Jaturampe

Beranda » filsafat » Ebiet, Paulo Coelho, Kang Farid? Marahi Edan!

Ebiet, Paulo Coelho, Kang Farid? Marahi Edan!

Follow Jaturampe on WordPress.com

Farid

“Di bumi yang berputar pasti ada gejolak, ikuti saja iramanya isi dengan Rasa”

Meski sayup, suara Mas Farid Cah Kudus terrdengar merdu mendendangkan lagu Ebiet G. Ade. Ya, lagu sama yang menjadi kesukaan kami berdua. Bahkan, dalam salah satu postingan di Kembang Setaman, dengan jelas dan menukik, Mas Farid menasehati,..
“Isilah hatimu dengan rasa, Bung!”

Yup, tidaklah berlebihan jika ada ungkapan yang menyatakan bahwa perasaan adalah getaran, sementara hati adalah kendaraannya. Lalu, dimanakah hati itu?
Dalam kamus bahasa Inggris, jantung dituliskan sebagai heart sementara lever dikenal terdefinisikan sebagai hati.Dan, simbol cinta yang dikenal dunia pun berbentuk serupa seperti waru ye…hehe, berarti bisa kita simpulkan hati yang dimaksud Kang Farid adalah Jantung hati bukan hati (lever) he’e to, Kang?hehehe

Kang Farid terdiam, kurang lebih tujuh menit, mungkin Ia Offline.

Masalah hati jadi masalah rahsia. Seperti juga kata Pakdhe Khan Dar -ahli mistik- yang kukunjungi barusan. Beliau berani mengatakan,

“Le, hati itu merupakan permulaan pembentukan, sekaligus permulaan ruh yang membuat manusia menjadi seorang pribadi, hati merupakan kedalaman ke’berada’an manusia.” Katanya sambil nyerot kretek di tangannya lalu menghembuskannya hingga di wajahku
Aku setengah mentiyung rada limbung mengucap, “Dhe, join rokokmu wae ye!”
belum genap pakdhe Khan Dar menjawab, malah ada yang terus bergema dalam tubuhku

“Isilah hatimu dengan rasa, Bung!”
“Isilah hatimu dengan rasa, Bung!”

Berulangkali, suara maya Kang Farid bergumam, bergema dalam resonansi tubuhku, nyedhot hingga puluhan detik.
Belum lepas dari sedotan tersebut, Pakdhe Khan Dar berkata lagi, “Pulanglah Le, ziarah ke dalam dirimu sendiri, yang kau cari dan sekaligus yang mesti kau hadapi ada dalam dirimu, Ya betul, temukanlah hatimu, karena di situlah hartamu.”

“Eh, sebentar Dhe, kalau kata-kata ini aku kok seperti pernah mendengarnya!” sergapku curiga pada Pakdhe
“Oh ya?”

“Ini qoute milik dari Paolo Coelho, dalam novelnya yang berjudul Sang Alkemis ya?’ pandangku tajam pada matanya
“Hahaha, iya Le, dapurmu ya tau maca buku kuwi, to?” Katanya sambil mesem sajak ngece
“Lalu siapakah yang mengatakan bahwa Tuhan adalah Cinta itu sendiri?” kata Lik Sardi mak bedunduk njedul tanpa ngerti sangkan parane
“Yesus alias Nabi Isa!” jawab Pakdhe Khan Dar singkat

kemudian lengang meraja.. sekitar tujuh menitan, kami hanya berpandangan, nyeruput kopi, mamandang segenap kekosongan lagi..
“Jadi, jika kedamaian Tuhan dapat ditemukan, tempat itu bukanlah di ruang ibadah, bukan pula di atas langit, melainkan di hati manusia, di hati yang dipenuhi CINTA!” kami bertiga berucap hampir berbarengan kompak: Gila, uedan, gendheng alias majnun!

Eh..Dhe, njaluk rokok maneh ye!”
Oalah, nak terus-terusan kuwi jenenge kere, Le!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s