Jaturampe

Beranda » 2011 » Agustus

Monthly Archives: Agustus 2011

TuhanNya Pembalap dan Penggila Touring!

Mungkin perkara di dunia ini yang takkan pernah selesai adalah Pencarian akan kebenaran dan Tuhan. Betapa banyak jiwa yang tersungkur, gila, mati pula selamat. Tuhan, benarlah menjadi energi aktif yang Maha Kuat daya tariknya. Pada abdi, Tuhan menjadi sesuatu Maha Misteri abadi.

Bermacam agama, kepercayaan maupun keyakinan, merupakan kumpulan dari jejak-jejakNya yang masih tertinggal, sementara(kita) berharap kekal dijadikan jiwa kita seperti burung yang setia mencari remah-remah karuniaNya yang tercecer di pinggiran apapun jalan itu.

“Ayo, cepatlah kawan..teguhlah engkau dalam mencari, aku akan selalu di sini, di setiap jalanan yang kau kuasai, karena akulah Pemilik Jalan sekaligus pelaku utama. Jika kau pembalap liar…Akulah Maha Pembalap Liar, jika kau ahli track lurus, ..akulah Maha Joki Track Lurus, Jika kau memahami Super Moto, sebenarnya Akulah Rajanya Super Moto, Jika kau seorang suka touring, akulah Maha GPRSmu atau peta butamu” Seru Tuhan.

Ah..Tuhan Cinta MeruahMu memang selalu menampak di segala ruang dan suasana, hanya kadang kita terlalu larut dalam segala apa selainMu. Maafkan aku Tuhan…

Benarkah Tuhan dan Nabi Butuh Kita Bela?

Kawan,
Tenggelamkan saja diri ke dalam lantunan ayat suci
Keringkan mulut dengan gema tasbih membahana
Lalu tinggallah di surau sunyi
Sementara yang tertinggal biarlah tinggal
Sementara yang lapar biarkan lapar
Yang haus, biarlah haus
dan
yang mengaduh tetaplah aduh

Segera..
buat pesan ke penjuru dunia
Bahwa,
Diri adalah kitab yang berjalan
Diri adalah umat paling kasih
Diri adalah hafalan luar kepala
Segala dogma surga neraka

Lalu, kafirkan orang yang tak sejalan
Hingga boleh digebrak, ditendang bahkan sah untuk dipancung

Karena,
Tuhan Maha Kuasa, butuh dibela
tangan padat dan kuat manusia

Sebab,
Nabi kita butuh kerja suci : diri
Memutihkan dunia hitam dan malam kelam

Sementara di pojok sepi..terpampang sebaris kalimat

“Sesungguhnya kebenaran itu bukanlah untuk menambah keagungan Tuhan yang sudah Agung ataupun memuja nabi mulia yang sudah mulia tapi untuk kaji dan rubah diri
karena,
Nilai manusia adalah ke-manusia-an manusia
bukan hafal ribuan dogma dengan mulut penuh busa”

Tuhan Dalam Bingkai Mistis, Al-Jili!

Jika Tuhan sedang meruahkan CintaNya, jika Tuhan sedang ingin dirindui, jika kasih Tuhan sedang ingin menarik masing-masing diri , jika Tuhan sedang ingin buka-bukaan, maka benarlah apa yang dikatakan Abd Al Karim Ibn Ibrahim Al-Jili(sang sufi agung yang berasal dari jilan dimana garis nasabnya sampai ke Syeikh Abdul Qodir Jilani) bahwa para pencari/pecinta akan mengalami tahapan-tahapan dari setiap perjalanan menuju terang sejati. Sebuah perjalan panjang penuh liku, goda, roja, pula riya. Berikut ini adalah saripati dari wejangan beliau tentang kesempurnaan Sang Insan Kamil yang mendapat pencerahan mistis dalam penyingkapan..

1. Pencerahan nama-nama
pada tahapan ini, manusia yang menerima petunjuknya akan dapat mengetahui berbagai misteri makna luar dan dalam dari namaNya, sehingga ketika sang hamba menyebut Asma tersebut, maka Tuhan akan menjawabnya dengan limpahan kasihnya.

