air, dari bekas tanah yang dikeruk untuk pembuatan batu bata. Rasanya baru selasa kemarin ya, sibuknya kita mengejak puluhan capung, layang-layang putus, terseok-seok hingga terkadang jatuh dan lutut berdarah (dalam hati-walau sekarang berubah bangga, sebab istri sering berkata dari luka-luka itu terlihat lebih nglanangi, hehehe)” candaku pada kerumunan teman-teman SD dulu.

“Kalau urusan bandel, mengejar layang-layang dan bermain petak umpet kamu memang jagonya, Bud!” Kata Nila –istri Anto-sembari nyengir mirip kuda poni.
“Iya benar, apalagi kalau urusan ngeyel, wuih..guru-guru sampai malas menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, tapi kalau urusan olahraga..hahaha…tiada mampu dia, bahkan untuk sekedar menendang bola menuju gawang…tuiiinggg…letoooyyy” sela Anto yang dari dulu langgeng berpotongan bros plontosss.
Akupun pura-pura diam dipuji sekaligus dicaci, sembari menikmati pengalaman hidup puluhan tahunan yang lalu. lamunan masa yang selama ini jarang kubayangkan kembali. Ya..masa yang teramat indah. Masa dimana buaian cita dan cerita membulat penuh, bahkan ditambah pula semangat liar untuk mengejarnya. Jelas kuingat cita-citaku dulu ingin menjadi seorang tentara, yang sayangnya tak terlaksana, begitu melihat latihan-latihan rutin seorang prajurit, diri menjadi mengkeret (mungkin dulunya terlalu banyak membaca novel cengeng kali ya..?haha)

“Oh..ya, Nto..apa cita-cita anakmu, bukan ia sudah tumbuh remaja sekarang? Apakah cita-citanya sama dengan keinginanmu dulu, yakni menjadi seorang pengusaha? Kataku membuyarkan lamunannya
“Entahlah, Bud..sekarang ini dia malah berubah arahnya. Mangkel aku, lha bagaimana tidak gonduk, sekarang dia ingin menjadi pemain sepakbola coba, kamukan tahu sendiri bagaimana kondisi dari pemain sepakbola itu mengenai masa depannya,” Kata Anto sedikit malas membicarakannya.
“Hei, bukankah sekarang ini pemain sepakbola bayarannya tinggi Nto, rumah dan mobil sangat mewah bahkan gaya hidupnya berkelas juga ?apakah ini tak membuatmu ngiler?” kataku menukasnya
“Halah, itukan ukuran untuk pemain sepakbola yang ada di luar negeri, dan itupun juga karena dikontrak oleh klub klub ternama, kalau di sini, sepakbola hanya menjadi lipstik untuk rakyat, Bud..jadi sekedar hias perias saat harga-harga melambung, yah..karena para pejabat tiada mampu menurunkan tingginya harga barang, maka olahraga jadi pelariannya. Ini seperti rakyat Roma membuat gelanggang untuk para gladiator to?jadi, sepak bola belumlah digarap secara profesional, apalagi untuk mengurusi sekolah persepakbolaan, aku yakin swastalah yang lebih giat menyelenggarakannya. Tapi ya itu…paling-paling masa hebatnya hanya 5 atau 10 tahun, itupun jika ada pengurus yang benar benar semangat untuk menanganinya” kata Anto yang berubah menjadi gumpalan bola api.

“Hehehe, oh ya?entahlah Nto, aku sih tidak tahu persis masalah persepakbolaan nasional kita, lha wong untuk menendang bola saja aku tidak kuat, lagian akukan hanya membela cita-cita Anggi, anakmu, jika memang di suatu hari ia menemui kenyataan hidup seperti yang kau rasakan, pastilah Anggie merubah cita-citanya itu. Tapi tidaklah bijak, jika cara pandang dewasa kita melampaui cara pandang dia untuk saat ini. Barangkali saja, cita-cita itu hanya imbas dari semangat persepakbolaan nasional yang sedang menggebu. Pun seandainya tidak, ya kita harus mengikutinya dari belakang khan? Contoh singkatnya aku, Nto..dulu pingin jadi tentara, eh sekarang malah menjadi musisi, hehehehe” kataku sambil tertawa.

“Alah kalau kamu sih, dari dulu que sera sera..apa yang terjadi biarkan terjadi, tapi itu tidak boleh terjadi pada anakku, dia harus jadi seperti diriku!” seru Anto dengan mata sedikit mendelik

lalu lumerku timah dipanggang api
dan berucap, “Selamat Hari Anak!Nak.”

Puasa Berkelindan dengan Iklan dan Topeng!

