Jaturampe

Beranda » 2012 » Juli

Monthly Archives: Juli 2012

Petuah Paling Keren Tahun 2012!

Kalimat SeksiNya :

> Tanyailah hati nuranimu dan engkau akan mendengarkan perintah rahasia Allah melalui pengetahuan yang ada di hati nurani
> Yang terkecil dari ilmu kedekatan adalah jika anda melihat di dalam sesuatu adanya kehadiranKu dan pandangan batinmu akan menunjuk?menuntun ketimbang pengetahuan tentangKu
> Orang yang berpikir lebih baik tentang Aku, yakni di mana hambaKu berpikir tentang Aku, maka Aku ada di sana..

Kutemukan kata-kata ini dari balik lapuk buku tua,
dan entah mengapa
tarikannya melenakan diri
agar tetap melamun pada apapun ujung pangkal pun tiada ujung pangkal.
Oh, Rahim
Oh, Ya Sin
selimutilah aku dengan
kerudung keselamatanmu..

Iklan

Kisah Tabib Brozzie dan Meterannya!

Tabib Brozzie memulai hari penyembuhan dengan meteran baru. Meteran warna merah itu khusus dibelinya dari Pulau Kulon. Ya..dengan bekal itu barang dan bara semangat ia ukuri setiap inci tubuh pasiennya. Ada sebuah ukuran dimana ia percayai mampu sembuhkan berbagai macam penyakit, dari kudis, kurap, panu koreng, pula penyakit kuno yang melanda masyarakat desanya.

Sang Tabib ini tiada peduli, meski banyak yang mengatakan bahwa ia kurang cocok tinggal di desa ini, mungkin karena cara pengobatan dari tabib terbilang nyeleneh. Bayangkan, Ia hanya memukul-mukulkan meteran pada pasien, mencabuti bulu-bulu hidung kemudian, Ia hembuskan mantra berbahasa asing –khas bahasa padang pasir.. Ya.. asing dan mantra janggal untuk ukuran penduduk desa yang hanya mengenal bahasa Jawa, tapi yang jadi janggalan bagi penduduk kampung adalah banyaknya umpatan Sang Tabib terhadap para penyembuh lain, entah itu dukun, suster, dokter yang tidak segaris metode penyembuhannya.

“Hmm…mereka terlalu lancang dan melenceng dari kaidah dan kode etik sebagai seorang penyembuh,Man! penduduk kampung harus dan hanya bisa disembuhkan dengan cara ini, sebab ini cara banyak jadi rujukan para datu-datu bahkan dapat restu dari Sang Juru Penyembuh!” ujar Tabib Brozzie berapi-api

“Lha wong dokter dan dukun lain kan mempunyai cara berbeda untuk mengatasi berbagai macam penyakit, Bib, lagian setiap disiplin ilmu yang di dapat dan penerapan juga boleh berbeda, to?,” kata Lik Dirman.

“Walah masa bodoh lah, mereka layak untuk diumpat, hahaha, kalaupun mereka ngeyel dan tidak terima, Hmm…barangkali pentungan membuat jiwa mereka menjadi kerdil!” ..!” jawab Sang Tabib

Lalu..
meteran dan pentungan miliknya
jadi bahasa kesopanan
televisi, radio bahkan koran

dan penduduk masih memaklumi, karena Lurah setengah diam, dan Pak Hansip masih merenungi nasib.

Birokrasi Negeri Bokir!

Akhirnya
kami harus membiasakan diri untuk menatap
Pada setiap ujung kerling mata
Lalu memutuskan
mendiamkan atau meresapi

derap langkah kuda semangat: mengerdil
jadi kristal kecil
dan tualang
tak lagi kuat tulang

biar bagaimanapun
struktur adalah bongkahan batu
yang tetap dan terus diharap
retak
nir gertak

bahasa pelayanan bukan kekuasaan

Akhirnya
kami harus membiasakan diri untuk jeli
Pada setiap ujung kerling mata
Lalu memutuskan
untuk mendiamkan atau melawan

Aransemen Lagu Cicak Versi Baru!

