Jaturampe

Beranda » Agama » Profesor yang Dibunuh dengan Sadis!

Profesor yang Dibunuh dengan Sadis!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Kegiatan mencari kebenaran adalah kegiatan yang menyenangkan, meski harus menempuh jalanan berliku, haru biru, pucat pasi bahkan letih (berdarah-darah secara pemikiran), tetapi apakah dahaga itu akan terpuaskan? Seringnya tidak, sebab jalanan masih sangatlah panjang, jalanan yang membutuhkan banyak kesabaran, ketekunan dan semangat untuk tetap mencari, lalu kembali kita menggali lagi, gagal, bangkit dan kemudian menjadi lautan tidak tahu hingga rasa takjub yang mewujud nyata, menjadi rasa biru campur haru.
Ya…begitu banyak rekomendasi yang mengajarkan kita untuk menjadi diri sendiri, atau –berdikari-kata Pak Karno, dan sudahkah kita menjadi pribadi-pribadi itu? Rasa-rasanya, satu ruang yang nyelempit di pojok hati yang mampu menjawabnya. Lalu, bagaimana jika ada orang yang sudah menemukan jati dirinya sendiri? Apa yang akan kita lakukan?menyambutnya? menampar ataukah menendangnya? Dan, seringkali pengungkapan jati diri berbanding lurus dengan bau kontroversi, bergerak dalam satu napas berirama, menjadi pesona lampu yang kerap mengundang serangga untuk sejenak hinggap dalam terangnya. Dan ini wajar. Sewajar rasa iri atau dengki bagi orang-orang yang belum bisa melakukannya.
EA atau lebih dikenal Erianto Anas, adalah salah satu sosok yang menurut saya telah menemukan jati dirinya. Jati diri yang menjelma setegak karang yang sanggup menghadapi terjangan kebiasaan-kebiasaan mandheg, Dialah yang sanggup melemparkan topik-topik yang jarang disentuh kebanyakan orang. Tema yang kerap menyediakan parang yang justru bisa membelah dan mengeluarkan isi dadanya. Hmm..tema yang selama ini menjadi layang-layang megah mengangkasa dan enggan disentuh, meski dengan penalaran dan jiwa murni – sebentuk fitrah kiriman Tuhan, ketika manusia dihadirkan di muka bumi.
Pribadi Populerkah yang ingin Dia tuju? Atau kekonyolan yang justru diinginkan? Ataukah sebentuk sharing antar para pencari Tuhan? Tidakkah enak, jika kita menidurkan angan-angan ke dalam bentuk kenyamanan baik diri dan pencarian? Rasa-rasanya, Ia tak menginginkan hal tersebut, Ia tidak ingin, hanya menina bobokkan beban hidup yang justru paling hakiki yakni penemuan peranan hidup dan jati diri yang akan dibawa masing-masing manusia ke hadapan Sang Maha Hidup.
Lalu apanya yang salah? Apakah salah jika warung berhias dengan lampu-lampu yang riuh? Apakah salah, jika untuk menarik perhatian pengunjung, Ia menggunakan judul-judul yang bombastis? Ataukah salah jika ia menggunakan kata yang menyebutkan nama binatang? Bukankah sejujurnya, isi tulisannya tidaklah bermaksud untuk menghina?hanya semata mengharap jawab dan ruang diskusi? Sepertinya kita -harus membebaskan kata dari makna yang sudah ada, toh penyebutan kata anj*ng itu semata hanya sebuah pertanyaan yang membutuhkan pernyataan dari sebuah sistem yang Ia tuju. Dan hendaknya, kebijaksanaan dan pemakluman dari sistem yang dia rasa belum menjawab kepuasannya lebih bijak menghadapi sosok protesnya. Bukankah peranan dan sumbangan dari ide-idenya, kerap meramaikan sebuah ruangan yang memang tepat mewadahinya? Ruang yang banyak berisi orang dewasa yang cerdas, bijak dan kata sejuta “Wow” lainnya?.
Kembali, banyak orang menasehatkan kita untuk menjadi diri pribadi, dan (kadang) kerap kita mencela bahkan membunuhi pribadi-pribadi yang tak umum bagi kacamata umum, bahkan ide-idenya gilanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s