Jaturampe

Beranda » Fasbuk » Keseimbangan: (dalam) Manusia

Keseimbangan: (dalam) Manusia

Follow Jaturampe on WordPress.com

 

Resi WalMiko

Karya: Resi WalMiko (Jatmiko-President of Kansu)

Kodrat kelahiran dan kehadiran manusia yang tak dapat ditawar adalah laki-laki dan perempuan. Realitas dari kemutlakan ini semakin menggambarkan bahwa manusia merupakan manifestasi dari apa yang tersaji dalam realitas semesta, yaitu hadirnya dua sifat yang bertentangan dan tak dapat ditolak atau dihindari keberadaannya untuk dapat saling melengkapi sehingga menjadi suatu keutuhan. Pertentangan dari dualitas sifat dengan sistemnya masing-masing adalah ketidakteraturan. Melalui “percampuran” dari kedua sifat tersebut, didapatlah cita-cita manusia dalam menjalani kehidupannya didapatkan dengan cara mensinergikan dalam suatu tindakan melalui upaya keseimbangan.

Keseimbangan dalam Hukum Semesta

Keseimbangan mengandung sifat harmonisasi atau keselarasan dari dualitas sifat yang ada di alam kehidupan untuk menjadi ketunggalan. Dalam ajaran klasik kehidupan manusia terdapat ajaran mengenai dualitas kekuatan alam yang tidak dapat dipisahkan. Di kawasan Persia, ajaran dualitas ini dikembangkan oleh Zoroaster sedangkan di wilayah China dikemukakan oleh Lao Tze yang dikenal dengan istilah Yin-Yang dan hingga saat ini tetap menjadi inspirasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kutipan sederhana dari apa yang terkandung dalam ajaran Yin-Yang adalah:

Yin dan Yang mewakili dua kekuatan mendasar yang membuat dan menyelaraskan semesta. Yin adalah sisi hitam dengan titik putih pada bagian atasnya dan Yang adalah sisi putih dengan titik hitam pada bagian atasnya. Yin secara harfiah ialah tempat yang terang atau cerah. Yin dan Yang inilah yang membuat alam menjadi harmonis dan baik.

–          Sifat Yin berlawanan dengan sifat Yang

–          Yin mengandung sifat-sifat: air, bumi, bulan, malam, feminin, diam, dingin, gelap, lembut, betina, perempuan.

–          Yang mengandung sifat-sifat: api, langit, matahari, siang, maskulin, gerak, panas, terang, keras, jantan, laki-laki.

Prinsip Yin-Yang menekankan bahwa tidak ada Yin atau Yang yang mutlak. Sifat yang dimiliki Yin akan selalu terdapati sifat Yang walaupun sedikit, dan demikian sebaliknya. Sebagaimana dalam makna gambarnya, bagian hitam terdapat titik kecil berwarna putih dan bagian putih juga terdapat titik kecil berwarna hitam. Yin-Yang menjelaskan tentang hal-hal yang sifatnya positif-negatif dan dapat diaplikasikan pada banyak hal karena sifat dualitasnya. Sifat-sifat tersebut dapat dijelaskan seperti: betina-jantan, feminine-maskulin, air-apim dingin-panas, dikuasai-menguasai, hitam-putih, kecil-besar, dan masih banyak lagi. Namun perpaduannya merupakan suatu keharusan untuk ala mini agar berfungsi denga harmonis. Perpaduan Yin dan Yang merupakan syarat belangsungnya dunia dan isinya.

Salah satu penafsiran yng mengupas kosmologi menjelaskan bahwa pada awalnya adalah kehampaan, tidak ada dunia. Setelah kehampaan disusul oleh kekacauan. Kehampaan berganti kekacauan dengan tingkat energi yang tinggi. Setelah terjadi kekacauan muncullah gas, disusun energi serta materi-materi. Alam semesta di sini masih dalam bentuk yang tak jelas dengan gerakan yang tak teratur. Sampai pada saat tertentu, muncullah keteraturan atau hukum alam atau asas alam. Hukum ini mengatur materi-materi yang tersebar di alam, hingga saat alam semesta menampilkan bentuknya mendekati seperti yang ada sekarang. Fungsi dari alam semesta mencapai kesempurnaan setelah munculnya perpaduan unsur Yin dan Yang. Perpaduan Yin dan Yang inilah yang membuat alam menjadi seimbang dan harmonis.

