Jaturampe

Beranda » 2013

Yearly Archives: 2013

Seni itu Investasi, Lik!

Pentas Di Gabus Pati

Komunitas Sang Swara Pentas Di Gabus Pati

Sudahkah kita tahu bahwa penggunaan otak kanan dan kiri secara seimbang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, imaginasi, berasa dan berbahasa? Atau selama ini justru otak kiri yang diberdayakan? Sungguh, jika aktivitas kedua otak berpadu dan bekerja sama hasilnya sungguh dahsyat. Lalu bagaimana membedakan kerja kedua otak ini? Semisal kita berada di halaman kemudian menatap dan berucap, Oh, pohon mangga itu sangat rindang, daunnya hijau tua, dan tumbuh pada tanah yang amat subur. Kemampuan memeri, menggeneralisasi, dan menganalisa adalah tugas otak kanan, sementara diksi dan susunan kata yang keluar merupakan kerja dari otak kiri.

Seni  sebagai salah satu hasil budaya , tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Benar saja, mulai dalam kandungan, lantunan nada,  doa kerap diperdengarkan pada diri Jabang Bayi. Masihkah terekam dalam benak satu cerita anak, lengkap dengan intonasi, lafal dan mimik, tatkala Ibu guru bersemangat mendongeng? Tapi apakah ini bagian dari seni? Lalu apakah seni itu penting? Adakah hubungan antara seni, otak kanan dan pendidikan?

Secara sederhana, seni adalah  bentuk ide-ide kreatif hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diekspresikan sehingga menumbuhkan perasaan indah bagi yang melihat, mendengar dan merasakan. Dari definisi ini, kreatif & imaginatif menjadi unsur utama. Ini modal penting bagi hidup dan kehidupan. Sering kali kreativitas dihubungkan dengan kemampuan seseorang didalam memecahkan masalah dan mencipta barang baru. Jika  imaginasi jadi ubarampe, maka wujud olahannya bernama kreativitas.

Tidak dimungkiri, untuk hal-hal tertentu kita mesti belajar dari negeri Jepang dan China. Dimana  di negara-negara tersebut banyak orang kreatif yang mampu memproduksi bermacam barang bahkan mendominasi di negara lainnya. Menjadi pertanyaan, bagaimana Jepang dan China mampu mencetak generasi kreatif secara ‘besar-besaran’? Adakah hal yang salah dengan kita? Memang, di Indonesia banyak pula orang kreatif, tapi apa yang menjadi pembeda antara kita dengan orang Jepang utamanya dalam bidang kreativitas secara besar-besaran? Barangkali jawabnya adalah pemaksimalan otak kanan, mendidik melalui seni maupun pendidikan seni.

Di negara maju, ada kecenderungan, mata pelajaran yang memaksimalkan kreativitas mendapat perhatian lebih dibanding mata pelajaran lainnya. Dalam seminggu porsi penyajiannya antara 2-4 jam pelajaran untuk tiap cabang seni. Mereka sadar betul akan makna kreativitas bagi keberlangsungan dan pertumbuhan negaranya. Di Indonesia, seni terintegrasi dalam mata pelajaran SBK dimana ada 2-4 jam pelajaran tiap minggunya, meliputi seni  tari, seni musik, seni lukis, sedang puisi dan drama menyatu di mata pelajaran bahasa.

Salah satu standar kompetensi Bahasa Indonesia di sekolah dasar, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Pemahaman cerita dan teks drama anak yang dilisankan mulai diperkenalkan semenjak  peserta didik berada di kelas tiga.  Drama, dipercaya mampu membuka cakrawala dan kesadaran anak. Lewat akting, anak dapat mengekplorasi karakter dari tokoh yang diperankan, melatih kepekaan rasa, memahami beda makna pada kata sama yang diberi penekanan berlainan, tak kalah pentingnya, drama mengajarkan bekerja sama dengan orang lain.

Pertengahan 90-an, muncul sanggar-sanggar teater di Kota Kudus, seperti Sanggar Poentoen’, Teater Kuncup Mekar, Teater Samar, Teater Lincak, Teater Sembilan dan teater lainnya. Sanggar teater tersebut telah melewati sifat alamiahnya yakni berproses. Seiring dengan berjalannya waktu, masih ada teater yang tetap eksis namun banyak pula yang ‘mati suri’ setelah proses kreatifnya berlangsung. Animo penonton sejatinya jalan beriringan dengan geliat para pekerja seni berkarya.

Kebergairahan teater di kalangan pelajar dan mahasiswa pun  mulai semarak di tahun 2003. Naskah karya Anton Chekov, Bertold Brecht, Rabindranath Tagore, Rendra, Putu Wijaya dikenal pelajar maupun mahasiswa. Rupanya, masyarakat mulai sadar bahwa komunitas teater (baik teater umum maupun teater pelajar), selain sebagai wahana pencarian jati diri, juga berperan  sebagai media pendidikan. Tak kurang, festival maupun parade teater pelajar diadakan, baik oleh komunitas teater  sendiri maupun bekerja sama dengan perusahaan swasta.

