Jaturampe

Beranda » Jawa » Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (3)

Cahaya-Cahaya Suluk Maleman (3)

Follow Jaturampe on WordPress.com

10501486_782559085108975_601821692_n

“Intuisi, ya intuisi. Kedudukan intuisi ini di atas kedudukan akal (rasio). Ia muncul dari kedalaman hati manusia. Seseorang yang halus dan tenang pikirannya, umumnya memiliki intuisi.” Kata Mbah Agus Sunyoto kepada segenap pengunjung.
“Berarti, intuisi kuwi penting ya, Lik?” tanya Marduki pada Lik Sarpin setengah berbisik
“Lha iya, to Mar!” Jawab Lik Sarpin
“Kalau penting, kok jarang dipelajari di sekolahan ya, Kang?” kata Mbambang mulai manas-manasi..
“Hasyah, wis, ayo midangatake Mbah Agus, mengko kita ketinggalan kereta ngelmu!” Kata Lik Sarpin
“Kehidupan itukan ada karena beberapa sudut pandang to? Asumsi-asumsi yang disepakati oleh khalayak? Coba sekarang jawab, manasih daerah Jawa Tengah, memang ada daerah yang bernama Jawa Tengah? Terus Pati, Memang ada daerah bernama Pati itu? Inikan hanya kesepakatan. Mung asumsi wae to? Ya..fitrah Adam itu ya berasumsi. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:` Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! Malaikat apa iya njawab, lha wong mereka itu tidak bisa berasumsi. Ya to? Kata Mbah Agus lembut melalui speaker-speaker dan terus bergema di kedalaman hati
“Wah, bener ya Lik! Marem tenan iki!” kata Marduki
“Stttttttssss!” Lik Sarpin mendesis serupa ular, rupanya ia tidak ingin ketinggalan wejangan dari Mbah Agus sedikitpun
“Pembiasaan ya pembiasaan. Ini sangat penting! Dulu ada santri yang sombongnya minta ampun, lha di Ponpes saya, jenis santri kaya begini ya wajib untuk shalat berjama’ah dan jadi makmum. Tau sendiri, yang namanya jadi makmum itu, kadang kala saat rukuk, kepala ada di belakang pantat, saat sujud, kepalanya ada di belakang kaki baris depannya. ini kan terjadi ketika shalat berjamaah saja to? Jadi jika ada pemimpin yang sombong, maka suruh dia jadi makmum saja!” Kata Mbah Agus sembari terkekeh
Baru kali ini Marduki, Mbambang dan Lik Sarpin mendengar Mbah Agus terkekeh riang. Sanajan sebentar, nanging di hati mereka, kekehan itu nandhog serupa alun Fur Elise milik Ludwig van Beethoven.
“Tau krungu Ivan Pavlov, kan? Pavlov lahir di di Rusia, anak pendeta ortodoks pedesaan. Dialah yang meneliti teori pembiasaan, dan subyek penelitiannya adalah seekor anjing yang di bel. Jika anjing terus menerus diberi stimulus berupa bunyi bel dan kemudian mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Dulu, Pribumi Indonesia pun begitu, ketika sekolah di sekolahan Belanda akibat dari politik etis, diberi pembiasaan, bahwa apa-apa yang dari luar negeri itu terlihat lebih berharga dan patut dihargai, contohnya adalah asam londo lebih baik daripada asem jawa, gula jawa kuwi ndeso, nganggoa gula putih (gula pasir). Ya to? Ini kan bentuk-bentuk pembiasan ala Ivan pavlov to?
Marduki, Lik Sarpin, lan Mbambang ndomblong. pikiran dan hatinya yang semula bolong, mendadak terisi sesuatu. Entah itu dinamai apa..entah itu sesuatu apa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s