Jaturampe

Beranda » Fasbuk » Diskusi Fasbuk Bulan April

Diskusi Fasbuk Bulan April

Follow Jaturampe on WordPress.com
Fasbuk Bulan April, Lagu baru Ibu

Fasbuk Bulan April, Lagu baru Ibu

“Jan-jane keinginan pun kemauan dari perempuan itu apa sih? Kita-kita yang laki-laki ini kadang bingung dibuatnya lho, bagaimana Mas Jose Miko, Bung Ommie, atau Mbak-mbak dan Bunda?” suara Laneno Machiavelist mulai terdengar. Ini berarti ajang diskusi selepas pagelaran Fasbuk bulan April dengan tema “Lagu Baru Ibu” mulai dibuka

Tanpa diperintahkan manusia langit, kamipun hanya berpandangan. Selintas kulihat wajah Resi Walmiko Sang Jose Tunggal mulai berbinar, giginya bergeretakan sembari tanpa sengaja membunyikan kata nyah-nyah..nyah. Rupanya Ia benar-benar menemukan kegairahan untuk ajang diskusi ini. Sementara Agam, Rais Musthafa Ibrahim, Sekar Jaturampe alias Juanaya Yeny menyiapkan posisi duduknya, Mophet Lagu Baru Ibu) mengelus-elus janggutnya yang hanya tumbuh beberapa helai saja.

“Iyak, mangga, silakan Resi Walmiko!” desak Laneno

“Begini! Kalau menurut saya yang seringkali benar, perempuan adalah bumi, maka cukuplah baginya menyediakan kesuburan agar energi Si Penumbuh yakni matahari dapat membuatnya berfotosintesis, ya, adanya satu fakta, bumi bersifat gelap dan dingin, namun jika mendapatkan sinar penerangan yang cukup maka dari perutnya akan tumbuh benih-benih kehidupan yang terus-menerus hidup!” kata Resi Walmiko sembari menyedot rokoknya hingga tandas. Ia benar-benar percaya diri di setiap ujung kata yang disuarakannya.

“Sebentar, Pakdhe!”

Tiba-tiba terdengar suara halus, cukup membuat terhenyak para pecinta ajang diskusi ini. Rupa suara dua orang perempuan yang telah cukup melewati masa mekar yang hamper berbarengan.

“Iyak, mangga Mbak Pipiek ataupun Mbak Sekar Jaturampe!” bujuk moderator

“Kalau menurut saya, sebagai seorang Ibu..perempuan adalah ujung dari persimpangan, dimana ia akan menemu dua arah jalan, satu jalan menuju wanita dewasa, sedang jalan lainnya adalah arah buntu. Buntu di sini saya tafsiri melulu kehangatan, atau bisa dikata budak dari kaum laki saja! Wah yo emoh ra! Karena laki-laki ora entuk menang-menangan sanajan duwe sinar, mereka harus bekerja sama atau saling bersinergi dengan kaum perempuan” kata Sekar Jaturampe berapi-api

“Dan,harap diingat, seorang ibu adalah tiang utama kehidupan, tempat benih-benih tersemai, pembentuk arah hidup nantinya. Dan ini fungsi mendasar, wanita, Mas Resi Miko!” imbuh Mbak Pipiek

Untuk sejenak, Sang Resi WalMiko sedikit gelagepan. Ia tidak menduga adanya perlawanan dari para wanita. Tapi bukan Resi WalMiko Sang Jose Tunggal, jika tidak bisa berkelit. Pengalaman hidup telah menempanya menjadi lelaki tangguh dan pengelana.

“Hayoo, sik tah! Sabar dilit! Saya menganalogikan lelaki itu sebagai sebuah ceret, sedang perempuan adalah sebentuk cangkir. Maka diperlukan ceret dengan isi yang benar-benar kebak. Apa itu isi yang menopang dari kesejatian seorang laki? Satu adalah bentuk tanggung jawab, dua adalah kekuatan intelektual, tiga adalah kekuatan material dan terakhir berupa kehebatan permainan sexnya. Empat-empatnya seyogyanya dimiliki oleh seorang laki-laki, jika ia ingin disebut lelananging jagad. Jika ada satu elemennya gundul ya wis…berarti akan ada protes dan gugatan dari wanitanya. Maka, lelaki perlu meruah penuh dan khatam akan ngelmu jika menginginkan memberi kenyaman. Nah, jika wanita pasangannya sudah merasa nyaman, sekali lagi nyaman kata saya, maka Ia akan mulai berfotosintesis, menjadi wanita yang setia dan patuh pada pasangannya. Jadi, jan-jane urusan setia kuwi ya urusane wong wedhok. Piye sepakat tah ora?”

Entah karena pernyataan Resi WalMiko yang mempunyai daya magi atau ndilalah pas kebeneran. Aku melihat, para calon lelaki Arpien ARrasya Heritage, Anta Jawaika, Agam, Bagus) yang duduk berderet rapi mung manggut-manggut, sementara mereka-mereka yang sudah menjadi kepala keluarga mesam-mesem sajak rada marem. Untuk beberapa menit yang berjalan, tiada ada peserta diskusi yang bersuara bahkan suara cicitpun tidak.

“Eh..Mas, Sampeyan nang omah mesti duwe cangkir akih ya, ngetara gandhik gawe tembung ngana kuwi!” Kata Konang tanpa bersalah
Kami di dalam ruang Auditorium UMK tertawa ngakak. Karena kami yakin, Sang Resi tidak marah, serta hanya kamilah yang tahu jawaban dari pertanyaan Si Konang -yang memang tidak tahu pinggir-

“…Selamat menjadi matahari wahai laki-laki, Selamat menjadi bumi semoga wahai perempuan, percalah wahai bumi, ketika matahari beranjak meninggalkan sinarnya akan tetap dikirimkan melalui pantulan rembulan. Inilah cinta, raihlah dengan penuh hati tanpa prasangka. Terimalah keindahan itu tanpa adanya. Cukup dengan kesetiaan.” kata Resi WalMiko

Dan Ia pun beranjak pergi guna melanjutkan bertapa di Bukit Kandang Segawon. Sendiri..ya dengan sendiri, meski sendiri!

‪#‎Diskusi‬ FASBUK Bulan April yang sedikit didramatisasi, juga diambil dari artikel pencerahan di Kansu malam Selasa kemarin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s