Jaturampe

Beranda » Jawa » Indonesia = Arab? yang Benar Saja, Bro!

Indonesia = Arab? yang Benar Saja, Bro!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Rasa-rasanya hal ini hanya terjadi di Indonesia. Ya, penduduk di negara yang sangat kita cintai ini, seringnya mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya biasa saja, namun kejadian itu akan menjadi besar jika berhubungan dan terkait dengan agama. Mau tahu? okey kawan..

sebut saja yang pertama, mengenai panggilan mama papa, bapak ibu atau mom and dad. Nah, dari panggilan ini akan terpandang oleh sebagian kalangan sebagai sebuah panggilan yang termasuk bid’ah (hahaha, ada-ada saja, ono-ono wae-jare wong Jawa) Maunya mereka panggilan yang benar ya..ayah seperti abah/abi, kalau ibu ya Umi..mungkin dirasa akan lebih berbau Arab atau berbau surga kaleeee…hehehe. Bahkan kata mereka, panggilan itu hasil dan peninggalan dari bangsa penjajah, bangsa kafir!heheheh, Padahal menurut seorang teman yang rela menyerahkan tenaga dan jasa bekerja di negara sana, panggilan untuk ayah dan ibu disana sering kali memakai panggilan Baba dan Mama, nah lho!!hehe..kecuali kalau si temanku itu memberikan anus dan kelaminnya pada si Tuan bandit, mungkin panggilannya akan berubah menjadi ya..abah/umi, hehehe..lha piye, di bawah ancaman??

Rancu yang kedua ini berhubungan dengan perayaan Idul Fitri yang baru-baru ini kita jalanni. Apa itu? Sms! Lho..kok SMS, mana kerancuannya, Lik? hehehe…tenang kawan! Di tahun-tahun kemarin, seringkali sms lebaran yang kita terima berisi sebuah pesan dengan menggunakan kata “Taqabbalallahu minna wa minkum” hehehe, nah kemudian jika di jawab dengan balasan kata “Minal Aidin wal Faizin” ada yang sedikit marah (semoga pengalaman saya tidak terjadi pada sampeyan)Lho kok bisa? itulah, konon katanya yang paling betul penggunaan Taqabbalallahu minna wa minkum, hehehehe, ada-ada saja. Nah, sisi pembelajaran buat saya, ya mengirimkan sms lebaran tahun ini dengan menggunakan basa jawa, nah lho..modiar rak? Padahal nih, pernah saya membaca artikel di sebuah koran yang menerangkan isi/ucapan orang-orang di Arab suuaaanaaa, menggunakan sapaan seperti “Eid Mubaarak artinya Selamat hari raya penuh keberkahan. Ada pula yang jamak seperti Kullu ‘Amin wa Antum bi Khairin artinya Semoga sepanjang tahun kalian berada dalam kebaikan. Haaha…dijamin konco-konco akan tertawa sambil guling-guling (ciri khas Kaskus, neh!)

Nah, itulah sebagian penduduk di Indonesia, masih mudah untuk mengkiblat pada segala sesuatu yang berurusan dengan surga dan neraka, tanpa pernah mau merenung, apakah itu termasuk perintah dan aturan agama ataukah masuk dalam budaya Arab. Eh…ngomong-ngomong Kiblat pada sewaktu sholat itu perintah agama atau budaya ya? Eiitsss..jangan ngaco Lik, Ntar dipancung lho!hehehehe…..

Tulisan Segar Lainnya:
1. Kesejatian Jawa yang Terungkap
2. Lagu Anak Telah Mati Suri? Yo wis Ben!

Iklan

5 Komentar

  1. zainul ulum berkata:

    Mungkin aja masyarakat pengen mengharap barokah dari nama2 bahasa arab yang di sandangnya. Faktor lain, ya karena lebay..alias pengen eksis aja, mereka hanya ikut2’an aja. Wah, namanya / panggilannya kek orang arab, keren banget yah…(padahal kelakuannya kek arab jahiliyah..hahahaha). Semua ini karena ada rasa keterikatan sejarah antara indonesia & arab.

    Yang ente bahas gak seberapa gan, ada yg lebih parah loh…coba ente perhatikan dengan seksama, banyak sekali orang yang memajang karpet bergambar mekkah di ruang tamu jika mereka udah pulang dari haji. Apakah mereka ingin menunjukkan kepada orang lain kalo mereka udah pergi haji? Ingin pamer atau gmn ntuh? Riya apa nggak tuh menurut ente?

    Paling menyedihkan adalah ketika sudah berangkat haji, pasti ada embel2 gelar baru yang melekat pada nama mereka. Misal, si jontor setelah naik haji namanya berubah menjadi H. Jontor, emangnya haji itu gelar ya? Haji itu ibadah gan, bukan gelar! Emang ngocol banget kalo bahas kebiasan lebay orang indonesia..Itulah uniknya indonesia…hahahahaha

  2. jaturampe berkata:

    Hahaha..benar bung Zai, kayaknya banyak orang yang kurang pede dengan budaya negeri sendiri. Mengenai karpet dan segala pernik oleh-oleh tersebut kayaknya (memang) buat pamer, hehehe…
    dengar-dengar kata teman, gelar haji itu adalah sebuah strategi dari Snouck Hungronje, agar pemerintah belanda tahu siapa orang-orang yang pulang dari arab, ketika di zaman itu, setiap orang yang pulang dari ibadah haji, seringnya mengadakan perlawanan terhadap penjajah (ini cerita dari teman saya, sedang saya sendiri belum jelas kebenarannya) eh..sekarang setiap orang yang sepulang dari sana, jika dipanggil tanpa menyertakan gelar haji, ogah nengok, hehehee

  3. rachmat berkata:

    indonesia punya budaya sendiri , dan menurut saya jauh lebih baik dari arab, (saya 2 tahun di Qatar), dan maaf islam bukan milik orang arab saja, jadi selama budaya kita tidak melanggar syari’at islam, untuk apa memakai budaya negri lain (arab) saya lebih nyaman memanggil “pak’e” (ayah) dan buk’e (ibu), emang gua pikirin, hidung arab kek, wajah arab kek…..

  4. jaturampe berkata:

    hehehe, bener mas, saya setuju dengan cara pandang mas Rachmat..bahwa indonesia punya budaya sendiri (meski kadang masih kurang PD di pakai oleh penduduknya sendiri)ssepanjang tidak melanggar syari’at.

    saya juga nyaman memanggil dengan panggilan buk’e dan bapak..

    terimakasih sudah mampir mas..

  5. Heru Purwanto berkata:

    Setuju mas, indonesia memiliki beragam kebudayaan yang bisa kita banggakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s