Jaturampe

Beranda » Jawa » Naskah Drama Anak (1)

Naskah Drama Anak (1)

Follow Jaturampe on WordPress.com

Stage 1

Di bangku sebuah taman kota, duduk gadis usia belasan tahun. Ia terlihat sibuk membuka beberapa buku pelajaran miliknya yang kucel -hampir sobek, sebentar-sebentar ia menoleh ke kanan,menengadah, lalu meremas rambutnya. Tak kurang dari lima belasan menit, tiba-tiba dihempaskannya buku pelajaran itu ke tanah, beberapa kali helaan napasnya terdengar panjang. Nampak ada gelisah mengisi benaknya. Sementara terik siang semakin menggenapi sejuta resah itu. Perlahan gadis itu melangkah kemudian memunguti bunga kamboja yang jatuh, lalu dipisahkan kelopaknya satu per satu dengan penuh perasaan. Bunga kamboja itu gugur untuk kedua kalinya.

Marni : “Kata orang bijak hidup adalah pilihan, tantangan yang hendak dan akan kita taklukkan, apakah nantinya kita menjadi pribadi yang terombang-ambing keadaan, ataukah pribadi yang diakhir laku menyisakan sebuah senyum, senyum kemenangan dari geliat hidup yang membahana. Tapi…akankah aku bisa melalui semua itu? sementara tubuhku tidaklah sesempurna orang lain, sementara roda nasib sepertinya enggan bergerak, hanya putaran kekal dari pulau derita ke pulau sengsara. Dan emak, emak hanyalah buruh kasar dari sebuah pabrik yang kelangsungannyapun tiada ajeg, hari ini masuk, minggu depan mungkin libur. Andaikata emak dikatakan berpenghasilan, paling uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari, hingga tentu saja pembayaran buku-buku LKS ini menantikan uluran tangan dari teman-temanku, atau belas kasih dari wali kelasku. Ah…inikah pilihan hidup? Atau benarkah ada pilihan hidup itu? Padahal sebelum menghembuskan napas akhir, ayahku yang hanya seorang buruh bangunan, beliau berpesan agar aku menjadi seorang yang berguna untuk keluarga, ibarat menjadi tonggak kukuh dari sebuah rumah yang dahulunya reot, ah… itu berarti aku harus menjadi seorang yang pintar dan kaya. Kaya…dimanakah wajah angkuhmu, pintar dimanakah ku cari dirimu?”

Melintas rombongan anak SMA baru saja pulang sekolah. Dua dari lima rombongan itu sedang memainkan handphone Blackberrynya, sementara sisanya, asyik mengobrolkan sesuatu hal yang tak jelas. Nampak, rombongan itu tidak memperhatikan keberadaan Marni. Sementara Marni hanya menatap keriangan rombongan itu serupa gelandangan menatap lezat dan renyah ayam fried chicken dari balik kaca etalase pertokoan.

Gadis 1 : “Huft…, sungguh gila Gals! Masak Si Randy memutuskanku via Fewbie semalam coba?Apa die kagak mikir, gue kan malahan bahagia. Ini kan berarti guee..guee bisa cari pacar lagee..coba. Apa dikiranya dunia gue bakal runtuh?hahahaha…” (tertawa berkepanjangan)
Gadis 2 : ”Hm..emm” (asyik memainkan facebook lewat HP)
Gadis 1 : “Eh…rambut gue bagus nggak?”
Gadis 2 : “Hm..emm” (masih asyik memainkan facebook lewat HP)
Gadis 3 : “Emang bis dari nyalon ya, Bel? Menikyur pedikyur sembari kukyur kukyur, Ih…narsis kaleee.”
Gadis 1 : “Ya…iyalah Bok, emang uang dari babe buat ngapain kalau bukan buat beginian coba? hahahaha…” (tertawa berkepanjangan) iya kan, Ruth?
Gadis 2 : “Hm..emm” (masih asyik memainkan facebook lewat HP, kemudian membuka tas dan mengeluarkan MacD dan sebotol Fanta merah)
Gadis 1 : “Eh Rud, Lu sedang ngapain seh? Nulis status ya?
Gadis 2 : “Iya Bel, ini gue sedang bercakap dengan bokap yang sekarang sedang di Aussie, Bokap menanyakan kiriman Laptop Apple sebagai hadiah ultah gue kemarin sudah kuterima atau belum, hehehe…”
Gadis 1 : “Jie..jei..jie, apel krowak nih, pantas dari tadi kuajak bicara hanya ha..he ha..he ha..he …saja, selamat ya Rud.”
Gadis 2 : “Ok, thank’s Bel…(sembari meneguk kembali Fanta merahnya)