Festival Teater Pelajar yang diadakan Djarum bakti budaya bergandengan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus, jadi suntikan semangat terhadap eksistensi  teater pelajar di Kota Kudus. Festival yang diikuti 24 kelompok, menjadi bukti kepedulian dua institusi ini terhadap dunia pendidikan. Minat pelajar untuk mengapresiasi, terlihat dari membludaknya jumlah penonton di GOR Djarum. Namun, kesempurnaan milik Tuhan sementara bagi makhluk adalah sebuah proses itu sendiri. Pada FTP 2012 ini, naskah teater masih didominasi persoalan orang-orang dewasa, baik percintaan maupun perbincangan politik. Bukannya tabu, namun hal ini menjadi penanda akan minimnya naskah-naskah anak. Kepiawai sutradara didalam mencarikan naskah yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak dirasa perlu masuk kategori nilai. Untuk tingkat pelajar SMP, ada dua teater pelajar yang bagus, yang  satu menggunakan naskah sendiri yang bercerita tentang dunia imaginasi berbalut riang, dolanan di bawah bulan purnama, sementara satunya menggunakan naskah milik Putu Wijaya, imaginatif & sarat pesan menjaga kelestarian bumi. Nasib, dua teater ini berbeda, satu juara, satunya lagi alpa.

Pembelajaran melalui seni di sekolah bukan mengarahkan siswa menjadi seniman, namun Pembelajaran guna membangun kecerdasan emosional dan intelektual. Dampaknya terlihat pada sikap, pengendalian diri, keriangan, ketekunan dan kesetiakawanan. Drama, sebagai salah satu cabang seni menjadi media yang efektif, laboratorium siswa mengoptimalkan ujaran, mengekplorasi imaginasi dan kreativitas. Terakhir, ada petuah dari Begawan sastra di Indonesia -Pramudya Ananta Toer- yang mengatakan bahwa, ”Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Dan drama adalah sastra lisan.

Pernah dipostingkan di Koran Radarkudus 

Iklan

Masa Pensiun

By: Jaturampe

Mungkin aku hanya duduk-duduk saja
Menunggui mentari
hangat memencar sinar
koran pagi dan kopi
menjadi karib pelengkap hari
rasakan hidup
s’orang pensiunan tua

sesekali
waktu kusambi
dengan mengisi
TTS murah
yang kubeli dari toko sebelah

sekedar mengingat
bahwa aku pernah susah payah
menyimpan memori,
yang kini kurang dari setengah

jika bosan
kamar tak berpintu itu
kan ku tuju
lalu
nyalakan tivi
pemberian Kenang anak lakiku

kini,
di satu pagi
tekun ku buka tumpukan koran
cermati iklan dan lowongan
barangkali ada pekerjaan
yang sanggup
mewujudi mimpi-mimpi
masa tuaku
nanti

Amri dan Caca: Korea!

By: Jaturampe
Amri harus mengakui, pesona Caca adalah cahya  ufuk. Satu panorama yang menikam ulu hati. Pemudi yang baru dikenal itu sungguh mengena pada tiap sisi.  Rambut panjang, lurus, dan juga tinggi. Andai saja Amri anak seorang pemilik Bus maka Ia siap sedia menghantarkan pujaannya keliling kota-kota di Indonesia.
Amri bertemu dengannya, pagi ketika hendak berangkat kerja. Gadis itu sedang menunggu angkutan umum di Halte. Jika kebanyakan gadis ketika sedang menunggu sesuatu seringkali memainkan gadged terbarunya, maka si Dia lain sama sekali. Gadis itu malah terpaku membaca buku. Sempat diliriknya novel yang sedang dibaca. Amri  makin tergugah. Buku karangan Alexander Dumas The Count of Montecristo. Bravo! Aliran darahnya meluap. Seorang gadis dengan hobi buku, dan tak tanggung lagi bacaannya -Buah kenikmatan surga yang tumpah, ketertarikan pun bermula
“Amri,”
Disodorkan tangan kanan dibarengi tarikan bibir atasnya. Amri sering melatih hal itu di depan cermin. Ia berharap ruh Elvis Prestley merelakan sedikit pesona senyumnya singgah pada dirinya. Kombinasi unik, percaya klenik dan berlatih.
“Caca”
Oh, tangan yang kurus, dingin dan lembut. Adonan es cream, masih kalah halusnya. Ditatapnya wajah gadis yang baru dikenalnya itu. Biasa. Tapi anehnya, ada sejuta magnet menarik-nariknya untuk terus bertahan.
“Caca suka buku klasik, ya?”
“Ehem, kalau Amri?”
“Kalau aku suka bermain teater!”
“Oh…!”
CUT! CUT!
Lengang menggurita

“Aku tebak habis ini, rintik hujan turun atau lagu YoppyNonol mecungul, jangan-jangan!, kayak film India ajah!”
“Lalu bagaimana  kelanjutannya, Om?”
“Hmm..silakan nonton film-film Korea, pelototi dan jiplak seperlunya”
“Kok Korea, Om?”
“Heleh, crigis..lha wong Presidenmu saja menyarankan untuk mempelajari K-Pop!”

