Jaturampe

Beranda » 2014 » Juni

Monthly Archives: Juni 2014

FASBuk Bulan Juni: Potret Rasa

 

IMG_4580Seringkali kesenian membumi bukan dari satu jalur institusi sekolah saja. Teramat banyak jalur jalan menghampar. Salah-satunya adalah panggung sebagai tempat berkreasi, -entah panggung besar ataupun kecil. Yang penting berisi kegiatan, entah itu pencerahan dari Seniman Besar entah juga bibit baru. Tapi, ditempat itulah nantinya akan menempa bermacam etika, estetika, keberanian, keseimbangan, serta keselarasan.

Bertempat di Auditorium UMK, dengan tema “Potret Rasa” Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus(FASBUK) bekerjasama dengan Universitas Muria Kudus, SEKAM, serta didukung Djarum Foundation menggelar kembali acara rutin kesenian. Pada tanggal 27 Juni ini, ada enam penampil, yakni Diovani Hadma Aulia, Intan Rosi Anggraini, Ramuna Putri Widyastuti, Dinda Widi Aquilla, Yunita Luthfiani, Fany Setyawati.

(lebih…)

Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (3)

10501486_782559085108975_601821692_n

“Intuisi, ya intuisi. Kedudukan intuisi ini di atas kedudukan akal (rasio). Ia muncul dari kedalaman hati manusia. Seseorang yang halus dan tenang pikirannya, umumnya memiliki intuisi.” Kata Mbah Agus Sunyoto kepada segenap pengunjung.
“Berarti, intuisi kuwi penting ya, Lik?” tanya Marduki pada Lik Sarpin setengah berbisik
“Lha iya, to Mar!” Jawab Lik Sarpin
“Kalau penting, kok jarang dipelajari di sekolahan ya, Kang?” kata Mbambang mulai manas-manasi..
“Hasyah, wis, ayo midangatake Mbah Agus, mengko kita ketinggalan kereta ngelmu!” Kata Lik Sarpin
“Kehidupan itukan ada karena beberapa sudut pandang to? Asumsi-asumsi yang disepakati oleh khalayak? Coba sekarang jawab, manasih daerah Jawa Tengah, memang ada daerah yang bernama Jawa Tengah? Terus Pati, Memang ada daerah bernama Pati itu? Inikan hanya kesepakatan. Mung asumsi wae to? Ya..fitrah Adam itu ya berasumsi. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:` Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! Malaikat apa iya njawab, lha wong mereka itu tidak bisa berasumsi. Ya to? Kata Mbah Agus lembut melalui speaker-speaker dan terus bergema di kedalaman hati
“Wah, bener ya Lik! Marem tenan iki!” kata Marduki
“Stttttttssss!” Lik Sarpin mendesis serupa ular, rupanya ia tidak ingin ketinggalan wejangan dari Mbah Agus sedikitpun
“Pembiasaan ya pembiasaan. Ini sangat penting! Dulu ada santri yang sombongnya minta ampun, lha di Ponpes saya, jenis santri kaya begini ya wajib untuk shalat berjama’ah dan jadi makmum. Tau sendiri, yang namanya jadi makmum itu, kadang kala saat rukuk, kepala ada di belakang pantat, saat sujud, kepalanya ada di belakang kaki baris depannya. ini kan terjadi ketika shalat berjamaah saja to? Jadi jika ada pemimpin yang sombong, maka suruh dia jadi makmum saja!” Kata Mbah Agus sembari terkekeh
Baru kali ini Marduki, Mbambang dan Lik Sarpin mendengar Mbah Agus terkekeh riang. Sanajan sebentar, nanging di hati mereka, kekehan itu nandhog serupa alun Fur Elise milik Ludwig van Beethoven.
“Tau krungu Ivan Pavlov, kan? Pavlov lahir di di Rusia, anak pendeta ortodoks pedesaan. Dialah yang meneliti teori pembiasaan, dan subyek penelitiannya adalah seekor anjing yang di bel. Jika anjing terus menerus diberi stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Dulu, Pribumi Indonesia pun begitu, ketika sekolah di sekolahan Belanda akibat dari politik etis, diberi pembiasaan, bahwa apa-apa yang dari luar negeri itu terlihat lebih berharga dan patut dihargai, contohnya adalah asam londo lebih baik daripada asem jawa, gula jawa kuwi ndeso, nganggoa gula putih (gula pasir). Ya to? Ini kan bentuk-bentuk pembiasan ala Ivan pavlov to?
Marduki, Lik Sarpin, lan Mbambang ndomblong. pikiran dan hatinya yang semula bolong, mendadak terisi sesuatu. Entah itu dinamai apa..entah itu sesuatu apa

Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (2)

10470685_782559461775604_1873895589_n

Cukup bertiga saja, Mbambang, Lik Sarpin, Marduki bergegas menuju Rumah Adab, Sampak Gusuran milik Gus Anis. Ndilalah, kersaning Allah, di sana pas diselenggarakan acara bulanan, dan tak tanggung-tanggung lagi, narasumbernya adalah rang-orang hebat seperti, Agus Sunyoto dan Om Jiwo Tedjo. Apa ora kebeneran? “Jian tenan..urip kok marem kaya mangkene!”

