Jaturampe

Beranda » 2014 » Januari

Monthly Archives: Januari 2014

Naskah Drama Panci 3

Sambungan: Naskah Drama Panci 2

Penjual Panci  : Panci-panci, panci-panci, panci-panci, panci-panci,

Warga 3            : Bajiluk, telebisying, Hah! jualan panci kok suaranya blag-gedebug, blag-gedebug. Edan! Ngageti wae.!

Penjual Panci  : Mbutgawe…mbutgawe, ayo Kang, mari! (BERJALAN KE LUAR PANGUNG)

KOOR                : Woo, bandhem mesisan!

Tuan Ulama  : (BERDEHEM)

                      Sudah..sudah! Oh ya, Aku tadi mendengar seseorang yang mulai paham, Hmm..kalau tak salah kau, ya..kowe, coba lanjutkan apa yang hendak kau katakan!

Warga 1           : Oh..hehe, tadi apa ya yang pingin tak omongke?

Tuan Ulama  : (KESAL)

                               Cepat katakan saja!

Warga 1       :  Ahh, Aku ingat. Jadi begini, sesuai dengan ciri yang Tuan ini sebutkan, sesungguhnya…

TUAN HAJI ITU SEAKAN TIDAK SABAR, DENGAN GESTURE DAN LANGKAH-LANGKAH YANG SENGAJA DIBUAT-BUAT, IA BERBICARA

Tuan Ulama  :  Oalah Kesuwen! Para Kadang, kali ini tausyiah saya, bukanlah mengenai iman ataupun takwa, melainkan cara mencari sosok pemimpin? Benar, di kampung ini banyak pemikir tapi seperti nyambi tukang parkir. Dan keberadaannya, Tak lain hanya kerakusan! Lalu, di mana pemimpin yang amanah? Siapakah sosok itu

WARGA 1 MULAI MENUNJUK-TUNJUK TUAN ULAMA, HAMPIR BERSAMAAN SAAT ITU TERDENGAR SUARA SAPI-SAPI YANG SEDANG MELINTAS. ULAMA MENJADI BERNAFSU, IA MULAI KEHILANGAN PIKIRNYA. TATAPANNYA SEMATA-MATA MENCARI-CARI ARAH KEMUNCULAN SAPI. KEBINGUNGAN. IA BERNAFSU, BAHKAN TINGGI SEKALI. LALU IA BERLARI MENDEKATI SAPI-SAPI.

Warga bersama: Ada apa, Tuan?

Tuan Haji     : Sapi, Bro!

Koor               : Sapi? A.A.D.C…. Ada Apa Dengan Capi?

Tuan Ulama  : Ah, ndesa!, coba lihat! tinggi sapi-sapi itu kurang lebih 130 cm dan tubuhnya, aih..aih..puenuuh dengan daging. Aku menaksir, berat sapi itu lebih dari 550 Kg. Kau tahu, berapa rupiahkah yang akan kudapat? Hemm..dengan sedikit rayuan dan trik yang bombastik, peternak itu kan menjual sapi-sapimya dengan harga murah.Lalu, aku merawatnya hingga menjelang bada Besar…dan booom, harga kan melambung, Aku banyak untung!

Warga 3       :  Wah..wah…wah, ternyata Haji zaman sekarang urusannya tidak hanya (MEMAINKAN GERAK JARI DZIKIR) melainkan hemm (MEMAINKAN GERAK JARI UANG)

Warga 1       : Tapi, cocik lho Kang, kalau Tuan Haji jadi pemimpin. Lihat! Kebak ngelmu syar’I, ganteng dan kaya! Lha ini akan meminimalkan virus korupsi to, Kang! Oh iya, …haji lagi!

Warga 4       : Hei..hei..hei, virus korupsi itu tidak mengenal pangkat dan jabatan. Ia bisa menyerag siapa saja. Laki-laki-perempuan, kaya ataupun miskin. Jika ia sudah masuk ke tubuh kita…(MENATA POSISI TUBUH) bisa dari arah kanan atau bisa juga dari arah kiri, kemudian perlahan-lahan virus itupun akan memangsa pikir kita. Lalu nurani kita akhirnya menyerah dan bilang, “Oh Aku tak berdaya..”

