Jaturampe

Beranda » 2011 » Desember

Monthly Archives: Desember 2011

Tembang Kematian untuk Lagu Anak!

wualahh..
Adakah pencipta lagu anak handal yang dimiliki bangsa sekarang ini? Dimana karya-karyanya terbilang abadi atawa tak lekang oleh zaman. jika pun ada, paling hanya nama-nama pengarang yang sudah akrab menemani masa kita beranjak dewasa to? Sebut saja, Pak Kasur, Bu Soed, Papa T Bob dan konco-konconya. Lalu generasi baru? kosong melompong bak sapi ompong? nol prutul- jare kancaku! Memang ada juga sih, meski karangannya kadang hanya bersifat musiman, atau kadang malah hanya dinikmati sebagian anak-anak orang kaya yang mampu menyekolahkannya pada sekolah musik yang bergengsi, dimana lagu tersebut sangat berdinamika dan terlalu angel-(basa jawane) untuk dinyanyikan anaknya orang biasa. Andai aku tlah dewasa..walah prut ah!
Sungguh, aku rindu pada orang-orang yang rela mendarma baktikan hidupnya pada dunia anak dengan mencipta lagu, bahkan kadang dengan keikhlasan yang luar biasa tak mencatatkan namanya pada tembang hasil olah pikir dan rasanya. Dirinya hanya cukup puas ketika lagu tersebut keluar dari mulut bocah-bocah kecil yang riang bernyanyi. Dirinya hanya cukup puas dengan melihat seorang anak yang terkekeh penuh cinta yang meruah, baik cinta pada hidup maupun dicintai oleh yang hidup. Dirinya hanya cukup puas menikmati tugas hidupnya pada kehidupan ini.
Sebut saja Menthog-Menthog, Jaranan, Kodhok ngorek, Serayu, Motor Muluk dll. Adakah yang tahu dengan pasti siapa pengarangnya?

Mungkin bukan aku satu-satu orang di negara ini yang tumbuh dan berkembang bersama lagu-lagu anak tersebut.

Mungkin bukan aku satu-satunya orang di negara ini yang berimaginasi bersama lagu-lagu anak tersebut.

Mungkin bukan aku satu-satunya orang di dunia ini yang tidak takut terhadap masa dewasa karena selalu dibuai oleh nada-nada biasa namun istimewa. melekat kuat!

Tapi bagaimana dengan Anak dan cucu kita nantinya? Walah Boh, ngelu..! Ayo Le, Mari kita nyanyikan tembang ini, biar wong-wong pinter itu masih disibukkan dengan hal-hal yang berbau ekonomi atau pasar, biar wong-wong pinter itu masih digelisahkan oleh hukum-hukum yang kadang samar, tapi untuk kita..hahaha..cukup bernyanyi dalam binar

Kupu kuwi tak incupe
mung abure ngewuhake
ngalor ngidul ngetan bali ngulon
mrana-mrene mung sak paran-paran
mbok yo menclok tak incupe…

Iklan

Situs Tertentu!

Bila gerak pikir malas bekerja
percik dari binar matamu deras menggoda
seperti ajak maut pelajar untuk cabut
megap-megap namun nikmat
ah..tetap kau buruanku..

Awas!

Pesta Sia atau Sial?

Nas..nas
aku tak ikut itu pesta sia
buat apa berdiri hak
meski duduk akhirnya tak bergerak

Nas..nas
kita terdiam
dalam bahasa konsep nir rasa
tak terpeta
pula tiada suara

Nas..nas
berhenti harapku dalam puisi
lha wong jongkit-jomplang?
mengangkang para tukang dagang
sementara..kita punyai nasib belang
atau…
semata plankton
samudra hindia bahkan kata-kata

Bunuh Diri? Siapa Takut!

