Jaturampe

Beranda » Jawa » Indonesia dalam Lodeh dan Janganan

Indonesia dalam Lodeh dan Janganan

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Lapor Mbah, heheehe, sekarang ini kompasiana sedang kebanjiran…sebab warganya sedang berduyun-duyun mengirimkan sejumlah karyanya pada kompetisi yang digelar Telkomsel, mereka asyik membidik dari berbagai sisi dan pandangan tentang Indonesia (tapi itu bukan karena hadiah dan pujiannya lho mbah)heehehe, ada yang memulai tentang indah daerahnya, keragaman budaya maupun tokoh-tokoh penting yang pernah lahir dan tumbuh di sana. Emm…sebuah ajang yang sesungguhnya diharapkan mampu membangkitkan semangat dan kecintaannya pada negara, Hehee..ini seperti sebuah minuman dingin dikala terik kerap menyapa. Meski sesungguhnya bukan pelunasan dari rasa haus yang pernah mendera.

Lalu apa pandanganmu tentang Indonesia dan keIndonesianmu, wahai Nang Budi?

Hehehe, sebenarnya saya pun juga sedang bingung memulainya dari mana, Mbah, sedang nama Indonesia sendiri sesungguhnya adalah sebutan yang diungkapkan oleh George Earl yang berkebangsaan Inggris, dan kemudian dilanjutkan oleh JR Logan yang merupakan muridnya, to? lalu kemudian diikuti dan diamini oleh para Founding Father negeri ini yang singgah dan mencicipi pendidikan tinggi, entah di negeri sendiri maupun negeri Belanda karena dibuang/ diasingkan. Oh..ya Mbah, sempat terlintas pertanyaan nih, hmm…apa para raja-raja di Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Goa, dan daerah-daerah lain dijaman dahulu pernah mengadakan konsesus tentang penamaan ini ya?rasa-rasanya kok…(ini sungguh menjadi tanda tanya). Jadi dari sejarah namanya saya masih bingung!

“Mengenai konsesus raja-raja kayaknya sudah terbayarkan ketika ada konggres pemuda ya, Nang. Dimana para pemimpin (sistem raja sudah terwadahi dan terkafer lewat semangat pemuda yang emoh terjebak dalam sistem feodal di zaman itu) meski tidak bisa dipungkiri bahwa sesungguhnya para pemuda tersebut sesungguhnya masih keturunan raja-raja dari daerahnya masing-masing, namun ya itu, mereka memilih tampil nir memperlihatkan sejumlah lima liter darah birunya, hehehehe…yang terpenting adalah pemaknaan terhadap tanah airnya, yakni tempat lahir, mati, makan minum dan eeknya, hehehehe”

Akupun ikutan ngekek riang bersamaan dengan derai tawa dari petani tua tersebut. “Lalu bisakah Paling Indonesia itu dilihat dan dimaknai dari beraneka ragam masakan yang dihidangkan disetiap meja penduduk negeri ini, Mbah? Maklum Mbah, perut saya bawaannya memang makan melulu, hehehe….dari sudut mataku, kulihat seraut wajah tenang yang sedang menyunggingkan senyum khas petani negeri ini –lugu dan sebetulnya sangat menerima pada segala keadaan pun cuacanya.

“Hahaha, ya..ya, bisa itu nak, sebuah kata inti yang sesungguhnya menghujam untuk ditelaah lebih lanjut. Hmm…ya, masakan. Dimana dari bermacam ramuan yang bersukarela campur untuk menjadi satu, ada bawang merah, bawang putih, lada, jahe, lombok, merica dan segala rekan-rekannya itu, terciptalah sesajian yang enak untuk dinikmati. Anehnya, tidak ada porsi yang cenderung saling menyombongkan diri, di sini sang bawang tidak jumawa ketika porsinya lebih banyak, atau garam yang kerap pamer karena dirinya yang sering dipakai. Semuanya melebur, yang semula berbeda jenis-jenisnya kemudian sepakat dan bersemangat bahu membahu untuk menampilkan cita rasa yang hakiki.

“Tapi masak yang Indonesia hanya masakannya, mbah? Seperti hal itu nantinya akan berakhir dengan apa yang nantinya keluar duong, hehehehe…”sergap Tono, seorang kawan yang senantiasa menemaniku.

“Sesungguhnya semua cara pandang tentang Indonesia, bisa saja dimulai dari apa saja yang ada didalamnya, nak, namun yang cenderung lebih dekat dan dapat dinikmati adalah ha-hal yang berhubungan dengan kebudayaanya. Dan makanan adalah salah satu hal itu. Tapi, hakikinya juga bukan makanan dalam arti sempit, tetapi makanan yang sangat bermakna luas, apa itu? Hehehehe…jangan kau kira semua semua suku, ras dan agama yang beragam ini menyatu karena janji politisi, menteri, mantri maupun para kaji…bukan, sekali lagi bukan itu. Tetapi rasa, ya..sebuah rasa yang nantinya melahirkan perasaan yang menghujam sampai ke dasar hati. Dimana tumbuh kesadaran yang serupa kerelaan bawang merah, garam, lada ataupun jahe yang bersedia satu dalam makanan, kesamaan nasib dan kesamaan pandangan. Boleh jadi pembawa agama Hindu dan Budha di negeri ini adalah Brahmana atau para Ksatria, boleh jadi pembawa agama Islam di negeri ini adalah pedagang, sufi ataupun para habaib, boleh jadi pembawa agama Kristen adalah para pendeta ataupun misionaris, tapi sejatinya mereka diterima di Indonesia ini bukan sebab gelar-gelar agung, kegagahan maupun mantra-mantra saktinya, tetapi semata karena rasa sang pembawa dan juga rasa yang Sang penerima sinkron dalam satu titik yang juga melebur satu. Maka dari itu, nenek moyangmu, para pendiri negara ini tidak terlalu memusingkan dengan nama baru “Indonesia” karena, sesungguhnya beliau-beliau itu sadar dan dapat merangkum nilai dan rasa hakiki bahwa tidak ada istilah baru atau lama di dalam di sini, berhak atau yang lebih berhak, karena semua sudah tercakup dan terwadahi dalam tafsiran rasa yang berbentuk Bhineka Tunggal Ikha, tan hana darma kang mangrwa, sebab Indonesia adalah milik semua, bukan milik mayoritas, kelompok agama garis keras maupun politisi sejuta janji, dan Pancasila adalah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s