“Secara hakiki shaum bisa diartikan satu upaya untuk menjaga diri agar tetap dekatNya dan sebenarnya kegiatan puasa ini pernah juga dilaksanakan oleh umat agama lain (meski dengan bentuk dan ritual yang tidak sama), ada puasa untuk menahan berbicara, pula ada juga puasa untuk menjaga kelakuan misalnya dengan jalan menyepi dan bertapa. Jadi, jelaslah kebenaran bukanlah mutlak milik salah satu pihak saja Le, hehehe..sehingga ukuran sebenarnya adalah timbangan dari dalam diri masing-masing diri, seberapa jauh pula seberapa dalam dirimu menghamba.” Kata petani itu di sebuah sore.

Aku hanya bisa manggut-manggut, sementara hati menjadi terhenyak nyenyak serupa domba dipanggili suitan nada suling dari penggembala di padang tandus. Ya..benar, puasa yang sebentar lagi tiba. Puasa yang hampir menyapa.

Jadi, puasa itu sebenarnya untuk apa siapa, Mbah? Sergapku berbarengan dengan prencak yang berak di salah satu ranting pohon. Dan sebentar saja rentetan tawa nyaring keluar dari bibir petani tua itu, bahkan beserta bonus tambahan yakni sebaris giginya yang tak simetris dan jarang, terlihat dalam pandanganku..wuiiih mantab.

“Hoho..puasa itu ya jelas untuk Tuhan, Ngger. Ash-shaum lii wa ana ajruhu. Shaum hanyalah untuk-Ku, dan aku akan selalu memberikan pahala (bagi yang melaksanakannya)”

“Lho, lalu apa untungnya buat Tuhan, Mbah? lha wong Tuhan tidak disembah, tidak dipujapun tetaplah Tuhan sebagaimana adanya to?, mosok Tuhan serupa pedagang?atau serupakah Dia seperti lagu Trio Macan -Dimana ada puja Abang sayang, tiada puji Abang sakiti?”

“Hehe…bukan begitu to, Le! Tuhan tetaplah Tuhan, dari sejak sendiri sampai beribu makhluk diciptai. Sesungguhnya semua itu untuk hambanya juga, sebab ketika berpuasa sang hamba berusaha mendekatiNya dengan tiada makan dan tiada minum, dan berusaha lebih mendekat asmaNya yang Ash-Shomad to?hehehe

“Oh..begitcu to, mbah,” kataku sembari menyedot rokok kretek yang tinggal setengah jari.
“Kenapa Le, mengapa dikau yang biasa muray tiba-tiba diam tak bersuara? Adakah jawabanku yang kurang memuaskanmu?adakah pernyataan yang mengganggumu?tolong katakan, jangan sampai hal ini menyebabkan kesenjangan jarak antara muda dan tua. Di sini, kita sama-sama mencari. Atau dirimu punya jawaban yang lebih mengasikkan?”

Sesungguhnya, memang ada banyak pertanyaan yang menggelayut di dada, namun enggan kutanyakan.

“Ayolah..tanyakanlah meski langit runtuh” seru petani tua itu lagi (dalam hati, aku tertawa mengingat ungkapan sebenarnya adalah tegakkanlah kebenaran meski langit runtuh, tapi semakin hari semakin kusadar, kebenaran ternyata nisbi, maka titik tengahnya adalah bertanya dan bertanya lagi..pada siapapun, jadi benar pendapat petani itu)

“Masalahnya adalah cara penyambutan bulan puasa itu, Mbah. Bulan puasa itu tiba-tiba menjadi truk yang mengangkut harga bahan makanan yang selangit. Bulan puasa itu tiba-tiba menjadi lapangan penuh sesak orang-orang yang bertopeng, dan bulan puasa itu tiba-tiba menjadi lahan orang yang menjual Tuhan secara murah, bahkan menjadi ajang bebas gebuk orang-orang yang tidak sepaham ataupun mencari rupiah dari berkah ramadhan,” kataku sekencang degub jantung dalam dada.

“Hehehe, kembalikanlah diri pada Ash-shomad, Ngger. Jika belum puas tanyakanlah pada teman-temanmu di Kompasiana, hehehe, ayo…tanyakanlah meski langit runtuh!”

Jawa Jadi Menyedihkan!

Menyedihkan, sungguh setelah pagi ini diri membaca artikel dari koran Kompas yang cenderung sudah usang yakni edisi Senin, 4 Juli 2011. Di situ tertuliskan penduduk miskin terpusat di Jawa, yakni 16,73 juta orang atau 55,72 persen dari penduduk miskin. Ah..Jawa, dimana banyak negara dan buku-buku sejarah mengenalnya sebagai tanah yang subur, ibarat melemparkan tonggak kayu pun akan tumbuh menjadi pohonan yang rindang, sekarang terkenal penduduknya yang miskin.Dimana sejarah dulunya menorehkan putra-putra Jawa menjadi ikon dunia, atau belum lagi banyaknya catatan yang sengaja tidak dicatat.