(lebih…)

Cahaya-Cahaya Suluk Maleman

Cahaya Oh Cahaya (1)

10154942_736434686380040_1926475932085088157_n

“Mbiyen, saya pernah membaca blog – sayang lupa mencatat alamatnya- hingga mendapatkan sedikit pencerahan, cieee. Tapi benar lho! Bayangkan saja, di blog itu dengan jelas menyertakan penelitian dari seorang yang bernama Mark Mc Cormack (mbuh landa saka ngendi kuwi?) dimana kuisonernya menanyakan,“apakah anda menyusun rencana yang jelas, spesifik dan tertulis tentang masa depan anda? dan perencanaan tentang bagaimana merealisasikan rencana tersebut?” dari data di sana didapatkan hasil sebanyak 3% responden memiliki tujuan yang spesifik, jelas dan tertulis. 13% responden menyatakan memiliki tujuan yang spesifik dan jelas, sementara 84% responden menyatakan belum memiliki dan menyusun rencana tersebut. Walah, uedan tenan to Londo siji kuwi? Sajak kaya kurang gawean to! Yang lebih gendheng lagi adalah peristiwa sepulluh tahun berikutnya, dimana Si Gundul Mark, kembali melakukan wawancara pada responden dan menemukan hasyil bahwa, “13% yang menyatakan telah memiliki tujuan yang spesifik dan jelas, tetapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata 2x lipat besarnya dari 84% lulusan yang belum memiliki tujuan. 3% lulusan yang memiliki tujuan jelas, spesifik dan tertulis, memiliki penghasilan rata-rata 10x lipat dari 97% lulusan lainnya. Oh, mai gad! Keren abiss, masbero!” Kata Sarpin dengan penuh bersemangat (lebih…)

Kudus Duwe Basa? Hayo Jelas, To!

“Jika Seseorang ingin menguasai dunia maka dia harus gemar memelajari Matematika, Bahasa, atau IPA.” Saya pernah mendengar ungkapan ini di satu buku yang bagus, brada.

Lha karena ngelmu Matematika saya rada blepok, pelajaran IPA saya pun seperempat ngacung setengah nanggung, sementara saya masih ingin mengetahui tentang pernik-pernik dunia bul-bul, maka wajar jika saya menyenangi pelajaran bahasa. Mboten Punapa, to?

Tur maneh, jare, Yu Ernawati. W, fungsi bahasa antara lain sebagai pemersatu, sebagai pemberi kekhasan, sebagai pembawa kewibawaan, serta sebagai kerangka acuan. Meski naifnya, jurusan bahasa di SMA ditutup..hehe

Hingga, suatu waktu di acara Fasbuk (Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus) yang ke sekian, saya mendapat undangan dari satu teman untuk menghadiri acara itu. Ya, satu tema yang menarik, selain juga masakan yang dihidangkan tentunya, hehe.. Tapi, sungguh bukan makanan yang menjadi ingatan saya akan adicara tersebut, melainkan tentang upaya dari salahsatu narasumber yang hendak membukukan kosakata kudusan. WOW, jantung saya serasa berdetak 1/32 birama nada, karena, sebelum acara itupun saya suka Basa Kudus bahkan menemu kata Lawad dibuku kuno, yang ternyata pemerolehan kata itu malah di Rahtawu -kata ahli bahasa yang menemukannya lho ya..hehehe

(lebih…)

Sang Swara: Gugat Kalinyamat!

Ini adalah sepenggal lagu Kalinyamat yang diciptakan oleh Komunitas Sang Swara. Lagu ini patut diduga mengandung mistis tingkat tinggi, sebab ketika menyanyikan tembang ini, rata-rata para personilnya dalam keadaan trance, hehehe…mangga dipun simak saja, Brada N Sista.. (lebih…)

Nasibe Kesenian Rada Prana?

Sebelum akhirnya kalah perang, Jerman lewat siasat dari Si Gobbel membuat kebijakan bernama Gottbegnadeten. Sebuah kebijakan yang mempunyai arti kurang lebih penyelamatan manusia yang diberikan karunia oleh Tuhan. Singkatnya, upaya penyelamatan manusia-manusia berbakat. Siapakah orang-orang tersebut?

Bukan politisi, pejabat negara, menteri apalagi konglemerat, namun justeru malahan seniman, penulis, pemain film, pembuat film, penyanyi, pengarang lagu dan orang-orang kebudayaan.

(lebih…)