Jaturampe

Beranda » 2013 » November

Monthly Archives: November 2013

Bayang Buyung

Jaturampe

By: Jaturampe
Tet…tet…tet, sebuah truk melintas sembari membunyikan dengan keras belnya. Memekak. Ami sangat kaget. Untung saja ia tidak teriak, histeris atau bahkan lepas kendali. Ami biasa latah, terutama pada frekuensi yang bangkit dan merambat dengan tiba-tiba. Uh, konsentrasi pada novel baru yang dibaca membuat Ami acuh lingkungan sekitar. Ami mulai bimbang menunggu, rasa panas mulai membakar isi dan kulit kepalanya. Segera ia menepi sekedar berlindung pada kuat pohon mindi. Ketakutan mulai menjalar di hatinya, jangan-jangan Si Buyung mengingkari janji untuk bertemu dengannya. Padahal jauh-jauh hari ia merancang pertemuan itu. Waktu terus bergerak.

Buyung memang dinantikannya. Lelaki yang tiga bulan lalu dikenalnya lewat media sosial. Ya.. Facebook menjadi serupa dewa cinta baru untuk remaja seumuran Ami. Ah…tak terasa sudah dua jam Ia menunggu. Tubuh Ami makin gerah. Dilongoknya jalanan itu. Nihil, kurus dan kosong. Perlahan ditarik resletting tas sekolahnya. Ami mengambil sisir biru kesayangannya. Ia berharap, selepas menyisir rambut, Buyung beserta bayangnya akan datang dilihatnya.
Perlahan, Ami mulai menghapus jejak memori kaki yang Buyung yang pernah dilihatnya di album foto Facebook milik Buyung. Sepasang kaki yang menurut Ami, khas milik lelaki. Panjang, dan berotot, seperti gambar patung yang pernah dilihat Ami museum-museum Italy. Ya, semenjak mengenal Buyung, Ami makin rajin berkunjung ke warnet depan rumahnya. Sekedar mencari tahu update-an status Si Buyung atau sekedar melongok situs luar negeri, terutama galeri ataupun museum. Coklat, hitam, bergerak abu-abu rupa Buyung dalam benak Ami, hanya berbentuk kepala, bahu dan  pinggang. Buyung masih belum datang.

Untuk kesekian kalinya, gusar berputar-putar dari pusar sampai hati Ami. Ia berjanji…jika dalam limabelas menit ke depan, Buyung tetap tak datang, Ami akan menghapus bayang Buyung..seluruhnya!

Tulisan Maut Lainnya

Denah untuk Berbenah

By: Jaturampe

Sang Swara

Gettyimages

aku masih menunggu
wahai bayang meremang
potongan dan rupa kota
yang pernah kau khabarkan

dengan saksian burung Siak
bercakap memekak
menjadi lelaki
bukan sekedar ragawi

koor
taman-taman dan pedestrian
bangun
bangunan
etika ayun sang pejalan

senandung pekerja seni
bangun
bangunan
sketsa wajah estetika

aku jelas menunggu
bayang meremang
potongan dan swara kota
lirih dalam
mendesah..
bangunkan..dan bangunlah