2. Pencerahan sifat-sifat
jika Tuhan menyingkap Diri-Nya pada manusia ini, maka manusia
yang menerima petunjuknya itu akan menjadi satu dengan sifat Tuhan itu sendiri(kehidupan, pengetahuan) semisal ia menyandang sifat kehidupan, maka manusia tersebut dapat meresap, merasakan kehidupan alam semesta, baik kata-kata maupun rahasia yang ada di dalamnya. Jika ia menyandang atribut pengetahuan, maka ia mengetahui masa yang lampau, sedang datang bahkan masa datang.

3. Pencerahan Inti
pada titik ini, sang insan sempurna menjadi mutlak sempurna. Semua sifat telah lenyap, sebab Maha Mutlak adalah menaungi dalam diri.

Ya..memang menarik apa yang diujarkan oleh syeikh ini, dimana warta tentang Tuhan, dibuka dengan terang dan gagah berani, terlepas dari kesiapan, keberanian pula ketulusan putih para hamba-Nya untuk tetap tekun dalam mencari jati diri, Tuhan sudah buka-bukaan.

Gila, Imam Ghazali dan Petani Membujukku!

Di dalam kubur,
pikiran yang telah digunakan untuk berpikir di dunia
akan mempunyai bentuk.
Pemikiran yang baik akan melahirkan sosok bahagia,
sedang pikiran jahat
akan melahirkan kesusahan.
(Imam Ghazali dalam Kitab Kimiya’-i-Sa’adat)

Maka, arahkan pikiranmu kawan, pada hal-hal yang positif, utamanya condongkan pada misteri yang tiada ujung pula pangkal apalagi kalau bukan Kasih dan Cinta MeruahNya, karena fikir dan dzikir yang bulat penuh, lebih cepat melaju daripada penghambaan yang biasa, karena manusia adalah cintaNya yang paling berakal (pikiran)
(Petani Desa dalam Kitab Kehidupan)

Indonesia dalam Lodeh dan Janganan

“Lapor Mbah, heheehe, sekarang ini kompasiana sedang kebanjiran…sebab warganya sedang berduyun-duyun mengirimkan sejumlah karyanya pada kompetisi yang digelar Telkomsel, mereka asyik membidik dari berbagai sisi dan pandangan tentang Indonesia (tapi itu bukan karena hadiah dan pujiannya lho mbah)heehehe, ada yang memulai tentang indah daerahnya, keragaman budaya maupun tokoh-tokoh penting yang pernah lahir dan tumbuh di sana. Emm…sebuah ajang yang sesungguhnya diharapkan mampu membangkitkan semangat dan kecintaannya pada negara, Hehee..ini seperti sebuah minuman dingin dikala terik kerap menyapa. Meski sesungguhnya bukan pelunasan dari rasa haus yang pernah mendera.

Lalu apa pandanganmu tentang Indonesia dan keIndonesianmu, wahai Nang Budi?

Hehehe, sebenarnya saya pun juga sedang bingung memulainya dari mana, Mbah, sedang nama Indonesia sendiri sesungguhnya adalah sebutan yang diungkapkan oleh George Earl yang berkebangsaan Inggris, dan kemudian dilanjutkan oleh JR Logan yang merupakan muridnya, to? lalu kemudian diikuti dan diamini oleh para Founding Father negeri ini yang singgah dan mencicipi pendidikan tinggi, entah di negeri sendiri maupun negeri Belanda karena dibuang/ diasingkan. Oh..ya Mbah, sempat terlintas pertanyaan nih, hmm…apa para raja-raja di Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Goa, dan daerah-daerah lain dijaman dahulu pernah mengadakan konsesus tentang penamaan ini ya?rasa-rasanya kok…(ini sungguh menjadi tanda tanya). Jadi dari sejarah namanya saya masih bingung!