Warga 1       : Dia itu sudah haji, lho, anak muda! Amati saja muka dan gerak tingkahnya. Aku rasa Taun Haji ini layak!

Warga 5       : (MENDEKAT DAN MENGAMATI)

                           hmmm…muka Tuan Haji manis..dari arah samping kanan :lumayan, (TUAN HAJI PUN BERGERAK SESUAI DENGAN PEMBICARAAN WP 2) sedangkan dari arah samping kiri: ehmm…

Tuan Haji     : (BANGGA)

                      Pas dan puas, to? Jadi sekali lagi, serahkanlah semua urusan itu Pa..da..ah..li.nya! sudah, aku akan memburu pemilik sapi itu. Engkau boleh ikut

                      (MENGAJAK WARGA 1 SAMBIL MENEPUK BAHU)

                    Oh ya, Aku akan memberi sedikit persen untuk siapa saja yang ikut denganku?!

Bersambung

Iklan

Naskah Drama Panci 2

Sambungan: Naskah Drama Panci 1

Tuan Haji     : Hahaha, aduh…aduh, kasihan!

Warga 4       : Oh.. apakah yang engkau tertawakan, Tuan? ketidaktahuan                                  kami ataukah kekurangkontrolan wanita tadi?

Tuan Haji     : Ohohohh….tidak Lik, Kang, tidak! Haha…tapi, eugh

Warga 2       : Kalau tidak, lantas apa yang engkau tertawakan?

Tuan Haji     : Aku menertawakan sebuah harapan yang membumbung                                         kemudian gedabruk..agh, kasihan!

Warga 2       : Apa saranmu, Tuan!

Tuan Haji     : Dalam Hadits riwayat Bukhari, Nabi mengatakan, “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” maka dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan seseorang yang benar-benar jos untuk memimpin!

Warga          :  O! (KOOR PANJANG)

Warga 1    : Coba, tunjukkan! Barangkali kekhusukanmu mampu mendengar suara-suara langit! Atau barangkali doamu mampu menurunkan orang pilihan untuk desa ini.

TUAN HAJI MULAI BERDEHEM, BAJU KOKONYA PERLAHAN MULAI DIKIPAT-KIPATKAN. KEMUDIAN IA MEMAKAI WEWANGIAN.

Warga 2       : Hem, bau wangi apa ini?!

Warga 1       : Ya akupun menciumnya,Kang!

Tuan Haji     : Ini wangi misyik asli! dulu aku membelinya sewaktu pergi haji sepuluh tahun yang lalu! (PAMER)

Warga 1       : Benarkah Tuan? Oh ya, lalu, bagaimana ciri pemimpin yang juos, Tuan?

TUAN ULAMA ITU MEMBERIKAN CIRI-CIRI SESUAI DIRINYA BAHKAN SAMPAI WARNA PAKAIANNYA, SEMENTARA WAGA MULAI MENYIMAK DAN MANGGUT-MANGGUT.

Tuan Haji     : Menurut kitab Herr van Gemblong, kedatangan pemimpin itu ditandai baju serba putih, bau mizik, dan sudah bergelar haji!

                        (MENYEBUT GELAR HAJI DENGAN  PENUH KESOMBONGAN)

Warga 2       : Tuan sudah haji?

Tuan Haji     : Oia, bahkan haji produk lama. Kamu tahu, betapa susahnya orang yang pingin naik haji? Pesan sekarang, berangkat belasan tahun mendatang. Lha apa ini tidak lucu? Hahaha..Aku menyebut ini haji indent! Yah, Tak ubahnya pesen motor model terbaru, haha

Warga 1       : (IA MULAI MENYADARI KEMIRIPAN DARI TOKOH YANG DIOMONGKAN OLEH ULAMA TERSEBUT) Oohh, ciri-ciri itu kok mirip dengan ciri dari Tuan  Ha….el

TIBA-TIBA HADIR SUARA MEMEKAKKAN TELINGA, ENTAH DARIMANA DATANGNYA BUNYI TETABUHAN TERDENGAR, TUAN ULAMA YANG SEMULA SENANG MENGHELA NAPAS KEMBALI. RUPANYA IA MENCEMBURUI KEDATANGAN SUARA MISTERIUS TERSEBUT.