Bunuh diri? Wah, untuk menuliskan kata ini saja ada sebuah ketakutan meskipun bukan ketakutan semacam melihat hantu atau melihat seorang gadis telanjang, hehehehe. Tapi anehnya, (percaya atau tidak – terserah) tahun-tahun ini, bunuh diri menjadi tren terutama di kota-kota besar, terlepas dari berbagai macam alasan dan makna untuk membunuh diri pribadi. Sebut saja Muhammad Syarif pelaku bom bunuh diri di Masjid Adz-Dzikra , Polsek Cirebon. Ia dengan Pede nya mengikatkan sebuah tas pinggang berisi bumbu dapur yang kemudian tiba-tiba Mak..Bleeeuung! Shaf jadi morak-marik, dan seorang berbadan gosong tergeletak dengan perut yang menganga. Sementara orang-orang juga menganga, tapi menganga mulutnya…O dan O! Lalu, kita juga dikejutkan oleh Ponnara Gojali, yang nekad ambyur dari jembatan. Sang Kakek ini bunuh diri bukan karena ia termasuk jaringan islam garis keras, namun ia merasa menemu jalanan hidup yang keras, dimana ia tidak mau membebani hidup sanak kadangnya, lalu mak byuuuur! Alamaaaak….dan tubuhnya pun mengambang, sementara orang yang melihat jasadnya juga mengambang pikirannya. Semudah itukah? Yang tak kalah menarik perhatian, siapa lagi kalau bukan Sondang Hutagalung Sang Mahasiswa jurusan hukum dari salah satu universitas di Indonesia. Ia nekad membakar diri yang berujung pada sebuah kematiannya. Sampai sekarang hanya satu pernyataan : entah! dan satu pertanyaan : Benarkah Ia meniatkan untuk bunuh diri ataukah ini bentuk kekurangsigapan masyarakat untuk mencegah niatnya? Namun apapun itu, media mencatatnya sebagai upaya/bentuk protes darinya terhadap kebijakan pemerintah.
Tiba-tiba aku ingat syairnya Aerosmith di dalam lagu yang berjudul Jaded, ada atau tidaknya hubungan dengan tema di atas aku kuranglah paham. Yang kutahu Rock n Roll adalah jalan kehidupan, hehehe….

J-J-Jaded
In all its misery it will always be what I love and hated
And maybe take a ride to the other side we’re thinkin’ of
You’re thinkin’ so complicated
I’ve had it all up to here
But it’s so overrated
Love and hate it
Wouldn’t trade it
Love Me Jaded
Hey
J-J-Jaded
There ain’t no “baby please” when I’m shootin’ the breeze with HER?
When everything you see is a blur
And ecstacy is what you prefer??

Martir lain yang tidak kalah tangguh adalah Mansur Husein Al Hallaj (salah seorang sufi keturunan Persia), Ya.. ia mempunyai pandangan berbeda dari “kenikmatan” bunuh diri. Ia meniatkan untuk membunuh diri yang beliau anggap penuh kekurangan, khilaf dan terbenam didalam lumpur dosa, kemudian beliau berusaha menghidupkan diri dengan melafalkan asma dan sifat Tuhan yang Maha Sempurna. Bersunyi dalam ruang dan waktu semata untuk mendawamkan keindahan dari Sang Kekasih..pujaannya.
Meski diakhir ajal ia diganjar oleh pemerintah, tapi saya kira itu tak lain hanya semacam permainan politik dari sang raja. Eh…salah Maha Raja? Supaya Roja’…hehehe

Nah, kembali pada pertanyaan judul di atas? Bunuh diri?siapa takut? Saya duga…hakikinya bukan pada rasa takut atau tidaknya, tetapi pada seberapa makna dari bunuh diri itu dan seberapa bermaknanya tafsiran hidup atau kehidupan manusia itu.

Salam Darussalam

Calon Politisi Kampung!

Biarlah aku tetap merunduk
di bawah berjuta kepala
yang tegak hormati itu bendera
sementara jejak kaki diri
pernah melangkah
jangan kau dudah

Biarlah sejarah tetap merekah
dalam bimbang dan banyak arah
bukankah kekacauannya pernah kulunasi
dengan banyaknya sumbang dana dan hitam ini peci?

Mengenai ijazah
stttssss…diamlah kawan!
usah kau turuti nafsu selidikmu
toh, hanya kugunakan ketika musim tanam tiba
beserta uang dan kiriman lainnya..
hehehe

Jadi, biarlah diri tetap menunduk
di antara tegak dada dan khidmat pacara
sementara buatmu, jangan risau
ada dalam lembar kertas angka dalam amplop biru!

Warna ini Pagi

Hiruplah Dik..
jamah segar angin pagi
resap dan lumat di sekujur tubuh
lalu..
hempas sesak dalam itu dada

meski sejenak
tengoklah..
hamparan ladang menunggu dirambah
bukan apa-apa
hanya sekedar penunjuk laku
bahwa
hidup tidaklah sekali jadi
ada banyak cinta dan benci yang harus dilewati