Jaturampe

Beranda » Agama » Mau Tahu Alam Kekal?Sini!

Mau Tahu Alam Kekal?Sini!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Banyak orang berkata bahwa pikiran adalah salah satu pokok penting dari kedirian manusia, lewat pikiranlah banyak hal yang tercapai, hingga akan menjadi sebuah budaya, budaya yang nantinya akan mengurat dan mengakar. Bukankah pada tiap agama menekankan pentingnya berfikir?
Namun kegiatan berpikir ini juga memerlukan belajar beserta pasangannya yakni, semangat. Nah, jika ketiga kegiatan ini bersatu padu, menjadi rutinitas yang terus menerus, maka segala apa yang nampak di dunia ini dapat dikaji dan digali nilai kehakikiannya, tentunya dengan kemampuan masing-masing dari manusianya, lho! misalnya, jika bakat dasarnya seorang montir, maka ilmu perbengkelannya akan terus meningkat. Jika bakat dasarnya adalah penjahit, maka kemampuan menjahitnya semakin halus dan semakin cepat pun cermat,seiring dengan kemauan dan semangat berpikirnya.
Lalu, apakah hal ini sudah selesai begitu saja? apakah kemampuan ini akan bisa diterapkan di segala medan dan cuaca? bagaimana dengan pencarian/penggalian yang berhubungan dengan Sang Maha Segala/ trap di bawahnya yaitu, agama? Ya..bisa saja! walau tentunya jumlah orang yang selamat akan semakin sedikit, sebab salah-salah akan mengakibatkan kram otak, fanatik buta bahkan pula gila.
Jika khusus pada pencarian makna hidup dan keDirian, masih ada satu senjata lagi “Unlearning.” Heh, makanan apalagi ini?
seringkali Unlearning diartikan sebagai cara pandang segala sesuatu dari titik yang kadang berseberangan. Tentunya penguasaan ini harus melampaui apa-apa yang telah ia pelajari, hingga pengetahuan itu bisa dipandang dari sisi yang lain. Ibarat koin maka Unlearning ialah ruang yang sudah dapat menyatukan antar sisi-sisinya.
Dengan Unlearning maka “keduaan” cenderung bisa diatasi, dengan unlearning maka kedua mata menjadi berguna. Tiada ada lagi perbandingan Senang-susah, kaya-miskin, halus -kasar, kebaikan-kejahatan de el el.
Lalu bagaimana cara melatih unlearning?Banyak referensi yang menyarankan untuk meditasi, namun meditasi tanpa apa-apa, tanpa fikir dan dzikir apa-apa. Hanya , mutlak pasrah saja. Ibarat kembali ke zaman sebelum kompas, kecuali kompas purba yakni Kerinduan. Rindu akan cinta yang meruah.rindu akan rasa yang kekal.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s