Jaturampe

Beranda » jaturampe » Kudus Duwe Basa? Hayo Jelas, To!

Kudus Duwe Basa? Hayo Jelas, To!

Follow Jaturampe on WordPress.com

“Jika Seseorang ingin menguasai dunia maka dia harus gemar memelajari Matematika, Bahasa, atau IPA.” Saya pernah mendengar ungkapan ini di satu buku yang bagus, brada.

Lha karena ngelmu Matematika saya rada blepok, pelajaran IPA saya pun seperempat ngacung setengah nanggung, sementara saya masih ingin mengetahui tentang pernik-pernik dunia bul-bul, maka wajar jika saya menyenangi pelajaran bahasa. Mboten Punapa, to?

Tur maneh, jare, Yu Ernawati. W, fungsi bahasa antara lain sebagai pemersatu, sebagai pemberi kekhasan, sebagai pembawa kewibawaan, serta sebagai kerangka acuan. Meski naifnya, jurusan bahasa di SMA ditutup..hehe

Hingga, suatu waktu di acara Fasbuk (Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus) yang ke sekian, saya mendapat undangan dari satu teman untuk menghadiri acara itu. Ya, satu tema yang menarik, selain juga masakan yang dihidangkan tentunya, hehe.. Tapi, sungguh bukan makanan yang menjadi ingatan saya akan adicara tersebut, melainkan tentang upaya dari salahsatu narasumber yang hendak membukukan kosakata kudusan. WOW, jantung saya serasa berdetak 1/32 birama nada, karena, sebelum acara itupun saya suka Basa Kudus bahkan menemu kata Lawad dibuku kuno, yang ternyata pemerolehan kata itu malah di Rahtawu -kata ahli bahasa yang menemukannya lho ya..hehehe

Lha, kemarin pada salah satu postingannya Pak M. Maria Bhoernomo, saya sempat menanyakan hal itu, Beliau mengatakan bahwa kelihatannya kamus itu belum jadi dibuat, bahkan ketika saya bertemu dengan Mas Kawit Sujono Kang Farid Cah Kudus, juga Pak Pak Aryo Gunawan, kemarin, -hal yang sama-, juga saya tanyakan kepada Beliau-beliau, dan benar, sepertinya pembuatan kamus Kudusan Om Prayit, masih belum terlaksana.

Ada satu gulana, meskipun kegundahan saya menunggu, tidaklah selama tapa dan puasanya Jeng Sunan Kalijaga di pinggir kali, tapi tetap saja berasa ada jenggot yang berbiak menjadi jenggoten..menunggu kamus tersebut..

Malam ini, saya njur kelingan, Oh…bukankah setidaknya satu upaya lebih baik dimulai dari diri kita sendiri? “Mandiri sinau” nak jare Pak Maria. Di sini, jelas saya tidak bertendensi apa-apa, bukan anakke bos rokok, atau mantunya bupati, bukan hartawan pulak, cuman setidak-tidaknya, hehe, sugih kanca…kayata Warih Bayoung Wewe, Anas Zeppelin, Maesah, Denny, Agung Sedayu, Tonny De Niro, Juanaya Yenny, Titin Sagita, Rizky Aribowo, Laneno Machiavelis, Arpien, Gus Tama, Gembala Sapi, Acong Tea, yang asli orang Kudus, juga teman-teman luar Kudus, seperti Rizky, Ria Tigas, Raden Ngabehi, Munawar. Yah, setidaknya, menurut Yu Ernawati tadi, kita ambil fungsi bahasa sebagai pemersatu dan kekhasan kota Kudus ini..hehe

Apakah teman-teman, punya kata yang bisa dibagi entah dialek, adialek maupun aksen Kudusan? Kalau saya sendiri, menemukan kata gonem/wek’em (milikmu) ban (sabuk) ugik (tidak mau) dan juga hualuah di daerah sekitar Gebog, So, bagaimana dengan sampeyan?

Barusan mendapat tambahan kata yakni: mentilis, mblondhor, mblodher, oter-oter dari teman Gebog, hehe, Sedangkan pemasangan print screen di bawah ini, semata-mata untuk apresiasi saya pribadi terhadap penambahan kata dari seniman-seniman Senior, terimakasih..

Selamat malam dan darussalam

Untitled

dua

tiga

lempat

lima

enam

tujuh

delapan

sembilan

10an

rolas

telulas bahagia

sewelas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s