Jaturampe

Beranda » Kesenian » Seni itu Investasi, Lik!

Seni itu Investasi, Lik!

Follow Jaturampe on WordPress.com
Pentas Di Gabus Pati

Komunitas Sang Swara Pentas Di Gabus Pati

Sudahkah kita tahu bahwa penggunaan otak kanan dan kiri secara seimbang dapat meningkatkan kemampuan berpikir, imaginasi, berasa dan berbahasa? Atau selama ini justru otak kiri yang diberdayakan? Sungguh, jika aktivitas kedua otak berpadu dan bekerja sama hasilnya sungguh dahsyat. Lalu bagaimana membedakan kerja kedua otak ini? Semisal kita berada di halaman kemudian menatap dan berucap, Oh, pohon mangga itu sangat rindang, daunnya hijau tua, dan tumbuh pada tanah yang amat subur. Kemampuan memeri, menggeneralisasi, dan menganalisa adalah tugas otak kanan, sementara diksi dan susunan kata yang keluar merupakan kerja dari otak kiri.

Seni  sebagai salah satu hasil budaya , tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan. Benar saja, mulai dalam kandungan, lantunan nada,  doa kerap diperdengarkan pada diri Jabang Bayi. Masihkah terekam dalam benak satu cerita anak, lengkap dengan intonasi, lafal dan mimik, tatkala Ibu guru bersemangat mendongeng? Tapi apakah ini bagian dari seni? Lalu apakah seni itu penting? Adakah hubungan antara seni, otak kanan dan pendidikan?

Secara sederhana, seni adalah  bentuk ide-ide kreatif hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang diekspresikan sehingga menumbuhkan perasaan indah bagi yang melihat, mendengar dan merasakan. Dari definisi ini, kreatif & imaginatif menjadi unsur utama. Ini modal penting bagi hidup dan kehidupan. Sering kali kreativitas dihubungkan dengan kemampuan seseorang didalam memecahkan masalah dan mencipta barang baru. Jika  imaginasi jadi ubarampe, maka wujud olahannya bernama kreativitas.

Tidak dimungkiri, untuk hal-hal tertentu kita mesti belajar dari negeri Jepang dan China. Dimana  di negara-negara tersebut banyak orang kreatif yang mampu memproduksi bermacam barang bahkan mendominasi di negara lainnya. Menjadi pertanyaan, bagaimana Jepang dan China mampu mencetak generasi kreatif secara ‘besar-besaran’? Adakah hal yang salah dengan kita? Memang, di Indonesia banyak pula orang kreatif, tapi apa yang menjadi pembeda antara kita dengan orang Jepang utamanya dalam bidang kreativitas secara besar-besaran? Barangkali jawabnya adalah pemaksimalan otak kanan, mendidik melalui seni maupun pendidikan seni.

Di negara maju, ada kecenderungan, mata pelajaran yang memaksimalkan kreativitas mendapat perhatian lebih dibanding mata pelajaran lainnya. Dalam seminggu porsi penyajiannya antara 2-4 jam pelajaran untuk tiap cabang seni. Mereka sadar betul akan makna kreativitas bagi keberlangsungan dan pertumbuhan negaranya. Di Indonesia, seni terintegrasi dalam mata pelajaran SBK dimana ada 2-4 jam pelajaran tiap minggunya, meliputi seni  tari, seni musik, seni lukis, sedang puisi dan drama menyatu di mata pelajaran bahasa.

Salah satu standar kompetensi Bahasa Indonesia di sekolah dasar, peserta didik diharapkan dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri. Pemahaman cerita dan teks drama anak yang dilisankan mulai diperkenalkan semenjak  peserta didik berada di kelas tiga.  Drama, dipercaya mampu membuka cakrawala dan kesadaran anak. Lewat akting, anak dapat mengekplorasi karakter dari tokoh yang diperankan, melatih kepekaan rasa, memahami beda makna pada kata sama yang diberi penekanan berlainan, tak kalah pentingnya, drama mengajarkan bekerja sama dengan orang lain.

Pertengahan 90-an, muncul sanggar-sanggar teater di Kota Kudus, seperti Sanggar Poentoen’, Teater Kuncup Mekar, Teater Samar, Teater Lincak, Teater Sembilan dan teater lainnya. Sanggar teater tersebut telah melewati sifat alamiahnya yakni berproses. Seiring dengan berjalannya waktu, masih ada teater yang tetap eksis namun banyak pula yang ‘mati suri’ setelah proses kreatifnya berlangsung. Animo penonton sejatinya jalan beriringan dengan geliat para pekerja seni berkarya.

Kebergairahan teater di kalangan pelajar dan mahasiswa pun  mulai semarak di tahun 2003. Naskah karya Anton Chekov, Bertold Brecht, Rabindranath Tagore, Rendra, Putu Wijaya dikenal pelajar maupun mahasiswa. Rupanya, masyarakat mulai sadar bahwa komunitas teater (baik teater umum maupun teater pelajar), selain sebagai wahana pencarian jati diri, juga berperan  sebagai media pendidikan. Tak kurang, festival maupun parade teater pelajar diadakan, baik oleh komunitas teater  sendiri maupun bekerja sama dengan perusahaan swasta.

Festival Teater Pelajar yang diadakan Djarum bakti budaya bergandengan dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Kudus, jadi suntikan semangat terhadap eksistensi  teater pelajar di Kota Kudus. Festival yang diikuti 24 kelompok, menjadi bukti kepedulian dua institusi ini terhadap dunia pendidikan. Minat pelajar untuk mengapresiasi, terlihat dari membludaknya jumlah penonton di GOR Djarum. Namun, kesempurnaan milik Tuhan sementara bagi makhluk adalah sebuah proses itu sendiri. Pada FTP 2012 ini, naskah teater masih didominasi persoalan orang-orang dewasa, baik percintaan maupun perbincangan politik. Bukannya tabu, namun hal ini menjadi penanda akan minimnya naskah-naskah anak. Kepiawai sutradara didalam mencarikan naskah yang sesuai dengan perkembangan jiwa anak dirasa perlu masuk kategori nilai. Untuk tingkat pelajar SMP, ada dua teater pelajar yang bagus, yang  satu menggunakan naskah sendiri yang bercerita tentang dunia imaginasi berbalut riang, dolanan di bawah bulan purnama, sementara satunya menggunakan naskah milik Putu Wijaya, imaginatif & sarat pesan menjaga kelestarian bumi. Nasib, dua teater ini berbeda, satu juara, satunya lagi alpa.

Pembelajaran melalui seni di sekolah bukan mengarahkan siswa menjadi seniman, namun Pembelajaran guna membangun kecerdasan emosional dan intelektual. Dampaknya terlihat pada sikap, pengendalian diri, keriangan, ketekunan dan kesetiakawanan. Drama, sebagai salah satu cabang seni menjadi media yang efektif, laboratorium siswa mengoptimalkan ujaran, mengekplorasi imaginasi dan kreativitas. Terakhir, ada petuah dari Begawan sastra di Indonesia -Pramudya Ananta Toer- yang mengatakan bahwa, ”Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.” Dan drama adalah sastra lisan.

Pernah dipostingkan di Koran Radarkudus 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s