Jaturampe

Beranda » 2011 » September

Monthly Archives: September 2011

SMA 6 Bangga Memukuli Wartawan Karena Diajari Gurunya

Ada sebuah pepatah lama yang masih asyik dan enak didengar untuk jaman sekarang ini, pepatah itu kurang lebih berbunyi “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Ya..sebuah ungkapan yang menggambarkan perbuatan siswa yang akan meniru kelakuan dari guru-gurunya, bahkan (terkadang) bisa melebihinya. Tapi benarkah siswa akan mencontoh kelakuan guru-gurunya?
Hari Senin, 19 September 2011 di SMA 6 Jakarta, terjadi kasus pengeroyokan atas diri wartawan Kompas serta para fotografer dari media-media lain yang dilakukan oleh siswa SMA 6 Jakarta tersebut, apakah hal itu mengindikasi penyontohan sikap siswa dari kelakuan para gurunya?Masak ada seorang guru yang tega mengajarkan kekerasan? atau masak sih..terjadi pembiaran?dan rasa-rasanya hal itu tidaklah mungkin…ya to? atau jangan-jangan memang iya? bahwa Guru-guru di SMA 6 Jakarta suka berantem?hehehehe….

Tapi siapakah sesunguhnya guru itu? banyak referensi yang mengatakan bahwa guru adalah pengajar suatu ilmu, mendidik sehingga siswa akan berperilaku dan budi pekerti yang baik, bahkan terkadang guru dianggap sebagai seseorang yang “suci” jauh dari salah dan dosa. Dari makna ini, maka siapapun orang yang mengajarkan ilmu, nilai, budi pekerti atau sesuatu hal baru bisa juga disebut guru.

Nah, kembali lagi ke topik pengeroyokan siswa terhadap wartawan, jangan-jangan keberingasan dan kebrutalan dari segenap siswa SMA itu menyonto dari keadaan lingkungan mereka sendiri. Bukankah sekarang (kalau mau jujur nih) banyak tayangan televisi yang mengabarkan kesadisan, entah di dalam negeri maupun luar negeri. Bukankah sekarang ini, ada semacam budaya baru di dalam masyarakat/sebagian penduduk yakni mudah marah, lihat saja kasus ciukesik, Ahmadiyah, Ambon, Papua dan daerah (pernah) konflik lainnya? jangan-jangan peristiwa inilah yang menjadi “Guru” bagi siswa SMA itu. Atau jangan-jangan pembiaran dan kekurangtegasan aparat menjadi sumbu plus bensin bagi jiwa-jiwa muda mereka.

Sekali lagi…
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Dan celakanya(budaya baru) mudah marah dan enggan musyawarah menjadi guru-guru “Hitam” bagi pelajar SMA itu.

Haha..Bubar Istighosah, Purwakarta Amok!Payah!

Aneh campur Lucu..rasa-rasanya pingin tertawa terus menerus, lha bagaimana tidak lucu, lihatlah peristiwa yang terjadi Kota Purwakarta, bung…bahwa setelah menggelar istighosah yang dihadiri oleh wakil bupati serta kyai-kyai kondang (lokal kaleee) dan FUI, massa menjadi sangat bersemangat Ya..bersemangat untuk merubuhkan berbagai hal yang berkaitan patung dan musyrik, hahahaha…katanya pembangunan patung-patung tersebut dikhawatirkan merubah image kota Purwakarta yang santri menjadi sebuah kota berhala, katanya penduduk tidak mau terkena laknat dari Tuhan gara-gara ada banyak pembangunan patung yang merupakan saingan Tuhan (emangnya Tuhan yang meruah cintaNya, semudah itu akan menjadi marah?memangnya intel Tuhan tidak bekerja?atau memangnya TUhan gampang cemburu?)Wah, ada-ada saja…

jangan-jangan, yang hadir di istighosah itu, dikibuli dengan slogan-slogan surga semu, atau jangan-jangan ada semacam kampanye untuk merubuhkan bupati yang menjabat?(maklum sekarang baru musim OTDA, dimana peperangan “ide” yang semula di pusat sekarang berpendar juga di daerah-daerah. Nah, kalau hal ini betul terjadi, maka ini adalah bentuk pelecehan. Bagaimana tidak, lha wong nama Tuhan dan nabi (kadang) menjadi alat untuk sesuatu yang sesungguhnya sangat remeh temeh, kawan..dan ini sangat tidak manusiawi..apalagi yang dirobohkan adalah bentuk karya seni yang tinggi, dengan muka para punakawan Jawa. Oh..Jawa, nasibmu…kalah melulu..dengan budaya-budaya impor!

