Jaturampe

Beranda » 2014 » Maret

Monthly Archives: Maret 2014

Fasbuk Maret: Jos!

Ada satu kata yang mewakili diriku saat membaca banner pertunjukan di perempatan itu. Gila dan berani. Kata tersebut berasa pas untuk agenda pertunjukan Fasbuk Bulan Maret ini. Ya, Siapa lagi kalau bukan Samuel Beckett. Adakah yang tidak mengenal tokoh absurd ini? Sebagai salah satu dedengkot absurd yang terlalu tua untuk didiskusikan serta malang melintang di pergunjingan rimba pernaskahan, Beliau menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, kali ini digeber tiga naskahnya sekaligus, yakni: Come and Go, Catastrophe, Nacht und Troume. Ketiga naskah ini disajikan oleh Komunitas Nol, Komunitas Ambigu serta Komunitas Paradok. Wow, terbayang dalam benak, materi dengan keryit dahi beserta sejuta diskusi-diskusi apik yang mewarnai rembang malam. Oh, betapa menggairahkan hidup!

Dengan bekal pamit nak-istri, lekas ku ayun langkah kaki dengan harap bertemu dengan tokoh-tokoh senior Kota Kudus seperti Kawit Sujono, Farid Kudus, Aryo Gunawan, Maria Magdalena, Joe Soerjono dan teman-teman lainnya. Ya..berasa masuk kembali di era 90-an dulu, semangat kesenian, setidaknya kueja demikian. Namun, sesampai di sana tidak kujumpai beliau-beliau, kuat dugaan rutinitas harian telah menawan kesibukan, dan lemah dugaan sandera sinetron dan joget YKS telah melenakan. Ups, Hehe.. (gojek lho)

Pukul 20.00 WIB menjelang. Segera, Ngarpien Heritoge mengumumkan pelaksanaan pertunjukan tersebut. Yang pertama, dari Teater Nol dengan lakon Come and Go. Weitt! Kulihat Si Agam sedang beraksi, (bokongnya seksi, Dhe!) Bergiliran dengan temannya masuki arena-outdoor UMK. Lalu duduk, clingak-clinguk sembari sesekali garuk-garuk. Munyuk, apik tenan, Lik! Sesekali berdialog kecil dengan dengan ketiga teman.

Sejenak sepi menghampiri bangku tuanya. Sepi masih menyita hati. Oh, Aku membacanya sebagai bangku penantian hidup yang kerap berulang. Bisakah bangku ini kutafsiri bangku kesenian? Boleh to? Bahwa hidup tidak sekedar mampir nguyuh? Lampu padang, kemudian mati, sewarna dengan sesuluh, sejenak padang untuk kemudian gelap kembali?

Dan geremengan Si Ngarpien Heritoge mulai mengudara lagi, Ia membaca sinopsis kepek-annya. Ahaaai, Ia salah membaca peron yang diucap teron. Hoi..Pien, terong sekalian gene! Segera, bis di terminal pertunjukan telah diberangkatkan, diiringi penumpang kesenian yang setia menungguinya. Ya, Sebait tembang Macapat Asmaradana gagat miring. Tembang ini berasa enak dilantunkan Mariyem, mendayu bergumulan di tiga Gazebo baru UMK. Oh, Kejadian nyata ditampilkan bersambungan dengan mimpi disajikan berulang oleh Komunitas Paradok. Nyata lagi, mimpi lagi. Ya, sesekali, aku terkaget-kaget, ledakan balonnya berasa seperti sebuah keterkejutan yang sesungguhnya tidak cukup membuatku kaget. Lha..wis, letusan kesenian ya memang segitu.

Tapi, aku percaya, Lik, pikat dewi kesenian kerap berhasil menggauli jiwa-jiwa muda untuk berdaya. Ya..sebuah paradok!

