Jaturampe

Beranda » 2011 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2011

Inilah Kehebatan Istriku!

Sekali-kali, postingan ini tidaklah menceritakan tentang kehebatan dari cita rasa masakan buatan isteriku, atau tentang berbagai rahasia sakti seputar kehidupan ranjang kami. Tulisan ini hanya bermaksud menggugah jari jemari dan pikiran yang kadang buntu ketika hendak berlatih untuk menulis.
Wajah isteriku biasa saja, yang hanya cukup nikmat untuk sering kunikmati, dimana artinya suatu saat datang rindu yang membahana beserta wadyabalanya yang bernama napsu, tapi tentu saja (Stttt..ada rasa bosan yang kadang hinggap)hehehe..umpama langkah itu ya 11:1..hehehe, lantas dimana kehebatannya Kawan?
Tenang Bro!Begini, sebelum dirinya kuboyong ke rumah, setiap aku pergi nongkrong di WC maka suasana yang ada hanyalah sunyi dan remang. Bagiku sih tidak masalah, yang penting plung…lega, juga sedikit mengkhayal berbagai macam hal -yah biasalah…ombak hidup dan geliat konsekuensinya to?Hingga sering kali kaget jika sedang asyik-asyiknya semadi, eh..tiba-tiba melintas kecoak yang tak punya sopan santun, atau tatapan dari Sang Kodok yang entah darimana datangnya, tiba-tiba duduk tepat
di bawahku (barang kali mengira telurnya dicuri orang ya?)wah payah!
Dan ini sungguh, Isteriku itu orangnya penakut, bahkan cenderung berlebihan, masak dengan cicak ia takut, bahkan dengan cacingpun juga begitu..hehehe. Nah berawal dari rasa takut itu, suatu saat ia memintaku -lebih tepatnya menyuruhku- untuk memasang lampu penerangan di WC. Jelas, berbekal 30 persen rasa malas akhirnya kupasang lampu itu (hayoo to, Rocker kan juga boleh manut!hehehe….)
Sekarang ruang WC menjadi terang, jikalau dulu saat beol berteman remang kini bisa kulihat ada bayang memanjang. Jikalau dulu seringnya kaget-kagetan, sekarang malahan bisa menggoda jika ada seekor katak yang melintas.
Begitulah…
Begitulah kehebatan isteriku, Ia bukanlah seorang Cleopatra yang setiap waktunya adalah berias, Ia juga bukan Newton yang bermain apel-apel gravitasi, namun hanyalah seorang isteri yang mampu merubah cara pandangku bahwa WC itu asyik juga jika ada terang lampu.

salam darussalam,

Iklan

Oalah…Kita Hidup Ini Hanya Menjadi Pelayan Hidup To!

Ada orang yang mengatakan tentang petuah yang kira-kira berbunyi begini,“Dunia ini adalah kebangkitan kembali, karena kebangkitan itu hanyalah adalah melayani, Dan tidak ,melakukan apa-apa kecuali melayani.” Nah, ini menjadi sebuah hal yang menarik, jika ada pertanyaan bahwa masak jauh-jauh dari suatu tempat yang enak (syurga) kok kita ke dunia ini menjadi pelayan? emange kita terlahir hanya menjadi komoditas yang akan dikirim ke negara-negara kaya?hehehe..atau masak Tuhan menciptakan insan hanya untuk membantu pekerjaanNya? Tuhan kurang Maha Kuasa?hehehe…
Lalu petuah itu kubawa sebagai bahan untuk merenung, namun kepalaku malah menjadi pusing, bahkan sampai berkunang-kunang.

Maka kubulatkan tekad untuk membawa kepeningan itu pada karibku Sang Petani (karena memang Beliaulah segala jawab ketika kegelisahan menggelayut dada dan kepalaku. Singkat cerita sampailah diri di halaman rumahnya. Beliau sedang asyik membersihkan cangkulnya-sebuah alat yang setia dan menjadi sahabat sejati dalam menemani keseharian aktivitasnya. Lantas kutanyakan saja petuah yang pernah kedengar itu kepadanya. Beliau hanya tersenyum, lalu disulutnya sebatang rokok kretek, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dan tak lupa terkekeh riang (sepertinya menjadi gaya andalannya)

“Anakku, ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa Orang yang berpikir lebih baik tentang Tuhan, maka Tuhan ada dalam pikirannya itu.” Kata Sang Petani itu . Aku sempat menatap matanya, kali ini ada sebuah keseriusan yang mendalam.

“Saya kok malah semangkin bingung, Mbah. Kita ini dibangkitkan hanya untuk menjadi pelayanNya, tah? Ataukah Tuhan kekurangan dan benar-benar membutuhkan pembantu?” kataku mengejarnya

“Semua makhluk hidup dan benda mati ini memang hanya menjadi
pelayanNya, to? Hehehehe….” kata Mbahe mulai menanggapiku penuh riang.

Sore itu, kuharap segala pertanyaanku terjawab, tetapi nampaknya Mbahe menginginkan agar ku tetap berpikir. Lintasan waktu yang berkelebat tak kuhiraukan, sementara hewan capung hanya berputar-putar di halaman seperti hendak pulang.

“Semuanya berawal dari Abdul Le…ya..Abdul itulah awalnya, sebelum Yahya, Khalil maupun lainnya. Dan segera carilah pasangan itu lalu jadikan harianmu, maka engkaulah pelayannya dan hidupmu menjadi perpanjangan dari Rahman dan RahimNya.

Capung itu semakin berputar-putar, dalam hatinya hanya ingin pulang melalui segala kegelisahan pertanyaan hidup dan cinta.Dan capung itu adalah aku.

Aku Bangkit dari Kematian Aktivitasku

Hai brada…jumpa lagi nih, maaf baru sempat menulis lagi, maklum ada sekian banyak kegiatan yang harus kulaksanakan. Hm..ya rutinitas yang bisa-bisa membunuh segalanya, termasuk kepekaan, emosi maupun kesenyapan yang kadang kita butuhkan. Dan untuk bulan-bulan kemarin hantamannya membuat lutut serasa enggan untuk berdiri, tubuhpun lapuk digerogoti meja, kursi pekerjaan.
Heeheee…bahkan pandangan anak istripun (cenderung beda) pernahkah sampaian mengalaminya?
Tapi kini, geliat semangatku bangkit lagi, mungkin karena macam kegiatan yang sudah semakin reda mematuk waktu.
Oke..berarti sekarang sudah siap untuk melaju bersama lagu kesenyapan dan cinta yang meruah.
wahai malam sambut aku di tepian angkuh tema-temamu!