Jaturampe

Beranda » Agama » Puasa Berkelindan dengan Iklan dan Topeng!

Puasa Berkelindan dengan Iklan dan Topeng!

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Secara hakiki shaum bisa diartikan satu upaya untuk menjaga diri agar tetap dekatNya dan sebenarnya kegiatan puasa ini pernah juga dilaksanakan oleh umat agama lain (meski dengan bentuk dan ritual yang tidak sama), ada puasa untuk menahan berbicara, pula ada juga puasa untuk menjaga kelakuan misalnya dengan jalan menyepi dan bertapa. Jadi, jelaslah kebenaran bukanlah mutlak milik salah satu pihak saja Le, hehehe..sehingga ukuran sebenarnya adalah timbangan dari dalam diri masing-masing diri, seberapa jauh pula seberapa dalam dirimu menghamba.” Kata petani itu di sebuah sore.

Aku hanya bisa manggut-manggut, sementara hati menjadi terhenyak nyenyak serupa domba dipanggili suitan nada suling dari penggembala di padang tandus. Ya..benar, puasa yang sebentar lagi tiba. Puasa yang hampir menyapa.

Jadi, puasa itu sebenarnya untuk apa siapa, Mbah? Sergapku berbarengan dengan prencak yang berak di salah satu ranting pohon. Dan sebentar saja rentetan tawa nyaring keluar dari bibir petani tua itu, bahkan beserta bonus tambahan yakni sebaris giginya yang tak simetris dan jarang, terlihat dalam pandanganku..wuiiih mantab.

“Hoho..puasa itu ya jelas untuk Tuhan, Ngger. Ash-shaum lii wa ana ajruhu. Shaum hanyalah untuk-Ku, dan aku akan selalu memberikan pahala (bagi yang melaksanakannya)”

“Lho, lalu apa untungnya buat Tuhan, Mbah? lha wong Tuhan tidak disembah, tidak dipujapun tetaplah Tuhan sebagaimana adanya to?, mosok Tuhan serupa pedagang?atau serupakah Dia seperti lagu Trio Macan -Dimana ada puja Abang sayang, tiada puji Abang sakiti?”

“Hehe…bukan begitu to, Le! Tuhan tetaplah Tuhan, dari sejak sendiri sampai beribu makhluk diciptai. Sesungguhnya semua itu untuk hambanya juga, sebab ketika berpuasa sang hamba berusaha mendekatiNya dengan tiada makan dan tiada minum, dan berusaha lebih mendekat asmaNya yang Ash-Shomad to?hehehe

“Oh..begitcu to, mbah,” kataku sembari menyedot rokok kretek yang tinggal setengah jari.
“Kenapa Le, mengapa dikau yang biasa muray tiba-tiba diam tak bersuara? Adakah jawabanku yang kurang memuaskanmu?adakah pernyataan yang mengganggumu?tolong katakan, jangan sampai hal ini menyebabkan kesenjangan jarak antara muda dan tua. Di sini, kita sama-sama mencari. Atau dirimu punya jawaban yang lebih mengasikkan?”

Sesungguhnya, memang ada banyak pertanyaan yang menggelayut di dada, namun enggan kutanyakan.

“Ayolah..tanyakanlah meski langit runtuh” seru petani tua itu lagi (dalam hati, aku tertawa mengingat ungkapan sebenarnya adalah tegakkanlah kebenaran meski langit runtuh, tapi semakin hari semakin kusadar, kebenaran ternyata nisbi, maka titik tengahnya adalah bertanya dan bertanya lagi..pada siapapun, jadi benar pendapat petani itu)

“Masalahnya adalah cara penyambutan bulan puasa itu, Mbah. Bulan puasa itu tiba-tiba menjadi truk yang mengangkut harga bahan makanan yang selangit. Bulan puasa itu tiba-tiba menjadi lapangan penuh sesak orang-orang yang bertopeng, dan bulan puasa itu tiba-tiba menjadi lahan orang yang menjual Tuhan secara murah, bahkan menjadi ajang bebas gebuk orang-orang yang tidak sepaham ataupun mencari rupiah dari berkah ramadhan,” kataku sekencang degub jantung dalam dada.

“Hehehe, kembalikanlah diri pada Ash-shomad, Ngger. Jika belum puas tanyakanlah pada teman-temanmu di Kompasiana, hehehe, ayo…tanyakanlah meski langit runtuh!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s