Lakon terakhir dipentaskan oleh Teater Ambigu. Sebuah catastrophe. Jarene..ya bencana gedhe, Dhe! Dan masih kutunggui pementasan itu. Nampak di panggung, Agam didandani Diah , disusul kehadiran dari tokoh sutradara. Agam ditelanjangi. Ia dicaci maki, entek amek kurang golek, baik oleh tokoh sutradara maupun penonton yang sesekali ikutan mencaci. Namun Agam tidak terluka. Mungkin, Ia sudah bisa menandai seperti diriku, bahwasanya letusan balon ya memang segitu. Sesekali menakutkan, dan sesekali melenakan, Gila! Ya, memang bahasa-bahasa gua kerap melintas. Namun anehnya, penonton malah tertawa. Rupanya, sudah jamak terjadi, sebuah penderitaan bisa menarik perhatian, walau sekedar berupa ejekan dan tawa terbahak. Namun, jika ejekan, pisuhan dan tawa ngece dilakukan secara kolosal, maka ini adalah satu bencana besar. Bencana pertunjukan, bahaya dunia kesenian. Bahwa penonton bisa lebih berkuasa dibanding sutradara, bahwa tongkat penonton bisa melebihi tongkat Musa. Ya, mungkin ini yang coba diungkapkan oleh sutradara pertunjukan tersebut. Setidaknya itu menurut kacamataku sebagai wakil dari Kembang Setaman!

Ayo, Mbak..Mas, ngumpul di tengah sini…. ana kopi sing wis tersedia, lho! Kata Laneno Machiavelis menandai acara diskusi segera dimulai.

Lho….Lik ommie, ndi sajian diskusine sing jare mareme puol? Tanya Ranggda di regol tua ini

Mangkane tah, Lik, jika ada pertunjukan bagus itu ditongton sendiri! Jawabku karo guyu sinambi kukur-kukur…sing ora jelas ngendi sing gatel

Iklan

Yang Gila Kita atau Mereka?

“Wektu pas tak takoni, ngakune jenenge Si Jasmon,
Bung!” Kata Agung Sedayu

“Lha, ngomonge saka tlatah ngendi, Bung?” tukas Eq

“Kaliklopo tah endi ngono lho, Bro” jawab Agung Sedayu

“Lalu, apa keanehan yang pernah dilakukannya?”
Tanya Tonny tiba-tiba mengikuti dengan sungguh-sungguh,
setelah beberapa menit yang lalu asyik dengan gadget
barunya..

Ya, hari ini kami berniat membahas tentang “Wong Ra
Ganep” alias sedheng, menyun, min, atau bisa dibilang
edan…sanajan tetep jeh katokan..

Si Jasmon ini suka sekali membawa sabit, Bung! Ia
senantiasa ngempit arit di keleknya yang apek. Hingga,
pernah satu ketika, Jasmon ini masuk di salah satu
universitas terkemuka di kota ini, terang saja, banyak
Mahasiswi berlarian ketakutan, bahkan ada yang sempat
kencing di celana!” Imbuh Agung Sedayu berapi-api..

“Masak, tidak ada sekuriti yang menahan masuknya Si Jasmon ini, Bung?” sela Rio

“Lha, itu…sekuriti juga rocker, eh, manusia to, Bro? pastinya takut terkena sabet sabit dari si Jasmon! tukas Agung

Aku mung manthuk-manthuk, sesekali nyruput kopi buatan bung Gabul. Udara terasa makin dingin, masuk perlahan lewat lubang-lubang ventilasi GabStudio milik Gabul..

“Sik-sik Bung Agung, dadi mbiyen Si Jasmon ini pernah Sampeyan tanya-tanyai, to? selidikku…sambil sesekali mengeryitkan dahi

“He’e, ya isa njawab, genah kok!” jawab Agung

“Piye pertanyaanmu, Jack?” tanya TOnny asik mengikuti

“Heh, Kowe kok tekan kene arep lapo, Dhe! gawa arit sisan, heh, meden-medeni mahasiswa ae!

“Aku golek gawean!”

“Gawean apa, heh?”

“Ya, sembarang ah, Lik, mboh resik-resik, tah ngilangi suket!”

“Iki lho udud!”

“Emoh, lha wong kowe dhewe jeh nganggur kok arep ngenehi aku rokok!”
Sewaktu menceritakan komunikasinya dengan Jasmon, Agung sedayu memeragakan sambil berdiri dan berekspresi, ya tentunya dengan logat campuran antara logat Dersalam dengan Logat Bacin, hahaha

“Lho, Aneh! kuwi wong edan tenan tah ngedan!”

“Edan, Bung, wong bar iku ndlemang-ndleming ra ora juntrunge kok! jawab Agung Sedayu

“Aneh maneh ya, wong edan sebelah kampungku kono, Bung!” Tiba-tiba Gabul membuka percakapan yang sejenak berhenti

“Oh ya, bagaimana tuh?”

“Jadi, Wong Edan ini suka membawa sapu, dan seringkali menyapu halaman penduduk di sini, Bung, bahkan sewaktu musim penghujan kemarin, Ia suka membersihkan got dan saluran air!” Imbuh Bung Gabul

“Lah, jan-jane edan dan wong normal kuwi, Bung?” tanya kami bersamaan

“Edan, kok Bung, lha wong biasanya dleming ra karu-karuan kok!”