Marni hanya menelan ludah meski barangkali air liurnya sudah habis sedari tadi. Panas matahari masih menyengat, meski jam yang menempel di tugu taman sudah menunjukkan pukul dua. Perginya rombongan anak SMA itu semakin menambah kepeningan di kepala Marni. Dalam hati Marni, muncul ketidakpercayaannya pada malaikat pembagi rejeki. Maka hal itu hendak ditanyakan pada Pak San nanti sore. Ya…hanya Pak San lah segala muara tanya akan berlabuh. Hanya pada Pak San, gelisah batin Marni akan tenang. Sebab, Sosok guru SDnya itu masih menghuni relung-relung batin Marni, meski ia telah masuk gerbang SMP dua tahun yang lalu.
Stage 2
Diketuklah pintu rumah itu. Pintu berwarna coklat kusam yang diyakini Marni, tidak berwarna kusam lima tahun lalu. Masih belum ada jawaban dari dalam rumah. Kembali Marni mengetuk. Dilembutkan salamnya berulang-ulang. Marni ingat dulu di rumah inilah Pak San membimbingnya dengan penuh kesabaran. Mengajarinya berbagai hal, baik pelajaran sekolah maupun petuah-petuah hidup. Di sinilah Marni mampu bersaing secara positif dengan teman-temannya yang dileskan orang tua masing-masing di lembaga bimbingan belajar terkenal. Hingga lewat tangan dingin Pak San dan gelegak semangat Marni, ia menduduki peringkat pertama di kabupaten. Masih belum ada jawaban. Terlihat gerak burung gereja hinggap di pelataran. Burung itu menatap Marni yang masih ngunggun menunggu pintu. Sejenak burung gereja itu pun pergi.

Pak San : “Siapa?”
Marni : “Marni Pak, Gadis pinggir kali putra Hasan Ali”
Pak San : “Oiiii…Marni tumben, angin apa yang membawamu kemari, Marni, bapak kira kamu sudah lupa pada bapak, hahaha…mari mari…masuk, wah sayangnya Si Yuni ikut mbakyunya ke Semarang kemarin, Mar. Kalau tidak tentu Ia senang, lha wong kedatanganmu memang Ia nantikan je.”

Tanggapan Pak San masih sama, hangat dan penuh kasih. Yuni adalah putri kedua Pak San, yang usianya memang hampir sebaya dengan Marni. Dipandanginya ruang tamu itu. Di sebelah pojok kanan poster burung garuda presiden juga wakilnya. Di sebelah kiri ada gambar lukisan pedesanan yang terlihat asri, sementara di sampingnya, tulisan arab dan bulus yang sudah diawetkan. Tata letak ruang tamu itu masihlah sama ketika Marni setiap hari belajar pelajaran tambahan di rumah Pak San. Sungguh, Marni tidaklah lupa pada jasa Pak San dan keluarganya, hanya ia terlalu malu bahwa banyak jasa-jasa keluarga Pak San pada keluarga Marni karena hingga sampai sekarangpun masih dan belum sanggup Marni membalasnya. Bahkan sampai di akhir hidup Bu San, Marni hanya baru sempat mengucapkan terimakasih kepada Bu San.

Pak San : “ Ada apa Mar, bapak lihat wajahpun tidaklah berseri seperti biasanya, adakah sesuatu hal yang bisa bapak bantu, ayolah…ceritakan kepada bapak, engkau ini sudah bapak anggap sebagai bagian dari keluarga bapak. “
Marni : “ E..e..(tenggorokannya tercekat, ada selaksa gulana menggumpal di dalamnya)
Pak San : “ Ada apa Mar, hayo katakan saja…jangan malu. Apakah ibumu mempunyai kesulitan di dalam hal yang berhubungan dengan biaya sekolahmu? (Pak San terdengar sangat berhati-hati untuk bertanya hal itu)
Marni : “ Bukan Pak, ee…bukan masalah itu. Masalah ini hanyalah bermula di diri dan pikiran saya pribadi kok Pak, bahkan Ibupun tidak tahu kalau saya sowan ke sini.”
Pak San : “ Wah, masalah apa itu? O.., apapun masalah yang kau hadapi, tetapi jika kau keluar rumah biasakan pamit pada ibumu, Marni!
Marni : “ Inggih Pak, ee…begini Pak (dihelanya napas panjang sebelum ia bercerita)

Lalu mengalirlah cerita Marni serupa hujan pertama bulan Desember. Segala beban dan kepenatan dalam dadanya, ia tumpah. Mulai dari harapan-harapannya, juga harapan dari mendiang ayah dan ibunya. Mulai dari ketakutan-ketakutannya, juga ketakutan dari mendiang ayah dan ibunya. Pak San tampak berkonsentrasi ketika mendengar cerita Marni, sesekali beliau mengangguk, tersenyum, merenung kemudian menatap Marni dalam-dalam. Bersama dentang jam lima kali di dinding rumah Pak San, Airmata Marni menetes deras di pipi.