Nah, Sekarang Lawan Kapitalis Telah Ditemukan, Bro! So Mau Apalagi?

Bagaimana khabar dunia sekarang ini? Yup…tentunya akan ada banyak warta yang mengabarkan tentang segala hal yang berbau kerusuhan, pertentangan demi pertentangan, atau pengusaan satu subyek terhadap satu subyek lainnya to.. Hehehe, sepertinya ini akan menjadi perputaran roda yang bersifat kekal ya?
Namun sesungguhnya, jika kita jeli, putaran roda gila zaman itu hanyalah berupa satu wujud saja kok, meski kerap menggunakan berbagai macam topeng tentunya. Apa itu? keserakahan yang menjelma dalam satu kata “kapitalis” hahaha…lihatlah apa dan bagaimana motivasi para penjelajah dunia arungi luas samudra,atau bagaimana awal mula segala macam penindasan dan penjajahan, meski strategi pula bermacam ideologi diciptakan untuk melawannya, tapi apa yang terjadi?semua keok dan pelan-pelan nyemplung ke timbunan tanah khan.
Tetapi sepertinya, Tuhan tidak sare, Tuhan akan senantiasa memberikan rahmat dan petunjuknya. Hal itu menampak dari salah satu hadits yang menyebutkan bahwa kita harus senantiasa belajar, meski sampai ke negeri China. Lho kenapa China? kenapa negeri mata sipit itu menjadi sebuah inspirasi untuk menghadapi laju gerak dari keserakahan dan germo kapitalisnya, jangan-jangan ini hanya sebuah langkah intelejen untuk mengadakan kontra intelejen?heehe..bukan kawan, ini semata tafsir pinggiran kampung terhadap sabda Sang Nabi yang Sempurna itu. Bahwa China sekarang ini adalah negara yang tidak begitu memusingkan sistem pemerintahannya sendiri, apakah demokrasi murni, ataukah komunis tulen..tetapi intinya China percaya pada dirinya sendiri untuk mengatur negaranya, persetan dengan teori-teori Yunani atau peradaban dari negara-negara lain-lha wong China sendiri termasuk salah satu peradaban kuno-di negara kita pernah demikian hebat kepercayaan diri ini ditampilkan oleh Pak Karno dan Pak Harto.
Yang kedua adalah inovasi. Lihatlah kepintaran (kalau tidak mau disebut kelicikan) China, dimana mula pertama para kaum buruhnya, hijrah ke berbagai negeri adi daya, kemudian sedikit demi sedikit ‘mencuri’ berbagai jenis pengetahuan beserta inovasinya, kemudian mengembangkan pengetahuan itu, rajin meneliti, bereksplorasi, sehinga muncul banyak inovasi baru tentunya-meskipun awal-awalnya plek dengan produk dari negara yang ditirunya. Dan mudah ditebak, sekarang negeri itu menjadi raksasa yang bisa-bisa mengalahkan Sang Paman Sam dan tetangga Arikatonya to?hehehe
yang ketiga adalah memelihara Sang Inovator, dengan memberikan gaji atau balasan terhadap jasa mereka, kemudian mempatenkan keorisinilan idenya, hehehe…maklum sekarang curi-mencuri ide banyak terjadi di belahan bumi, ya to?
Lalu bagaimana dengan khabar negeri kita sendiri? (stop! hentikan tawamu, kawan!) Lha…ini, inilah salah satu sebab kemunduran kita yang senantiasa menertawakan kesatiran kita sendiri pula tingkah polah pemimpin kita. Bukankah hebat negeri ini, dimana pemimpinnya jarang melihat, mengintip bahkan mencari inovasi para putra bangsanya? yang ada malah ketidak pedean yang semakin membesar (kalah dengan strategi Mak Erot yang justru membesarkan kemaluan supaya tidak malu)hehehe…sithik-sithik njur komprensi pers-kata mbah saya, dan lucunya banyak inovator itu justru dipelihara dan dihargai di negeri orang lain, dan inilah salah kita! (Oke..sekarang sampeyan diperbolehkan untuk tertawa, kawan…sumonggo!)

