Jaturampe

Beranda » 2012 » Mei

Monthly Archives: Mei 2012

Pakdhe Beno, Lik Sukro dan Lady Gaga!

“Sedih rasanya, Lik? lha wis Lady Gaga gak jadi manggung di Jakarta, re! bukan sebab daku mengikuti perjalanan gadis kontroversial ini, namun lebih kepada alasan-alasan yang dimunculkannya.”kata Pakdhe Beno.

“Wuaa Lhah, berarti sampeyan penjunjung tinggi norma kebebasan pornografi tah piye, Lik? atau sampeyan malah salah satu pemuja setan dan menjadi litel monster alias monster cilikan? jerit Lik Sukro setengah tercekik kerongkongannya.

Cemungut sapi, hayah! ora-ora iku, Lik! sanggah Pakdhe

“Lha banjur opo petuahmu, ra mung angger nggagap yo”? bantah Lik Sukro setengah adem

Sebenarnya daku hanya kaku melihat tiba-tiba rakyat yang mewakili kelompok tertentu menjadi lebih suci dibanding kesucian, tiba-tiba rakyat menjadi lupa pada luka-lukanya rekening gendhut, sisi Harmoni, lupa kegaduhan korupsi, lupa pada luka-luka goyang erotis pertunjukan kampung yang seringkali ditonton nak-anak, lupa pada luka-luka budaya tradisi gagap diperjuangkan, lupa pada alasan-alasan Puteri Indonesia, welehhhh prekoncong waru ndoyong!” bantah Pakdhe Beno

“Bull, omonganmu gobal-gabul kaya kitiran, mencla-mencle kokean lombok mrutu, Iki lho aku, generasi anyar kang tumitis saka lemah padang pasir, salah sitik gebok, melenceng saka agama gampar sisan, halahhh.., tembelek wedhus!” gerutu Lik Sukro

“Sak omong-omongmu, wes!

#Tersiar khabar di kamar Lik Sukro ditemukan puluhan kaset CD Kylie Minogue pula Madonna ketika di rumahnya ada acara bedah rumah, video bajakan lagee..#

grompyangggg…cepitna lawang!

Iklan

Puisi Rindu untuk S.R. Wijaya

Sebenarnya hanya ada beberapa alasan bagi saya untuk menyukai Kompasiana. Yup, selain adanya Sang Dewa Bujuk-Pikir (EA-Erianto Anas) juga ada seorang lagi yang membujuk saya untuk merubah hitam rutinitas menjadi semburat warna biru. Ya siapa lagi selain Dewa Puisi&Fiksi -menurut saya lho, Lik!- Dia ialah…Danny alias S.R Wijaya.

Ya, mas-mas inilah yang menjadikan Kompasiana bagi saya adalah hunian yang terang benderang. Satu mengajakku untuk memeras pikir hingga lumat sementara satunya lagi membuatku berimaginasi dalam alam antah. Kadang surga, hujan, kenangan, maupun alam kematian (tapi yang jelas tulisannya berbonus lagu-lagu klasik lho!). Hehehe…ini serupa cita-cita kecil dunia pendidikan ya? Satu sisi otak kiri, sementara sisi lainnya adalah otak kanan. Sungguh kehidupan yang bulat penuh –waktu itu.

Ah..ini malam tiba-tiba diri menjadi rindu tulisan-tulisannya mas S.R Wijaya, Sampeyan kangen apa ora, Lik?

Sebuah karya S.R Wijaya tentang Ibu, Sir yang Sederhana, Hmm…indah sekali bukan? jarang sekali lho, ada penulis yang begitu indah menuliskan cerita mengenai sosok ibu- benar bukan? Paling-paling hanya satu atau dua paragraf kemudian ambruk dan berapologi ” Kasih kita pada Ibu, lebih baik kita wujudkan dalam perbuatan nyata”! Bwehhehehe…cuing! Tapi ditangan beliau..inilah: sihir kata yang bicara..

Atau tentang undangan kematiannya yang mengagetkan banyak kompasianer waktu itu? Hehehe, aseeeem, kreatif banget, Lik! Tulisan yang benar-benar hasil perenungan yang matang. Ini adalah sepenggal dari Pamit Pejahnya (Saya tak hendak pura-pura merendah. Saya memang manusia tak penting yang belum bisa berdaya guna bagi orang banyak. Kerjanya hanya menyampahi bumi, hidup di menara gading yang sombong sembari membenar-benarkan diri melulu saban menyakiti makhluk lain. Dosa saya menggunung sekali. Karena itu saya menuliskan surat perpisahan ini, Saudara-saudariku—Pada saat Saudara-saudari membaca surat ini abu tubuh saya mungkin telah terapung-apung dan terbenam ke segenap penjuru sesuai permintaan terakhir saya untuk diperabukan dan dilarung di keluasan-kebiruan Pasifik. Janggal, memang. Namun saya mencintai samudera itu entah mengapa. Mungkin pada inkarnasi lampau saya seekor lumba-lumba. Lambaikanlah tangan jika Saudara-saudari terbang melintas. Saya akan bersyukur sekali bila serpih halus tubuh saya nun jauh di bawah sana bisa mengingatkan Saudara-saudari akan isyarat kesementaraan. Silakan menziarahi perairan mana pun dalam hidrosfer tunggal ini. Semua samudera dunia saling bertaut menjadi bejana raya yang memang bertugas mengurai sisa-sisa kematian.) Tulisanmu campur kenthir, ya,Lik!hahaha…

Buih…sangat menginspirasi!

Lelaki yang kian menua itu kini berjalan seperti biasa dan menampik segala gelombang deras. Menganggap kenangan layaknya sirkus. Telah diyakinkannya diri bahwa setiap langkah tertempuh bukan menggerakkan tubuhnya ke ufuk lepas. Melainkan justru bulatan bumi yang bergulir mundur oleh kakinya. Seperti akrobat di atas bola.

Tapi, kemana ya perginya Mas Danny (S.R. Wijaya) atau jangan-jangan pejah beneran?Whooiii, aku kangen tulisane sampeyan, Mas!

Untuk Lelaki yang Ditunggu Sepi

Tapi rintihmu harus punya rumah, sobat
sebab sayap adalah piranti melawan tirani
meski lara hendak melarat
tapi
harap jangan terlambat

Kau: jangan berhenti
meski perempatan atau kecil kelokan

Sebab kau dilahirkan bukan untuk mengeluh
dan nubuat untukmu adalah kepastian
seperti datang malam berdamping temaram

kita tak sempat untuk kembali pada masa remaja
sejarah bersisihan tak bersentuhan
karena aku dan dirimu adalah anak-anak Timur
dimana
tak ada kuasa untuk hentikan laju bagaskara
kecuali awan merana

Getty Images

Sarang

memar karena gemar
sibuk namun tak mau remuk
hati yang tak mau risau akhiri ini pasi
sebab,
banyak kuasa berakhir lewat puisi

Sarang madu banyak diserbu
Sarang hantu enggan diganggu

Pilihlah badan:

seperti mereka atau asli dirimu!