Keseimbangan dalam Manusia

Sebagai manifestasi dari alam raya, manusia secara kodrati juga hadir membawa sifat-sifat dualitas. Pada apalikasi kehidupannya, manusia juga senantiasa menghadirkan perpaduan dua sifat utnuk mencapai kesempurnaan hidupnya.

Mengacu pada prinsip Yin-Yang, bahwa: …Sifat yang dimiliki Yin akan selalu terdapati sifat Yang walaupun sedikit, dan demikian sebaliknya. Bagian hitam terdapat titik kecil berwarna putih dan demikian sebaliknya. Maka keseimbangan bukanlah sesuatu yang harus sama pembagiannya, melainkan sesuai dengan proporsinya.

Apabila laki-laki adalah warna putih, maka cukuplah titik kecil berwarna hitam yang menyertainya. Demikian juga berlaku sebaliknya, jika laki-laki adalah matahari, maka perlu pencermatan atas sifat-sifat matahari yaitu: menyinari (menerangi), memanaskan, menumbuhkan. Sebaliknya jika perempuan adalah bumi, maka cukuplah baginya menyediakan “kesuburan” agar energy menumbuhkan dari matahari dapat bersinergi (fotosintesis). Termasuk pula energi matahari berupa menerangi dan memanaskan, tak dapat dipungkiri sebagian kebutuhan bumi yang bersifat gelap untuk menjadi teduh dan sifat dingin untuk menjadi sejuk. Titik simpul dari realitas ini adalah: laki-laki (matahari) sebagai pemberi dan perempuan (bumi) sebagai penerima.

Sebagai matahari, laki-laki memiliki bentuk tanggung-jawabnya sebagai Sang Penerang, Sang Penghangat, dan Sang Penumbuh dengan konsekuensi  berupa implementasi sederhana: kekuatan intelektual, kekuatan material (financial) dan kekuatan seksual. Kekuatan intelektual pengetahuan sebagai cahaya yang menerangi bumi, kekuatan material adalah bekal penghangat sebagai ketentraman hati bumi, dan kekuatan seksual adalah energi dalam menumbuhkan sebagian syarat keberlangsungan kehidupan bumi. Dan sebagai bumi, perempuan dengan segala sifat kodrati yang menyertainya, cukuplah menghadirkan kesejukan sebagai bentuk keteraturan agar dapat menampung energi matahari yang serba tidak teratur.

Sebagai Sang Pemberi, laki-laki selayaknya memberikan (tidak meminta). Pada konteks ini, laki-laki sudah semestinya sadar dan yakin bahwa dengan tidak menunaikan tanggung-jawabnya sebagai pemberi, maka energi balik dari Sang Penerima pastilah akan didapatkan. Hukum take and give tidak akan lari jika keseimbangan berjalan dengan kesadaran. Kenyamanan seseorang laki-laik adalah ketika dapat memberikan kenyamanan bagi seorang perempuan yang juga akan mengeluarkan keteduhannya. Keindahan seorang laki-laki adalah ketika dapat memberikan kenyamanan bagi seorang perempuan yang juga akan menggoreskan keindahan pada perempuan yang juga akan mengeluarkan kesejukannnya. Inilah sinergi dari keseimbangan.

“…Selamat menjadi matahari wahai Lelaki! Selamat menjadi bumi wahai Perempuan. Percayalah, wahai bumi, ketika matahari beranjak meninggalkan, sinarnya akan tetap dikirimkan melalui pantulan rembulan. Inilah cinta. Raihlah dengan sepenuh hari tanpa prasangka. Terimalah keindahan itu apa adanya cukup dengan Ke-setia-an”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s