Bersambung

Naskah Drama Panci 1

Panci begitu

Panci

PEMAIN

1.   Wanita

2.   Tuan Haji

3.   Warga 1

4.   Warga 2

5.   Warga 3

6.   Warga 4

7.   Warga 5

8.   Warga 6

9.   Warga 7

10. Mbah Sajam

11. Tukang Panci

PANGGUNG BERISI MIMBAR BERLAMPU TERANG. SEORANG WANITA SEDANG BERORASI. IA BERSEMANGAT. GERAKAN BADANNYA BERTENAGA, KOKOH, DAN PADAT. TATAP MATANYA MENGHUNJAM SIAPA SAJA YANG MELIHATNYA.

Wanita         : Saudara-saudara, pilihlah Saya. Saya kaya rencana. Tentu rencana-rencana yang berkaitan dengan strategi pembangunan ekonomi. ini jelas dan menge-de-pan-kan aspek ke-se-im-bang-an dan ke-ber-lan-jutan.

                      (DUA PENDUDUK DATANG MULAI TERTARIK)

Menurut saya, Keseimbangan pembangunan berdasar empat strategi yakni; pertumbuhan, lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan pengelolaan ling-kungan.

                      (PENDUDUK LAIN DATANG

Pilihlah Saya!

Saya akan dorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, yaitu pertumbuhan yang menciptakan la-pang-an ker-ja, mengurangi ang-ka ke-mis-kin-an, dengan tetap menjaga da-ya du-kung alam. Jadi ini semacam program-program Pro-Rakyat. Sekali lagi pro-rak-yat!

                      (WARGA MAKIN BERDATANGAN)

Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan berbagai kebijakan dan rencana program kerja terkait dengan peng-en-tas-an ke-mis-kin-an. Penasaran?

Mari kita saksikan tayangan berikut!

(DALAM LAYAR TERPAMPANG GAMBAR PRIA TAMPAN, WARGA MULAI NGEDUMEL)

Eh..maaf! hehehe, maklum..saya kagum dengan tokoh ini

(BERDEHEM)

Seperti saudara-saudara ketahui, pengentasan kemiskinan jadi prioritas kebijakan utama saya. Komitmen ini ditunjukkan melalui serangkai-an program Pro Rakyat. Apa itu?

Mari Kita saksikan program saya saudara-saudara!

(DALAM LAYAR TERPAMPANG GAMBAR PRIA TAMPAN)

Eh..maaf! hehehe, maklum..saya terlalu kagum dengan tokoh ini

(BERDEHEM)

Program ini dijabarkan ke dalam bagian per bagian seperti pro-gram per-lin-dung-an soksial eh sosial, Beras Miskin, Program Keluarga Harapan, Bantuan Siswa Miskin, dan Bantuan untuk Lanjut Usia dan Cacat.

DATANG PEMUDA YANG DIKAGUMI WANITA TERSEBUT. WANITA ITU MENJERIT, HISTERIS. PEMUDA TERSEBUT LARI TAPI SANG WANITA MENGEJAR PEMUDA IMPIANNYA. WARGA TERBAHAK-BAHAK. KEMUDIAN ENTAH DARIMANA, DATANGLAH SEORANG MIRIP ULAMA. IA BERPAKAIAN SANGAT RAPI. PUTIH DAN SELEMPANG HIJAU BERGELAYUT DI PUNDAKNYA. SESEKALI IA MENGELUS JENGGOTNYA YANG TIDAK PANJANG. IA TERTAWA-TAWA ENTAH PADA SIAPA

Bersambung

Isen Seni!

Sang Swara

Sang Swara

Aduh, inikah ujung dari rasa rindu
datang menghampar
mendesak makin sesak

Tapi, tiada pernah aku
menolak kesendirian

terus meramu dan mencoba
merakit satu dan sesuatu
guna pilar-pilar kebangkitan

Memang, inikah sari dari kegilaan?
terus mencatat dan merekam
jatuh hingga bangun
berlari tan berhenti
buah  rasa merdeka

tapi siapkah kita teriak
siapkah kita melompat
siapkah kita menghardik
tapi pada siapa,
kalau bukan kita?

Sungguh, tiada pernah aku
menolak kesunyian

karena sesungguhnya
keringat, pikiran,
pilihan dan daya

memang hanya padamu..