Jaturampe

Beranda » filsafat » Oalah…Kita Hidup Ini Hanya Menjadi Pelayan Hidup To!

Oalah…Kita Hidup Ini Hanya Menjadi Pelayan Hidup To!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Ada orang yang mengatakan tentang petuah yang kira-kira berbunyi begini,“Dunia ini adalah kebangkitan kembali, karena kebangkitan itu hanyalah adalah melayani, Dan tidak ,melakukan apa-apa kecuali melayani.” Nah, ini menjadi sebuah hal yang menarik, jika ada pertanyaan bahwa masak jauh-jauh dari suatu tempat yang enak (syurga) kok kita ke dunia ini menjadi pelayan? emange kita terlahir hanya menjadi komoditas yang akan dikirim ke negara-negara kaya?hehehe..atau masak Tuhan menciptakan insan hanya untuk membantu pekerjaanNya? Tuhan kurang Maha Kuasa?hehehe…
Lalu petuah itu kubawa sebagai bahan untuk merenung, namun kepalaku malah menjadi pusing, bahkan sampai berkunang-kunang.

Maka kubulatkan tekad untuk membawa kepeningan itu pada karibku Sang Petani (karena memang Beliaulah segala jawab ketika kegelisahan menggelayut dada dan kepalaku. Singkat cerita sampailah diri di halaman rumahnya. Beliau sedang asyik membersihkan cangkulnya-sebuah alat yang setia dan menjadi sahabat sejati dalam menemani keseharian aktivitasnya. Lantas kutanyakan saja petuah yang pernah kedengar itu kepadanya. Beliau hanya tersenyum, lalu disulutnya sebatang rokok kretek, menghisap dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, dan tak lupa terkekeh riang (sepertinya menjadi gaya andalannya)

“Anakku, ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa Orang yang berpikir lebih baik tentang Tuhan, maka Tuhan ada dalam pikirannya itu.” Kata Sang Petani itu . Aku sempat menatap matanya, kali ini ada sebuah keseriusan yang mendalam.

“Saya kok malah semangkin bingung, Mbah. Kita ini dibangkitkan hanya untuk menjadi pelayanNya, tah? Ataukah Tuhan kekurangan dan benar-benar membutuhkan pembantu?” kataku mengejarnya

“Semua makhluk hidup dan benda mati ini memang hanya menjadi
pelayanNya, to? Hehehehe….” kata Mbahe mulai menanggapiku penuh riang.

Sore itu, kuharap segala pertanyaanku terjawab, tetapi nampaknya Mbahe menginginkan agar ku tetap berpikir. Lintasan waktu yang berkelebat tak kuhiraukan, sementara hewan capung hanya berputar-putar di halaman seperti hendak pulang.

“Semuanya berawal dari Abdul Le…ya..Abdul itulah awalnya, sebelum Yahya, Khalil maupun lainnya. Dan segera carilah pasangan itu lalu jadikan harianmu, maka engkaulah pelayannya dan hidupmu menjadi perpanjangan dari Rahman dan RahimNya.

Capung itu semakin berputar-putar, dalam hatinya hanya ingin pulang melalui segala kegelisahan pertanyaan hidup dan cinta.Dan capung itu adalah aku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s