Tiba-tiba ada tarikan kuat -yang berasal dari entah- yang membuat Kami berada dalam kebingungan yang membahana..

Bingung membedakan manakah yang tergolong Wong Normal dan manakah yang masuk daftar Orang Gila?

Kami dan para manusia normal lainnya, ataukah Si Jasmon yang sesungguhnya gila?

“Wis ayo..udud lan nyruput ngopi maneh ben dadi jasmon1gak normal!

Jagongan di Gabstudio, Foto & Dokumentasi: Agung Sedayu, Materi: Diskusi Dulur Kembang Setaman 5

Diskusi Seni dengan Seniman Kudus

“Hanya orang-orang yang mengetahui bagaimana hidup dan menggerakkan pikirannya lah yang bahkan mampu merubah benda yang semula diam menjadi bergerak, Ommie!” Kata Mas Kawit Sujono

Piye kuwi, Mas, aku kok jeh durung mudheng? Iki klenik tah? tanyaku seribuan bingung membumbung

“Iki dudu mejik, klenik lan sebangsane, Ommie. Kamu Ingat umar Khayam? Ya, lewat gigih & kuatnya pikiran, Ia mampu menggerakkan teman-temannya untuk berkumpul ora sekedar njagakake utawa saderma nyadhong pada birokrat maupun perusahaan-perusahaan yang jelas tidak melarat, tapi , berDAYA dan BERBUAT, Kamu tahu, Ia, benar-benar menghidupkan teater dan kesenian lainnya, lewat lembaga yang bernama Dewan Kesenian ia mempelopori bahkan menikahkan kesenian modern dengan kesenian tradisional, dan itu berhasil! Beberapa jurus kemudian, Dewan Kesenian lahir di daerah-daerah, kabupaten pula kabupaten kota. Nah, Kamu pastinya juga tahu, semenjak Dewan Kesenian njelma jadi Dewa nir hewan, seiring itu pula: hadir, kaum birokrat -sing tiba-tiba mung nemok, ngisi posisi lembaga tersebut.” Lanjut Mas Kawit

“Pikiran adalah permukaan hati, dan hati adalah kedalaman pikiran,
maka isi dengan rasa
isi dengan rasa, isi dengan rasa, jangan hampa!” Kang Farid Cah Kudus tiba-tiba menggumam sendiri. Wayah dheweke ngene iki, ora ana suta, buta, bahkan dewa sekalipun sing wani ngutik-utik. Sementara Aku dan Soe Gie, riwa-riwi mandheng, wajah Kang Kawit dan Kang Farid yang sedang “on.” Apalagi, Gus Tama dan juga Doni Dole ndilalah sedang melagu tembang berjudul Home. Lha apa ora kebeneran?

“Sik..sik, Mas, jadi di era 1969-1972 itu, Beliau jadi ketua dewan kesenian, namun setelah habis masa, DeKa di sana kemudian berisikan kaum birokrat?”

Kang Kawit mung ngguyu, sinambi ngelus jenggot sing dowu! “Gau, ya nganti pirang-pirang taun lah Ommie, daerahpun dijangkiti hal sama, to?”

Aku tidak mempermasalahkan “Gau” (istilah ini setau saya dipopulerkan Kang Kawit) tapi mungkin malah meng “iyau” kan opininya…haha

Entah mengapa, tiba-tiba Aku malah teringat puisi Ommar Khayyam (bukan umar khayam yang diomongkan tadi) yang mengatakan, ” Surga manusia adalah visi tentang keinginan yang terpenuhi, dan neraka adalah bayangan jiwa di atas api”

Aku mematung. kulirik, Soe Gie, entah di dorong tenaga ghaib atau apa, mengabadikan pertemuan  ini dengan HP barunya, cepret..cepret..cepret!
langka iki, Lik…! katanya

“Wis, ngene iki sing penting ngumpul, berpikir dan berdaya, ngopi dhisik ben gak edan!” Kata Gus Tama yang tiba-tiba mecungul

“Lha, tapi aku ora enthuk jatah kopi, ki Mas, Mas Doni kelalen ya’e? kataku

Ruanganpun bergema tawa…

Tawa sadar kehilangan, tawa sabar mendapatkan
Tawa menemu ruang…

Diskusi dan ngopi-ngopi…