Jaturampe

Beranda » 2014 » Februari

Monthly Archives: Februari 2014

Kontradiksi di Lampu Bangjo

Traffic light

Menyenangkan. Ya,itu satu kata tepat untuk melukiskan keadaan lampu bangjo. Betapa, di lampu tersebut akan kita jumpai dan kita lihat berbagai fenomena yang tentunya menarik untuk dilewatkan, yah, istilahnya sambil menunggu detik-detik yang berjalan kita bisa memahami berbagai kasunyatan.

Misalnya sore ini, kejadiannya tepat di bangjo Kojan. Sepasang remaja, asyik hujan-hujanan, sedang tangan si gadis melengkung masuk ke dalam jaket si pria. Dari pembicaraan yang kusaring,tampaknya mereka sedang membicarakan tiket masuk satu bioskop.
“Ah, enggak. Mahal og, Yank, bayangkan duapuluh lima ribu rupiah lho, enakkan untuk beli bakso balungan di Plaza” Kata Si Pria.

“Tapi, kan gak bisa….” Jawab gadis itu.
Kulirik, memang tidak ada lanjutan pembicaraan, tetapi sungguh, dapat kutangkap maksud dan arah pembicaraan tersebut. Nah!

Sementara di seberang yang lain (terlihat pasangan yang lain) Gadis ABG itu mengenakan kerudung warna hijau muda, berjaket, dengan jean berwarna hitam. Mungkin karena tidak mengenakan jean yang sesuai ukuran pinggulnya kali, hingga Celdam berwarna crem terlihat bahkan berbonus belahan pantatnya yang lumayan putih. Nah lho!

Tapi, setidaknya di sore ini ada hiburan gratis, dibandingkan nonton bioskop yang harga mahal itu.

Lucunya lagi, kemarin lusa. Ada pengendara motor Me*a Pr* sedang asyik menyanyikan lagu oplosan..(setau saya sih, lagu tersebut menceritakan larangan untuk minum oplosan) tapi, dua pemuda tersebut kenyataannya sedang setengah teler. Satu bukti kontradiksi lagi to?

Bagiamana dengan Sampeyan, adakah fenomena yang Sampeyan temukan di Lampu Bangjo?

Oh, bisa-bisa Jawa jadi meruah wagunya, hehe

Iklan

Soekarno: Tarian Abadi!

Soekarno

Membaca Soekarno, tidak ubah jika kita memandang sebuah berlian. Tiap sisi dari pribadi Beliau selalu memancar sinar yang menarik untuk dibincangkan, dan diteladani. Terlepas dari logam penyangga dalam hal ini bisa diartikan wanita-wanita yang mengelilinginya.
Mendengar Soekarno, tak ubahnya mendengar alun bermacam lagu. Antara tembang macapat, campur dangdut, rockin’ roll, blues, jazz, maupun gerak nada tiba-tiba tarian padang pasirnya. Terlepas dari nada mlethik delapan naskah tonil karya Beliau yang berjudul Rendo, Jula Gubi, KutKuthi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dijnamiet, dan Dr. Syaitan yang sekarang raib entah kemana..

Meraba Soekarno, tak ubahnya kita akan menemu bermacam kekaguman warga-warga asing yang begitu takzim terhadapnya. Betapa seorang Kruschev pun, tampak menyalami Bung Karno dengan merunduk, Che Guavara memandang segan, atau bahkan Fidel Castro yang terlihat menyimak setiap ujung dan akhiran kata Bung Karno. Terlepas dari absurdnya orisinalitas Pancasila ciptaan Si Bung, yang dalam beberapa dasawarsa ini terasa disamarkan, antara gurat ide Moh Yamin, ataupun Profesor Soepomo

Melihat Si Bung berdiri adalah sebuah sinar, Dimana setiap titik pijak dan titip langkahnya adalah sebuah fajar mentarii sedang memancar. Berdikari, emoh goyah untuk sebuah alasan kemandiriannya. Sekalipun tuduhan “Megalomania” dilontarkan pihak yang tak suka. Terlepas betapa samarnya, antara Nasionalis, Agama maupun bahkan Komunis.

Membicarakan Si Bung bicara, akan ada gema jutaan frekuensi swaranya yang terus berputar dan beredar, ” Go to hell with your aid, Jasmerah, ataupun beri aku sepuluh pemuda.” Terlepas dari tema pembicaraan kita yang masih saja berkutat tentang si A yang korupsi, Si B yang juga korupsi, x hingga z yang terus-terusan beredar dan diedarkan, ya..asyik-masyuk untuk kita bincangkan.

Lupa pada suara-suara si Bung yang masih sangat jelas

“Kita, harus mandiri!”

Kotaku Kota Kretek, So What!

Demak sebagai Kota Wali, itu sudah kita maklumi. Kudus sebagai Kota Kretek itupun sudah kita pahami, tentunya hal menika terkait dengan nama besar Haji Jamahri, Niti Semito, M. Sirin, H. Muslich, M. Atmo, H. M. Asnawi, H. Rusjdi, H. A. Ma’roef serta H. Md. Noorchamid. Nama-nama itulah yang menjadi Ikon yang berhubungan dengan tembakau dan juga kretek. Terlepas dari berbagai kontroversi, saling silang dan tumpang tindih masalah rokok, dalam hati saya mengamini bahwa Kudus Kota Kretek.

Adalah Wanda Hamilton, akademisi asal Robenson County yang menulis satu buku kontroversi. “Nicotine War” adalah judul buku itu. Sikapnya dengan jelas menentang larangan merokok itu dengan memaparkan hasil riset dan kajiannya tentang adanya agenda ekonomi politik dibalik agenda global larangan merokok dan tembakau. Disebutkan oleh Wanda, dibalik kebijakan pelarangan merokok dan berbagai macam himbauan bahaya merokok ada para pedagang obat yang sedang berusaha merebut pangsa pasar perokok di seluruh dunia yang berjumlah milyaran orang itu.

Lalu, bagaimana tanggapan Sampeyan? Jelas, ini bukan berhubungan dengan saya yang terbiasa merokok atau larangan supaya anda jangan merokok. Tapi, ini adalah satu upaya diskusi untuk lebih jauh mengenal Kudus sebagai Kota Kretek. Karena bagaimanapun, suatu saat Sampeyan akan juga ditanya oleh kerabat, saudara ataupun kenalan nun jauh di sana, tentang sejarah maupun hal positif/negatif kelakuan merokok. Seperti juga pernah saya disuruh mengimami teman-teman STM yang beralasan karena hanya karena saya orang Kudus -Putune Sunan Kudus-katanya untuk menggasaki saya.

Padahal saya kan orang abangan…hehe
So, bagaimana tanggapan Sampeyan?