“Mengenai konsesus raja-raja kayaknya sudah terbayarkan ketika ada konggres pemuda ya, Nang. Dimana para pemimpin (sistem raja sudah terwadahi dan terkafer lewat semangat pemuda yang emoh terjebak dalam sistem feodal di zaman itu) meski tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya para pemuda tersebut sesungguhnya masih keturunan raja-raja dari daerahnya masing-masing, namun ya itu, mereka memilih tampil nir memperlihatkan sejumlah lima liter darah birunya, hehehehe…yang terpenting adalah pemaknaan terhadap tanah airnya, yakni tempat lahir, mati, makan minum dan eeknya, hehehehe”

Akupun ikutan ngekek riang bersamaan dengan derai tawa dari petani tua tersebut. “Lalu bisakah Paling Indonesia itu dilihat dan dimaknai dari beraneka ragam masakan yang dihidangkan disetiap meja penduduk negeri ini, Mbah? Maklum Mbah, perut saya bawaannya memang makan melulu, hehehe….dari sudut mataku, kulihat seraut wajah tenang yang sedang menyunggingkan senyum khas petani negeri ini –lugu dan sebetulnya sangat menerima pada segala keadaan pun cuacanya.

“Hahaha, ya..ya, bisa itu nak, sebuah kata inti yang sesungguhnya menghujam untuk ditelaah lebih lanjut. Hmm…ya, masakan. Dimana dari bermacam ramuan yang bersukarela campur untuk menjadi satu, ada bawang merah, bawang putih, lada, jahe, lombok, merica dan segala rekan-rekannya itu, terciptalah sesajian yang enak untuk dinikmati. Anehnya, tidak ada porsi yang cenderung saling menyombongkan diri, di sini sang bawang tidak jumawa ketika porsinya lebih banyak, atau garam yang kerap pamer karena dirinya yang sering dipakai. Semuanya melebur, yang semula berbeda jenis-jenisnya kemudian sepakat dan bersemangat bahu membahu untuk menampilkan cita rasa yang hakiki.

“Tapi masak yang Indonesia hanya masakannya, mbah? Seperti hal itu nantinya akan berakhir dengan apa yang nantinya keluar duong, hehehehe…”sergap Tono, seorang kawan yang senantiasa menemaniku.

“Sesungguhnya semua cara pandang tentang Indonesia, bisa saja dimulai dari apa saja yang ada didalamnya, nak, namun yang cenderung lebih dekat dan dapat dinikmati adalah ha-hal yang berhubungan dengan kebudayaanya. Dan makanan adalah salah satu hal itu. Tapi, hakikinya juga bukan makanan dalam arti sempit, tetapi makanan yang sangat bermakna luas, apa itu? Hehehehe…jangan kau kira semua semua suku, ras dan agama yang beragam ini menyatu karena janji politisi, menteri, mantri maupun para kaji…bukan, sekali lagi bukan itu. Tetapi rasa, ya..sebuah rasa yang nantinya melahirkan perasaan yang menghujam sampai ke dasar hati. Dimana tumbuh kesadaran yang serupa kerelaan bawang merah, garam, lada ataupun jahe yang bersedia satu dalam makanan, kesamaan nasib dan kesamaan pandangan. Boleh jadi pembawa agama Hindu dan Budha di negeri ini adalah Brahmana atau para Ksatria, boleh jadi pembawa agama Islam di negeri ini adalah pedagang, sufi ataupun para habaib, boleh jadi pembawa agama Kristen adalah para pendeta ataupun misionaris, tapi sejatinya mereka diterima di Indonesia ini bukan sebab gelar-gelar agung, kegagahan maupun mantra-mantra saktinya, tetapi semata karena rasa sang pembawa dan juga rasa yang Sang penerima sinkron dalam satu titik yang juga melebur satu. Maka dari itu, nenek moyangmu, para pendiri negara ini tidak terlalu memusingkan dengan nama baru “Indonesia” karena, sesungguhnya beliau-beliau itu sadar dan dapat merangkum nilai dan rasa hakiki bahwa tidak ada istilah baru atau lama di dalam di sini, berhak atau yang lebih berhak, karena semua sudah tercakup dan terwadahi dalam tafsiran rasa yang berbentuk Bhineka Tunggal Ikha, tan hana darma kang mangrwa, sebab Indonesia adalah milik semua, bukan milik mayoritas, kelompok agama garis keras maupun politisi sejuta janji, dan Pancasila adalah.

Mau Tahu Alam Kekal?Sini!