Mungkin,ada saja kebijakan yang kurang bijaksana
mungkin, ada saja kemauan yang kurang mau
atau mungkin ada kemampuan yang sengaja tidak dimampukan

tapi, sungguh khabar tentang miskinnya penduduk Jawa memukul diri serupa tingkap daun ditimpa hujan.

Sms darimana?Ah..Biarin, yang Penting Lulus!

Hmm..memang sungguh menyenangkan,masa remaja apalagi yang baru menyelesaikan ujian. Ya..hari itu aku menemui wajah-wajah remaja baru tumbuh yang sedang tampak cerah, lewat cuplikan percakapan yang tak sengaja kudengar, mereka asyik memperbincangkan nilai-nilai ujian nasionalnya yang tinggi.”Iyalah Bo, lihat angka 35 adalah peri baik hati yang mau singgah di HPku” lalu temannya menyahut,” Benar, buat apa susah-susah belajar, lha wong selalu saja ada SMS salah kirim?” Lantas hahahihi…menyeruak mengisi hangat pembicaraannya yang tiada diketahui akan habisnya.Dari palung hatiku, hanya terbit ucap..”Hmm..ujian yang kemarin menjadi bayang hitam ketakutan, sekarang berubah menjadi merpati yang berhasil ditundukkan.

Lalu, kulanjutkan saja langkah kakiku, sembari memikirkan sandi atau simbol yang diperbincangkan remaja barusan.

Sesampai di rumah, istri & keponakanku datang menyambut. Dan dalam sekerjap teh hangat tersaji di meja ketika diri mulai akan berganti baju. “O…ini lho mas, ponakanmu sedang murung, lha wong nilai UNnya hanya 29,25 tok! dari tadi bibirnya cemberat cemberut melulu, sedang ketika ditanya selau dijawab gak tau ah, gelaaap og” Lho, yo ra opo-opo to bojoku sing manis, nilai dua sembilan koma dua lima itukan kalau dirata-rata sama dengan tujuh koma tiga to? lalu apa masalahnya, yang pentingkan nilai itu memang hasil dari kegiatan belajarnya, hasil dari pemikirannya ataupun hasil dari pendayagunaan proses berpikir yang sengaja diperras dalam mempersiapkan diri menghadapi ujian? kataku sebelum menyeruput teh buatannya. “Hayoo itu, mas..Dia itu boring sebab nilai teman-temannya yang lain bagus -bagus, sementara dalam kesehariannya, mereka sebenarnya tergolong siswa yang bandel, arang mangkat, juga tiada pernah mengerjakan PR, lha kok…nilai UN tinggiiii sekali” cerocos isteriku seperti tiada ada titik koma (barangkali jika ada lomba ngerap tingkat RT, dia akan terpilih menjadi juara, hehehehehee). “lha yo mbok ben to bu..itu kan kemauan yang nantinya ditanggung sendiri, boleh jadi hari ini yang keroyo-royo belajar hanya mendapat hasil standar, sementara siswa yang lain mendapat kebahagian semu dengan nilai bombastis, tapi ada masa, jujur itu akan mendapatkan cinta yang meruah dari Gusti Kang Akaryo Jagad,” kataku (pura-pura bijak)

weiiitssssss…..bukak sithik josssss!
(terdengar sayup alunan lagu campursari dari radio milik tetanggaku)

Arti Sebuah Kebenaran

“Agar sebuah kebenaran menjadi terwujud, maka diperlukan adanya sebuah pertentangan.” Yah begitulah, aku menemukan ungkapan ini di sebuah tumpukan buku tua peninggalan kakekku, buku yang selama ini kubiarkan menghuni kardus sisa.Ya, lewat kusam lembar-lembarnya, ada harapan dari kakek yang meruah cintanya pada hidup cucu-cucunya,atau agar cucunya bersemangat mencari dan terus mengkaji

Rasanya, kalimat yang tertulis di situ masih relevan untuk zaman ini. Benar saja, entah itu di radio, televisi, atau koran, bahkan sampai sekarangpun masih hangat-hangatnya berita yang memperbincangkan sebuah harga dan konsekuensi atas nama ‘kebenaran.’Masing-masing pihak mengaku bahwa dirinyalah yang paling benar, bahkan kadang Asma Tuhan kerap disebut dengan pelafalan yang teramat fasih.

Tapi adakah kebenaran yang sifatnya mendua?Rasa-rasanya tidak, Lik! Lalu siapakah yang benar?”Agar sebuah kebenaran menjadi terwujud, maka diperlukan adanya sebuah pertentangan.” dan menjadi suatu kenyataan, atawa tren yang tidak tertulis, era kebenaran sekarang masih terdiam dalam tumpukan lembaran rupiah yang bersembunyi di sebuah amplop dingin.