Jaturampe

Beranda » 2012 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2012

Bimbang

Panggung itu jadi ruang bisu
Saksi para penyaksi: Letih
Zaman tidak akan berubah
Meski guncangan ada meruah

Ruang itu jadi panggung bisu
Saksi para penyaksi: tak jemu
Zaman akan menggeliat
Asal ada hati
Awal ada raung
Kekal jangan amarah

Aku pernah di ruang
Sering pula di panggung
Menjadi sisi bukan saksi
Kadang merah hendak kalah
Kadang biru terkubur rindu

Ir. Soekarno dan Diriku

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya,
Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

Pertanyaan saya Pak, saat engkau memimpin seribuan orang tua untuk mencabut semeru dari akarnya dimanakah para pemudanya? Dan saat engkau memimpin sepuluh orang pemuda untuk mengguncang dunia dimanakah para orang tuanya, Pak?
“Hmm..saat mencabut akar semeru, pemuda kuharapkan akan menatap dan mencermati peristiwa yang berlangsung untuk kemudian meniru tata cara dan menerapkannya entah pada suatu masa, saat kuguncang dunia bersama sepuluh pemuda, kuharapkan tetua-tetua tersebut menyemangati dari belakang dan kemudian memberikan sebentuk pangestu pada jiwa-jiwa merdeka”

Tapi Pak?

Tapi apa, Dik?

Tapi apakah hal tersebut berlaku juga untuk 64 tahun kemudian?

Hmm…aku tidak tahu, Dik, semua tergantung pada api revolusi pula gerak matahari dan bumi, lha..bagaimana pendapatmu, Dik?

Hehehe, kuat dugaan saya, enampuluh empat tahun lagi generasi tua hanya berkutat pada hasil lupa proses, hanya ingat yang dipimpin tetapi jarang ingat jatidiri memimpin. Luput. bukan semeru yang terpegang seringkali gunung kembar beserta akar jadi penggoda. Mereka akan berkerudung pada Handphone, lupa punya kaki, memerintah dan memerintah, dengan bahasa : harus! Karena loyalitas berbanding lurus dengan revolusi –katanya. Sedang para pemudanya, asyik bertarung ria, mengejar keras impian di jalanan, menusuk atau ditusuk, karena di ruang kelas mimpi kreativitas tak berbekas, hanya berkutat: Nilai-nilai nir proses, nilai numerik bukan nilai usaha. Dan lagi, kemutakhiran peradaban justru berujung pada lorong penghambaan raga modern yang amburadul, salah-salah menjadi domba globalisasi.

Aduh, Dik, begitukah?

Tapi itu masih pendapat saya, Mister?

Ataukah harus kutambahi kata-kataku ya, Dik?

Sumonggo, memangnya kan ditambahi apa?hehehe, kalau boleh tahu, Mister?

Begini:
“Beri aku 1.000 orang tua (-untuk orang-orang tua yang mempunyai kesadaran-), bahwa engkau adalah pemimpin maka kau harus tahu bagaimana memimpin) niscaya akan kucabut semeru dari akarnya,
Beri aku 10 pemuda (untuk orang-orang muda yang mempunyai kesadaran) bahwa engkau harus berani terus belajar, niscaya akan kuguncangkan dunia”

Hehehe…