Banyak orang berkata bahwa pikiran adalah salah satu pokok penting dari kedirian manusia, lewat pikiranlah banyak hal yang tercapai, hingga akan menjadi sebuah budaya, budaya yang nantinya akan mengurat dan mengakar. Bukankah pada tiap agama menekankan pentingnya berfikir?
Namun kegiatan berpikir ini juga memerlukan belajar beserta pasangannya yakni, semangat. Nah, jika ketiga kegiatan ini bersatu padu, menjadi rutinitas yang terus menerus, maka segala apa yang nampak di dunia ini dapat dikaji dan digali nilai kehakikiannya, tentunya dengan kemampuan masing-masing dari manusianya, lho! misalnya, jika bakat dasarnya seorang montir, maka ilmu perbengkelannya akan terus meningkat. Jika bakat dasarnya adalah penjahit, maka kemampuan menjahitnya semakin halus dan semakin cepat pun cermat,seiring dengan kemauan dan semangat berpikirnya.
Lalu, apakah hal ini sudah selesai begitu saja? apakah kemampuan ini akan bisa diterapkan di segala medan dan cuaca? bagaimana dengan pencarian/penggalian yang berhubungan dengan Sang Maha Segala/ trap di bawahnya yaitu, agama? Ya..bisa saja! walau tentunya jumlah orang yang selamat akan semakin sedikit, sebab salah-salah akan mengakibatkan kram otak, fanatik buta bahkan pula gila.
Jika khusus pada pencarian makna hidup dan keDirian, masih ada satu senjata lagi “Unlearning.” Heh, makanan apalagi ini?
seringkali Unlearning diartikan sebagai cara pandang segala sesuatu dari titik yang kadang berseberangan. Tentunya penguasaan ini harus melampaui apa-apa yang telah ia pelajari, hingga pengetahuan itu bisa dipandang dari sisi yang lain. Ibarat koin maka Unlearning ialah ruang yang sudah dapat menyatukan antar sisi-sisinya.
Dengan Unlearning maka “keduaan” cenderung bisa diatasi, dengan unlearning maka kedua mata menjadi berguna. Tiada ada lagi perbandingan Senang-susah, kaya-miskin, halus -kasar, kebaikan-kejahatan de el el.
Lalu bagaimana cara melatih unlearning?Banyak referensi yang menyarankan untuk meditasi, namun meditasi tanpa apa-apa, tanpa fikir dan dzikir apa-apa. Hanya , mutlak pasrah saja. Ibarat kembali ke zaman sebelum kompas, kecuali kompas purba yakni Kerinduan. Rindu akan cinta yang meruah.rindu akan rasa yang kekal.

Antara Seringai dan Senyum Dunia

Dunia..
kata ini adalah sebuah kata yang mempunyai dua macam sisi yang saling kuat daya pengaruhnya. Satu sisi, dunia adalah keadaan yang dimana segala macam rekayasa terjadi, segala tipu-menipu dan segala makna yang kurang lebih berarti negatif, ya to? dan bukankah dunia juga merupakan sebuah tempat pembuangan Nabi Adam dan Hawa dari surga? Jadi, sah-sah saja jika ia diserupakan dengan sosok nenek jahat yang siap menggoda batin-batin insan.
Tapi, satu yang terpenting..
lewat dunialah kita mengenal Tuhan sebagai Rabb kita. LEwat dunialah kita mengetahui keindahan MahaKaryaNya ,lewat dunialah kita benar merasakan nikmatnya mencinta dan dicinta.
hehehe..yup, apa jadinya jika tiada ada peristiwa dan ceremony makan buah Khuldi? yang jelas, kita masih tetap menjadi benih di sumsum Nabi Adam? bahagiakah akan hal itu (walau berada di surga?)
sesungguhnya..
Dunia/alam adalah wahana bagi Tuhan untuk menampakkan sifat dan NamaNya. Lewat dunialah pantulan rasa Kasih dan Cinta menampak, Ya.. dunia menjadi semacam cermin(meski bukan cermin yang sempurna) dari segala sifat dan Asma.

Lewat dunialah kita bisa menanam, entah benih cinta, enta benih angkara. Pilihan itu ada di tanganmu…kawan!