Jika seorang Tohpati, Oni, Yovie Widianto, maupun yang sekelas Erwin Gutawa mengaransemen sebuah lagu dan berhasil menjadi satu lagu yang bagus, maka komentar dari pendengar adalah..sip Mas, lagunya tambah enak dan sangat keren, utamanya jika sang pemuji itu berasal dari Semarang, maka kata yang keluar kurang lebih begini, wuedan ik, hiss tek’e.., atau asyem tenan!, kemudian mereka berdiri untuk menggenapkan ucapannya tersebut. Bravo! (Lho, kok malah bravo RC dudu Honda, ya?)

Jika seorang bocah kurang lebih berusia dua setengah s.d. tiga tahun mengaransemen lagu dan syair dari salah satu lagu anak, maka yang terdengar hanya decak kagum dari orang tua sendiri, yang tentu saja hal tersebut tidak bakalan terdengar radio atau televisi, yah..kecuali ortunya itu salah seorang konglemerat, bankir, atau seorang koruptor hehehe…

Nah, agar kekehan riang dari salah satu orang tua tersebut menjadi sebuah tulisan dan dapat dibaca oleh warga dunia (emange dunia bul-bul?) Maka kutulislah kisah ini..

# Hari Pertama
(Do=C)

Cicak cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hup…lalu ditangkap

# Hari Kedua
(Do=C)

Cicak cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hup…lalu ditangkap

Tikus-tikus di genteng
Kenapa berisik sekali
De Juan mau bobok
Whoii..pergilah sana

# Hari Kesekian
(Do=C)

Cicak cicak di dinding
Diam-diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hup…lalu di pantat (wualah Mak!)

Hehe..begitulah kebahagian keluarga, mendengar dendang aransemen pula syair dari mulut kecil seorang anak yang masihlah belum tahu makna dari lantunannya itu. Sssttt… hal ini merupakan obat mujarab untuk berbagai macam rutinitas kantor yang kadang menjengkelkan lho, benar kan? Bagaimana dengan putra/putri anda?

Rindu Kuat Seorang Demontran


musim bunga randu ini tiba-tiba mengingatkanku pada dirimu: kawan
derai pohon mindi pula jernih itu telaga
jadikan kita buah kesatuan
sulit digoyahkan

mana batuan hitam
mana fakta kekejaman
sanggupkah hadapi
bulat tekad ini
dimana
aku sebuah posisi
engkau lain posisi

musim bunga randu ini tiba-tiba mengingatkanku pada dirimu: kawan
ternyata..
kita harus berkompromi
pada salah satu keadaan

Pekok dan Gobloknya Diri!

“Jika aku menuju ke Barat maka Timur kutinggalkan. Jika aku berjalan ke Timur, Barat kujauhi. Utara dan Selatan sama saja”
Titik

Lulus dari pendidikan tinggi
Anak saudagar dan menteri
Sifat: Jeli dan berani
Pandang buah kesempatan
Berbekal wibawa warisan
Berkata..keynes moyang seksi,
siapkan barisan, biar ruwet sekalian!

“Jika aku menuju ke Barat maka Timur kutinggalkan. Jika aku berjalan ke Timur, Barat kujauhi. Utara dan Selatan sama saja”
Mandheglah!

Pada sebuah perbincangan
Politisi gencar berjanji
harapan hidup bermakna
mimpi-mimpi mereka
akan
Tiap gelas terisi sama

Di pelosok desa
Anak-anak petani
lulus pendidikan dasar
melagukan Maju Tak Gentar
empat sampai lima putar
sawah kering butuh dari sekedar: doa

“Jika aku menuju ke Barat maka Timur kutinggalkan. Jika aku berjalan ke Timur, Barat kujauhi. Utara dan Selatan sama saja”
Berhentilah
Lihat kanan kiri

Kemana arah ini negeri
Berputar-putar
Bingung jatidiri
Lupa seni
Bingung budaya
Lumbung padi limbung

Terbukti : Tuhan,seni budaya, ekonomi
kata enak untuk diperbincangkan
Sebatas perbicangan!