Dari arah belakang, sebuah lagu didengangkan…

When I was just a little girl
I asked my mother what will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here’s what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future’s not ours to see
Que sera sera

Bayang Buyung

Jaturampe

By: Jaturampe
Tet…tet…tet, sebuah truk melintas sembari membunyikan dengan keras belnya. Memekak. Ami sangat kaget. Untung saja ia tidak teriak, histeris atau bahkan lepas kendali. Ami biasa latah, terutama pada frekuensi yang bangkit dan merambat dengan tiba-tiba. Uh, konsentrasi pada novel baru yang dibaca membuat Ami acuh lingkungan sekitar. Ami mulai bimbang menunggu, rasa panas mulai membakar isi dan kulit kepalanya. Segera ia menepi sekedar berlindung pada kuat pohon mindi. Ketakutan mulai menjalar di hatinya, jangan-jangan Si Buyung mengingkari janji untuk bertemu dengannya. Padahal jauh-jauh hari ia merancang pertemuan itu. Waktu terus bergerak.

Buyung memang dinantikannya. Lelaki yang tiga bulan lalu dikenalnya lewat media sosial. Ya.. Facebook menjadi serupa dewa cinta baru untuk remaja seumuran Ami. Ah…tak terasa sudah dua jam Ia menunggu. Tubuh Ami makin gerah. Dilongoknya jalanan itu. Nihil, kurus dan kosong. Perlahan ditarik resletting tas sekolahnya. Ami mengambil sisir biru kesayangannya. Ia berharap, selepas menyisir rambut, Buyung beserta bayangnya akan datang dilihatnya.
Perlahan, Ami mulai menghapus jejak memori kaki yang Buyung yang pernah dilihatnya di album foto Facebook milik Buyung. Sepasang kaki yang menurut Ami, khas milik lelaki. Panjang, dan berotot, seperti gambar patung yang pernah dilihat Ami museum-museum Italy. Ya, semenjak mengenal Buyung, Ami makin rajin berkunjung ke warnet depan rumahnya. Sekedar mencari tahu update-an status Si Buyung atau sekedar melongok situs luar negeri, terutama galeri ataupun museum. Coklat, hitam, bergerak abu-abu rupa Buyung dalam benak Ami, hanya berbentuk kepala, bahu dan  pinggang. Buyung masih belum datang.

Untuk kesekian kalinya, gusar berputar-putar dari pusar sampai hati Ami. Ia berjanji…jika dalam limabelas menit ke depan, Buyung tetap tak datang, Ami akan menghapus bayang Buyung..seluruhnya!

Tulisan Maut Lainnya

Denah untuk Berbenah

By: Jaturampe

Sang Swara

Gettyimages

aku masih menunggu
wahai bayang meremang
potongan dan rupa kota
yang pernah kau khabarkan

dengan saksian burung Siak
bercakap memekak
menjadi lelaki
bukan sekedar ragawi

koor
taman-taman dan pedestrian
bangun
bangunan
etika ayun sang pejalan

senandung pekerja seni
bangun
bangunan
sketsa wajah estetika

aku jelas menunggu
bayang meremang
potongan dan swara kota
lirih dalam
mendesah..
bangunkan..dan bangunlah

Catatan Capung

By: Jaturampe

Lalu mata batin dari kerumunan massa itu menatap pada satu titik. Rupanya angkutan itu terlalu banyak membawa muatan. Dari sekedar pasir, batu bata bahkan segala jenis kertas berisi angka-angka. Lalu lewat pandang mata dari kerumunan massa itu seolah berucap, “Wah kalau begini jadinya, kita tak bakalan kumanan, dan segala kerakusannya membumihanguskan kerendahan hati!” Lalu dengan kepalan tangan dari kerumunan massa itu seolah berikrar,”Mari, kita tumbangkan era kejayaan rajawali.” Bersama gerak putar mata kaki, kerumunan massa itu kembali pulang ke rumah. Sementara gelisah, amarah, cukup mengambang di udara dan masih sebatas keluh kesah yang meruah.

Pandang Padang Panjang (I)

 

 

 

 

 

 

 

By: Jaturampe

Demi tetap jalan di pedestrian

Atau ketakutan-ketakutan

mati di kedalaman

Rupa-rupanya banyak orang berpura-pura

sehingga

Sejenak jenaka,

berlanjut penuh kejut

Tulisan Jelek lainnya:

Antara Seringai dan Senyum Dunia

Jawa Jadi Menyedihkan