Pak San : “ Itulah hidup dan lika-likunya Mar, Bapak harap engkau tetap tabah dan sabar. Oh ya, tahukan engkau pada K.H. Agus Salim, Mar?”
Marni : (sambil menyeka tetes airmatanya) “Iya..pak. “
Pak San : “Tahukah engkau kisah hidupnya? tahukah engkau langkah-langkahnya dalam menghadapi persoalan hidup?”
Marni : (masih menyeka airmatanya) “belum Pak.”
Pak San : “Kyai Haji Agus Salim adalah orang yang luar biasa hebat, Mar. Beliau dikenal sebagai seorang diplomat, sastrawan, orator ulung dan juga ulama yang sangat mendalam ilmu agamanya. Tahukah engkau, Mar, kyai ini mengusai secara aktif tujuh asing yakni bahasa Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Bahkan Proklamator republik ini pun mengaku pernah meguru pula sangat hormat kepada beliau, Mar. Suatu waktu, K.H Agus Salim pernah berharap pada Pemerintahan Belanda untuk mengabulkan permohonan beasiswa agar ia bisa meneruskan cita-citanya masuk sekolah kedokteran. Rupanya Pemerintah tak mengabulkannya. Hingga seorang tokoh terkenal lainnya, yakni Raden Ajeng Kartini, karena tahu akan kepandaian Kyai Agus Salim, mengirimkan surat pada noni-noni Belanda kenalan yang juga sahabat karibnya, agar beasiswa yang semestinya untuk dirinya (RA. Kartini) dilimpahkan pada Kyai Agus Salim ini. Pemerintah akhirnya setuju, namun, Agus Salim menolak. Dia beranggapan pemberian itu karena usul orang lain, bukan karena penghargaan atas kecerdasan dan jerih payahnya. Salim tersinggung dengan sikap pemerintah yang diskriminatif. Kemudian Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Di sana, dia memperdalam ilmu agama Islam pada Syech Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram yang juga pamannya, serta mempelajari diplomasi. Hingga di kemudian hari beliau di kenal sebagai singa yang pandai menyusun kata, tegas dalam bersikap, sederhana dalam hidup, serta dalam ilmu agama.”
Marni : “Tapi kyai ini kan tidak miskin dan cacat kaki seperti Marni, Pak?”
Pak San : “Ha…ha, Marni..Marni, semua manusia itu sama di sisi Tuhan, tiada ada kaya dan miskin, yang dilihat Tuhan adalah sisi kebermanfaatan hidupnya untuk kehidupan ini. Yah, memang dalam hidup ini, tidaklah semua keinginan kita kan terpenuhi, ada saja bagian yang kurang, namun pasti ada juga bagian kita yang lebih. Engkau dianugerahi kecerdasan oleh Tuhan, jauh di atas rata-rata anak seusiamu, meskipun ada juga kekurangan fisikmu. Namun itu bukan kendala untukmu berbuat kebaikan pada hidup dan kehidupan ini kan? Engkau mungkin masih ingat cerita sejarah yang pernah bapak ceritakan yakni, Jendral Sudirman. Jendral Sudirman itu dalam keadaan sakit paru-paru yang sangat parah, ketika berjuang melawan penjajah, Marni, hingga banyak tentara Belanda dan Jepang gentar melawan sepak terjangnya.”
Marni : “ Lalu apa yang bisa Marni Lakukan, Pak San?”
Pak San : “Belajar dan tirulah semangat belajar para pahlawan-pahlawan republik ini, Mar! Pak Karno, Pak Hatta, Tan Malaka, Syahrir juga tokoh lainnya, mereka itu kemana-mana membawa dan membaca buku meski dalam masa pengasingan. Tak peduli malam atau siang, entah itu penjara Suka Miskin, sunyinya Boven Digul ataupun dingin dinding penjara-penjara lain. Tirulah sifat pantang menyerah, kedisiplinan dan bagaimana pahlawan itu menghargai waktu. Juga, tirulah sifat tabah menghadapi dera dan cobaan hidup, Mar, sebab dalam hidup itu pasti ada perjuangan yang harus dilalui oleh siapapun. Barangsiapa orang yang melewati cobaan itu dengan penuh keikhlasan dan ketabahan, bila roda nasibnya berubah maka orang-orang itu pasti bertambah rasa syukurnya kepada Tuhan, dan biasanya, ia masih mengingat masa sulit itu hingga tumbuh niatannya untuk membantu tetangga atau siapapun yang membutuhkan bantuannya.”

Meski rembang petang datang membayang, namun hati Marni seperti ada jutaan pijar lampu. Mendadak segala ketakutan-ketakutannya lenyap, menguap bersama akhir pitutur dari guru tercintanya.

Jawa, 30 Okt 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s