Jaturampe

Beranda » Jawa » Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (2)

Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (2)

Follow Jaturampe on WordPress.com

10470685_782559461775604_1873895589_n

Cukup bertiga saja, Mbambang, Lik Sarpin, Marduki bergegas menuju Rumah Adab, Sampak Gusuran milik Gus Anis. Ndilalah, kersaning Allah, di sana pas diselenggarakan acara bulanan, dan tak tanggung-tanggung lagi, narasumbernya adalah rang-orang hebat seperti, Agus Sunyoto dan Om Jiwo Tedjo. Apa ora kebeneran? “Jian tenan..urip kok marem kaya mangkene!”

Acara dah dibuka. Gus Anis berada di panggung bersama dua tokoh tadi. Beliau tampak asyik mbabar tentang definisi cahaya.

“Cahaya di tema ini lebih Saya maknai sebagai Aql bukan cahaya yang terdefinisikan sebagai benda luar yang memancar terang semata. Karena keberadaan cahaya luar (bisa matahari, api, lampu dll) itu juga butuh mata. Namun seperti kita tahu, mata seringkali terbatas daya pandangnya, apalagi banyaknya tipuan-tipuan yang menghadang di jaman modern ini lewat gambar ataupun tivi. Iya to? Kita lihat, jika bola mata menutup, maka gelap lah pandang, bukan? Sebab mata punyak banyak kelemahan antara lain: tidak bisa melihat diri sendiri, tidak bisa melihat terlalu dekat/jauh, tidak bisa melihat dibalik tabir, hanya melihat permukaan saja, melihat sebagian saja, tidak bisa melihat yang tak terhingga dan lain-lain. Maka wajib kita bedakan antara akal (rasio) dengan Aql (qolbu) karena apa? Karena akal cenderung memandang segala sesuatu secara fragmented, sementara Aql mampu memandang dengan holistik. Karena Aql mememandang segala sesuatu lewat mata hati. Lha, celakanya lembaga pendidikan jaman sekarang mung lebih menekankan pengetahuan sebatas pemenuhan akal semata. Alpa mengisi ruang pengetahuan Aql lewat matahati. Apa ora celaka ini? Jadi, kita masih perlu banyak perjuangan, lha wong negara ini besar dan hebat kok, masak serupa  cerita seekor gajah yang dirangket dengan seutas tali besi kecil namun dibisiki jangan melawan karena kau tak mampu melepaskan diri dari rantai besi itu!” Kata Gus Anis penuh semangat

Lik Sarpin mengiyakan dalam hati, Marduki menikmati acara dengan sesekali menyedot kreteknya, sementara Mbambang nguyup kopi hitamnya dan sesekali cengar-cengir. Entah apa yang dicengiri, entah apa yang cocok di bagian hatinya.

“Bagiamana dengan pendapate Sampeyan Mas Agus, mangga dipun tambahi punapa dipun wedar langkung menukik” Gus Anis mempersilakan teman panggungnya

Nampak seorang laki-laki dengan baju serba hitam berusia sekitar lima puluhan lebih itu mulai memegang mikropon. Suaranya pelan namun menggetarkan. Aura kebijaksanaan menggumpal di sekeliling panggung.

“Oh ini to, Kang..pengarang Suluk Abdul Jalil serta Suluk Malang Sungsang itu?” kata Marduki bertanya pada Lik Sarpin

“He’em, Mar, malah ora kuwi tok. Kayata Sastra Jendra Hayuningrat, lan buku sing judule Sufi lan Wahabi tah apa ngono lho, walah okeh pokoke nganti lali aku. Ngene iki lho, hasile saka pondok pesantren!” balas Lik Sarpin

“Wooooohh, lha emange hasile sing pada sekolah dhuwur-dhuwur njur apa, Lik?” tanya Mbambang nyelani

“Hayah, ra padon!” balaas Lik Sarpin

“Korupsi, Kolusi campur ngapusi tah Lik?” tanya Mbangmbang cengengesan

 “Wis, cukup. Menengo!” sahut Lik Sarpin

“Heleh! nesu, ngamuk, cuwa! Oalah, Wong tuwo-wong tuwo! Balas Mbambang dengan bibir disengaja mencep..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s