Tulisan ngosos lainnya:
1. Kesejatian Jawa yang Terungkap
2. Lagu Anak Telah Mati Suri? Yo wis Ben!
3. Megat Ruh Rockin’ Roll

Indonesia = Arab? yang Benar Saja, Bro!

Rasa-rasanya hal ini hanya terjadi di Indonesia. Ya, penduduk di negara yang sangat kita cintai ini, seringnya mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya biasa saja, namun kejadian itu akan menjadi besar jika berhubungan dan terkait dengan agama. Mau tahu? okey kawan..

sebut saja yang pertama, mengenai panggilan mama papa, bapak ibu atau mom and dad. Nah, dari panggilan ini akan terpandang oleh sebagian kalangan sebagai sebuah panggilan yang termasuk bid’ah (hahaha, ada-ada saja, ono-ono wae-jare wong Jawa) Maunya mereka panggilan yang benar ya..ayah seperti abah/abi, kalau ibu ya Umi..mungkin dirasa akan lebih berbau Arab atau berbau surga kaleeee…hehehe. Bahkan kata mereka, panggilan itu hasil dan peninggalan dari bangsa penjajah, bangsa kafir!heheheh, Padahal menurut seorang teman yang rela menyerahkan tenaga dan jasa bekerja di negara sana, panggilan untuk ayah dan ibu disana sering kali memakai panggilan Baba dan Mama, nah lho!!hehe..kecuali kalau si temanku itu memberikan anus dan kelaminnya pada si Tuan bandit, mungkin panggilannya akan berubah menjadi ya..abah/umi, hehehe..lha piye, di bawah ancaman??

Rancu yang kedua ini berhubungan dengan perayaan Idul Fitri yang baru-baru ini kita jalanni. Apa itu? Sms! Lho..kok SMS, mana kerancuannya, Lik? hehehe…tenang kawan! Di tahun-tahun kemarin, seringkali sms lebaran yang kita terima berisi sebuah pesan dengan menggunakan kata “Taqabbalallahu minna wa minkum” hehehe, nah kemudian jika di jawab dengan balasan kata “Minal Aidin wal Faizin” ada yang sedikit marah (semoga pengalaman saya tidak terjadi pada sampeyan)Lho kok bisa? itulah, konon katanya yang paling betul penggunaan Taqabbalallahu minna wa minkum, hehehehe, ada-ada saja. Nah, sisi pembelajaran buat saya, ya mengirimkan sms lebaran tahun ini dengan menggunakan basa jawa, nah lho..modiar rak? Padahal nih, pernah saya membaca artikel di sebuah koran yang menerangkan isi/ucapan orang-orang di Arab suuaaanaaa, menggunakan sapaan seperti “Eid Mubaarak artinya Selamat hari raya penuh keberkahan. Ada pula yang jamak seperti Kullu ‘Amin wa Antum bi Khairin artinya Semoga sepanjang tahun kalian berada dalam kebaikan. Haaha…dijamin konco-konco akan tertawa sambil guling-guling (ciri khas Kaskus, neh!)

Nah, itulah sebagian penduduk di Indonesia, masih mudah untuk mengkiblat pada segala sesuatu yang berurusan dengan surga dan neraka, tanpa pernah mau merenung, apakah itu termasuk perintah dan aturan agama ataukah masuk dalam budaya Arab. Eh…ngomong-ngomong Kiblat pada sewaktu sholat itu perintah agama atau budaya ya? Eiitsss..jangan ngaco Lik, Ntar dipancung lho!hehehehe…..

Tulisan Segar Lainnya:
1. Kesejatian Jawa yang Terungkap
2. Lagu Anak Telah Mati Suri? Yo wis Ben!