Jaturampe

Beranda » Gojek » Hanacaraka?Apus-apus lan Ngayawara!

Hanacaraka?Apus-apus lan Ngayawara!

Follow Jaturampe on WordPress.com

peta-jawa-dwipa

“Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta sa Wa La, Pa Dha Ja Ya Nya, Ma Ga Ba Tha Nga! Nah, itulah huruf-huruf Jawa yang dibawa oleh Aji Saka dari tanah India, Le lan Nduk” Kata Pak Gambul pada seluruh keponakannya…

“Lalu, apa arti dari huruf-huruf itu, Pakdhe?” Tanya Si Marno yang setia nglesot di lantai

“Ehm, ya..panjang itu, Le! jadi dahulu itu ada seorang Taruna bernama Aji Saka. Ia tinggal di pulau Majethi bersama dua orang abdi setianya bernama Dora dan Sembada. Abdi-abdi ini sangat sakti lho, bahkan pemain band, hehehe

Satu saat Sang Tuan ingin pergi dari pulau Majethi, sekedar klinong-klinong melemaskan kaki. Dia berangkat dengan Dora, sementara Sembada, diperintahkan ndlongop dan ngaplo, tinggal di pulau sendirian. Sembada mung manut, patuh dan takut, pada Bendarane. Sebelum pergi, Ajisaka menitipkan sebilah keris untuk dijaga Sembada sembari berpesan jangan ngenehke pusaka itu kepada siapapun, kecuali pada Sang Tuan.

“Lha, ganti setting, kali ini di Kerajaan Medang Kamulan, tinggallah seorang Raksasa sakti bernama Prabu Dewatacengkar yang mempunyai hobi unik” Kata Pak Gambul antusias meneruskan cerita
“Sebentar, Pakdhe!” Seru Marni

“Eh, ya..ana apa, Nduk!” jawab Pak Gambul setengah kaget
“Kerajaan Medang Kamulan itu ada di Daerah Purwadadi, Grobogan?”
“Eh, iya..kelihatannya begitu!” Jawab Pak Gambul sembari berpikir

“Jika, Prabu Dewatacengkar tersebut berwujud seorang raksasa, tentunya sekarang penduduk seputaran Kecamatan Gabus, Kradenan, dan Wirosari Grobogan juga masih keturunan raksasa?” Desak Marni

“E…e…piye ya!” Pak Gambul tambak mengeryitkan dahi, ia tengah berpikir keras..

“Nah, anehnya lagi, Pak, jika Aji Saka itu dari Majethi India, tentu benda yang dititipkan pada Sembada bukan berupa keris, tapi berupa kain sari, atau sebentuk tarian nehik-nehik, atau bahkan seekor sapi, mengingat keris itu sudah diakui oleh Unesco merupakan benda budaya asli Jawa, lho!” sergap Marno ngewangi Marni

Lalu, keponakan-keponakan yang lain seperti Lik Tugiyo, Tarman, Harjono, Kusnadi…bareng-bareng sepakat ngomong,

“Mesti Si Aji Saka India sing marahi huruf jawa iku kuwi guanteng tur manis kaya Amita Bachan, sementara Prabu Dewatacengkar wujude raksasa utawa baya, sing wajahe elik, medeni, mripat mendolo, bodo, asale saka Jawa…Heleh! Bosen!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s