Pak Pos, Arimbi Bimoseno: Tuhan Maha Baik!

Pos..pos!”
suara datang dari halaman depan rumah.
“Wuih, pada siapa nih Pak Pos akan membagikan rejeki,” bisikku dalam hati. Kerinduan akan suara Pak Pos menjelma jadi berbagai kilatan peristiwa lampau seperti menonton film yang lakonnya adalah figur tentang Santa Klaus yang membagikan entah boneka, permen ataupun jajanan. Dan benar saja, Pak Pos adalah sahabat yang baik bagi anak, remaja yang menunggu balasan surat rindu dari kekasih maupun seorang penganggur yang menunggu surat panggilan kerja.
“Pos..pos!”
“Iya Pak, sebentar!” sahutku buru-buru sembari membuka pintu. Hmm..wajah pengantar itu belumlah tua, berkisar usia limapuluh tahunan.
“Anu Mas, ini benar rumahnya Budi?”
“Inggih Pak, saya sendiri..wonten punapa, nggih?” tanyaku deg-degan.
“ini ada kiriman untuk sampeyan, kelihatannya berupa buku, dan tolong tanda-tangani di sebelah sini!” tukas Pak Pos.
Kuambil paket kiriman itu, sambil kutanda-tangani buku laporan miliknya. Pagi menjelang siang, hati membentuk bayang-bayang pertanyaan.
“Siapa Bud?” merdu suara ibuku terdengar dari dalam kamar
“E, Pak Pos..Buk, ini mengantar paket kiriman!” jawabku, “terima kasih Pak,”ucapku beralih pandang pada Santa Klaus nyata ini.
“Ya, sama-sama Mas, saya langsung mohon diri, ini mengantarkan surat di Desa Sebelah,” Katanya
“O, inggih Pak, monggo! Jawabku.
Terdengar suara raungan gas dari motornya, dan kelebat bentuknya menghilang ditelan tikungan jalan sebelah rumah.

Kertas sampul putih, bertuliskan alamat rumahku. “Dari siapa ini, ya?” bisik hatiku. Secepat serdadu Jepang menyerang Pearl Habour, segera kubuka sampul itu. Eng..ing…eng, heits…sebuah buku bersampul putih, dengan judul “Karma (Cermin Kehidupan dan Pengukur Diri) Cepat Datangnya” karangan dari Arimbi Bimoseno.
“Kiriman saka sapa, bud?” suara Ibu mendekat tidaklah sejauh jarak Anyer-Panarukan
(heleh, apa hubungane iki, he he)
“Menika, buku kiriman saking Mbak Arimbi, Buk, rencang saking ngeblog wonten Kompasiana” jawabku

“Arimbi Bimosena? lho bukankah Arimbi adalah sebuah nama dan kisah pewayangan tentang ketulusan? Ya.. Ketulusan terhadap sesuatu yang dipercayai, ketulusan pada sesuatu yang dicintainya, dan Arimbi sendiri adalah wujud dari ketulusan itu, Le! Ia adalah seorang raseksi yang sangat mencintai Bima, lalu lewat doa Kunti Ibu dari Bima, Arimbi menjelma menjadi menjadi wajah yang cantik secantik hatinya, dan lewat rahimnya, Sang Jabang Tetuka –Gatutkaca- Lahir, Le!” cerita Ibuku. (Hehehe, ibuku memang hobi untuk bercerita, setiap hal apapun akan dihubungkannya dengan bermacam peristiwa yang diketahuinya)

Lan tanaalul birra hatta tunfiquu mimmaa tuhibbun..
Bahwa..Engkau tidak akan pernah mencapai kebahagian (yang sempurna) hingga engkau mampu mengorbankan hal yang terbaik dari yang engkau miliki, dan temanmu itu sedang menjalankan ayat tersebut, Ya, Ia memiliki ketulusan persahabatan, dan semoga Tuhan senantiasa memberikan kebaikan kepadanya, Bud!” Ibu melanjutkan petuahnya
“Nggih, Buk,” jawabku lirih..
Pak Pos, Arimbi Bimoseno: Terima Kasih!