Jaturampe

Beranda » Fasbuk » Fasbuk Maret: Jos!

Fasbuk Maret: Jos!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Ada satu kata yang mewakili diriku saat membaca banner pertunjukan di perempatan itu. Gila dan berani. Kata tersebut berasa pas untuk agenda pertunjukan Fasbuk Bulan Maret ini. Ya, Siapa lagi kalau bukan Samuel Beckett. Adakah yang tidak mengenal tokoh absurd ini? Sebagai salah satu dedengkot absurd yang terlalu tua untuk didiskusikan serta malang melintang di pergunjingan rimba pernaskahan, Beliau menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, kali ini digeber tiga naskahnya sekaligus, yakni: Come and Go, Catastrophe, Nacht und Troume. Ketiga naskah ini disajikan oleh Komunitas Nol, Komunitas Ambigu serta Komunitas Paradok. Wow, terbayang dalam benak, materi dengan keryit dahi beserta sejuta diskusi-diskusi apik yang mewarnai rembang malam. Oh, betapa menggairahkan hidup!

Dengan bekal pamit nak-istri, lekas ku ayun langkah kaki dengan harap bertemu dengan tokoh-tokoh senior Kota Kudus seperti Kawit Sujono, Farid Kudus, Aryo Gunawan, Maria Magdalena, Joe Soerjono dan teman-teman lainnya. Ya..berasa masuk kembali di era 90-an dulu, semangat kesenian, setidaknya kueja demikian. Namun, sesampai di sana tidak kujumpai beliau-beliau, kuat dugaan rutinitas harian telah menawan kesibukan, dan lemah dugaan sandera sinetron dan joget YKS telah melenakan. Ups, Hehe.. (gojek lho)

Pukul 20.00 WIB menjelang. Segera, Ngarpien Heritoge mengumumkan pelaksanaan pertunjukan tersebut. Yang pertama, dari Teater Nol dengan lakon Come and Go. Weitt! Kulihat Si Agam sedang beraksi, (bokongnya seksi, Dhe!) Bergiliran dengan temannya masuki arena-outdoor UMK. Lalu duduk, clingak-clinguk sembari sesekali garuk-garuk. Munyuk, apik tenan, Lik! Sesekali berdialog kecil dengan dengan ketiga teman.

Sejenak sepi menghampiri bangku tuanya. Sepi masih menyita hati. Oh, Aku membacanya sebagai bangku penantian hidup yang kerap berulang. Bisakah bangku ini kutafsiri bangku kesenian? Boleh to? Bahwa hidup tidak sekedar mampir nguyuh? Lampu padang, kemudian mati, sewarna dengan sesuluh, sejenak padang untuk kemudian gelap kembali?

Dan geremengan Si Ngarpien Heritoge mulai mengudara lagi, Ia membaca sinopsis kepek-annya. Ahaaai, Ia salah membaca peron yang diucap teron. Hoi..Pien, terong sekalian gene! Segera, bis di terminal pertunjukan telah diberangkatkan, diiringi penumpang kesenian yang setia menungguinya. Ya, Sebait tembang Macapat Asmaradana gagat miring. Tembang ini berasa enak dilantunkan Mariyem, mendayu bergumulan di tiga Gazebo baru UMK. Oh, Kejadian nyata ditampilkan bersambungan dengan mimpi disajikan berulang oleh Komunitas Paradok. Nyata lagi, mimpi lagi. Ya, sesekali, aku terkaget-kaget, ledakan balonnya berasa seperti sebuah keterkejutan yang sesungguhnya tidak cukup membuatku kaget. Lha..wis, letusan kesenian ya memang segitu.

Tapi, aku percaya, Lik, pikat dewi kesenian kerap berhasil menggauli jiwa-jiwa muda untuk berdaya. Ya..sebuah paradok!

Lakon terakhir dipentaskan oleh Teater Ambigu. Sebuah catastrophe. Jarene..ya bencana gedhe, Dhe! Dan masih kutunggui pementasan itu. Nampak di panggung, Agam didandani Diah , disusul kehadiran dari tokoh sutradara. Agam ditelanjangi. Ia dicaci maki, entek amek kurang golek, baik oleh tokoh sutradara maupun penonton yang sesekali ikutan mencaci. Namun Agam tidak terluka. Mungkin, Ia sudah bisa menandai seperti diriku, bahwasanya letusan balon ya memang segitu. Sesekali menakutkan, dan sesekali melenakan, Gila! Ya, memang bahasa-bahasa gua kerap melintas. Namun anehnya, penonton malah tertawa. Rupanya, sudah jamak terjadi, sebuah penderitaan bisa menarik perhatian, walau sekedar berupa ejekan dan tawa terbahak. Namun, jika ejekan, pisuhan dan tawa ngece dilakukan secara kolosal, maka ini adalah satu bencana besar. Bencana pertunjukan, bahaya dunia kesenian. Bahwa penonton bisa lebih berkuasa dibanding sutradara, bahwa tongkat penonton bisa melebihi tongkat Musa. Ya, mungkin ini yang coba diungkapkan oleh sutradara pertunjukan tersebut. Setidaknya itu menurut kacamataku sebagai wakil dari Kembang Setaman!

Ayo, Mbak..Mas, ngumpul di tengah sini…. ana kopi sing wis tersedia, lho! Kata Laneno Machiavelis menandai acara diskusi segera dimulai.

Lho….Lik ommie, ndi sajian diskusine sing jare mareme puol? Tanya Ranggda di regol tua ini

Mangkane tah, Lik, jika ada pertunjukan bagus itu ditongton sendiri! Jawabku karo guyu sinambi kukur-kukur…sing ora jelas ngendi sing gatel


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s