Jaturampe

Beranda » Kesenian » Diskusi Seni dengan Seniman Kudus

Diskusi Seni dengan Seniman Kudus

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Hanya orang-orang yang mengetahui bagaimana hidup dan menggerakkan pikirannya lah yang bahkan mampu merubah benda yang semula diam menjadi bergerak, Ommie!” Kata Mas Kawit Sujono

Piye kuwi, Mas, aku kok jeh durung mudheng? Iki klenik tah? tanyaku seribuan bingung membumbung

“Iki dudu mejik, klenik lan sebangsane, Ommie. Kamu Ingat umar Khayam? Ya, lewat gigih & kuatnya pikiran, Ia mampu menggerakkan teman-temannya untuk berkumpul ora sekedar njagakake utawa saderma nyadhong pada birokrat maupun perusahaan-perusahaan yang jelas tidak melarat, tapi , berDAYA dan BERBUAT, Kamu tahu, Ia, benar-benar menghidupkan teater dan kesenian lainnya, lewat lembaga yang bernama Dewan Kesenian ia mempelopori bahkan menikahkan kesenian modern dengan kesenian tradisional, dan itu berhasil! Beberapa jurus kemudian, Dewan Kesenian lahir di daerah-daerah, kabupaten pula kabupaten kota. Nah, Kamu pastinya juga tahu, semenjak Dewan Kesenian njelma jadi Dewa nir hewan, seiring itu pula: hadir, kaum birokrat -sing tiba-tiba mung nemok, ngisi posisi lembaga tersebut.” Lanjut Mas Kawit

“Pikiran adalah permukaan hati, dan hati adalah kedalaman pikiran,
maka isi dengan rasa
isi dengan rasa, isi dengan rasa, jangan hampa!” Kang Farid Cah Kudus tiba-tiba menggumam sendiri. Wayah dheweke ngene iki, ora ana suta, buta, bahkan dewa sekalipun sing wani ngutik-utik. Sementara Aku dan Soe Gie, riwa-riwi mandheng, wajah Kang Kawit dan Kang Farid yang sedang “on.” Apalagi, Gus Tama dan juga Doni Dole ndilalah sedang melagu tembang berjudul Home. Lha apa ora kebeneran?

“Sik..sik, Mas, jadi di era 1969-1972 itu, Beliau jadi ketua dewan kesenian, namun setelah habis masa, DeKa di sana kemudian berisikan kaum birokrat?”

Kang Kawit mung ngguyu, sinambi ngelus jenggot sing dowu! “Gau, ya nganti pirang-pirang taun lah Ommie, daerahpun dijangkiti hal sama, to?”

Aku tidak mempermasalahkan “Gau” (istilah ini setau saya dipopulerkan Kang Kawit) tapi mungkin malah meng “iyau” kan opininya…haha

Entah mengapa, tiba-tiba Aku malah teringat puisi Ommar Khayyam (bukan umar khayam yang diomongkan tadi) yang mengatakan, ” Surga manusia adalah visi tentang keinginan yang terpenuhi, dan neraka adalah bayangan jiwa di atas api”

Aku mematung. kulirik, Soe Gie, entah di dorong tenaga ghaib atau apa, mengabadikan pertemuan  ini dengan HP barunya, cepret..cepret..cepret!
langka iki, Lik…! katanya

“Wis, ngene iki sing penting ngumpul, berpikir dan berdaya, ngopi dhisik ben gak edan!” Kata Gus Tama yang tiba-tiba mecungul

“Lha, tapi aku ora enthuk jatah kopi, ki Mas, Mas Doni kelalen ya’e? kataku

Ruanganpun bergema tawa…

Tawa sadar kehilangan, tawa sabar mendapatkan
Tawa menemu ruang…

Diskusi dan ngopi-ngopi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s