Jaturampe

Beranda » Fasbuk » FASBuk Bulan Juni: Potret Rasa

FASBuk Bulan Juni: Potret Rasa

Follow Jaturampe on WordPress.com

 

IMG_4580Seringkali kesenian membumi bukan dari satu jalur institusi sekolah saja. Teramat banyak jalur jalan menghampar. Salah-satunya adalah panggung sebagai tempat berkreasi, -entah panggung besar ataupun kecil. Yang penting berisi kegiatan, entah itu pencerahan dari Seniman Besar entah juga bibit baru. Tapi, ditempat itulah nantinya akan menempa bermacam etika, estetika, keberanian, keseimbangan, serta keselarasan.

Bertempat di Auditorium UMK, dengan tema “Potret Rasa” Forum Apresiasi Seni dan Budaya Kudus(FASBUK) bekerjasama dengan Universitas Muria Kudus, SEKAM, serta didukung Djarum Foundation menggelar kembali acara rutin kesenian. Pada tanggal 27 Juni ini, ada enam penampil, yakni Diovani Hadma Aulia, Intan Rosi Anggraini, Ramuna Putri Widyastuti, Dinda Widi Aquilla, Yunita Luthfiani, Fany Setyawati.

 Acara dibuka tepat pukul 16.00 WIB oleh Master of Ceremony -Arpien Heritage. penampil pertama adalah Yunita Luthfiani. Meski remaja, gadis ini ra gemen-gemen. Suara indah, bahkan bulat penuh.  Ia membacakan puisi pertamanya. “Kami dan engkau tak mengerti/Kami menapaki di surga kecil/Menggapainya kami rela/Melangkah di atas batu arang/Mengukir asa di bawah lambaian sang raja singa/Kami menapak di surga kecil/Deminya kami rela dipaku dingin/Berenang sampai hulu sungai”IMG_4454

 

Ya, gadis kelahiran Pati delapan belas tahun lalu, berhasil menyihir penonton, dengan puisi, bahkan dengan petik dawai guitarnya.

Waktu bergulir, ramah dan tak membosankan. Penampil ke-2, bernama Intan Rosi Anggraini. Ya, sebelum membacakan puisinya, Ia sempat berkisah bahwa salah satu karyanya berhasil memenangkan hati teman-teman satu fakultasnya. Gadis berkerudung ini kemudian memusatkan pikiran dan segenap daya. Bersama untaian kata “Sayupan dzikir menyayat hati/Alunan ayat-ayat cinta-Mu/Damai memanggil malam/Hingga menemui embun tersedu menetes di dini/Pelabuhan hati timpuh, mata hatipun runtuh.”  Ia menemani penonton untuk meneropong kehidupan.

Penampil ke-3 memasuki  arena panggung. Tampak gadis kecil tapi manis. Sang Master of Ceremony segera menanyai dan mengenalkan kepada penonton. Gadis itu bernama: Fany Setyawati. Ya, bersamaan dengan gaya yang sudah dirancang, Fany mulai membaca puisinya. “Penipu, perampok, maling/Bertopeng dan berpupur/Di istana kekuasaan/Serupa raja di zaman Tikus.” Gerimis mulai mengguyur kota Kudus.

IMG_4464

Penampil berikutnya adalah tiga orang yang sepakat untuk saling bersinergi. Mereka adalah Diovani Hadma Aulia, Dinda Widi Aqillah dan Ramuna Putri Widyastuti. Meskipun terbilang penyair mula, rupanya mereka bertiga sadar betul akan ruang. Ya, selama kurang lebih 6 menit, mereka menggerakkan daya dan indera tubuhnya. Kadang lambat menggeliat, kadang meregang tiba-tiba. Suasanapun terbangun. Berpasang mata berusaha membaca pesan. Hingga satu-persatu dari gadis itu mulai membaca puisinya. “Masih kemarin/Cinta adalah agama manusia/Perdamaian dan pengampunan yang kehilangan harapan/Mereka yang pernah berjuang untuk perdamaian dan kebebasan

Kini menangis, di kuburan mereka tak berdaya.”  Kemudian disusul dengan puisi, “Jika ribuan nyawa yang melayang demi Merah Putih tak juga berarti untukmu/Lalu dengan apa kau akan mencintai negerimu? ?”  Kemudian bergema puisi ketiga mereka, “Jika itu cinta/Maka itu benar-benar telah menarikku/Diariku penuh/Jika itu cinta/Bedakah?Jika kau kurus atau gemuk/Jika itu cinta /Maka rasanya seperti memenangkan satu putaran kolam renang/Jika itu cinta/Benarkah/Kemudian membutuhkan pengorbanan?”IMG_4541

Itulah segenap “Potret Rasa” yang muncul pada acara FASBuk bulan ini. Entah, Tiba-tiba, saya teringat pesan yang pernah disampaikan oleh Sang Guru-Mahatma Gandhi, bahwa, “Kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, ilmu tanpa kemanusiaan, pengetahuan tanpa karakter, politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, dan ibadah tanpa pengorbanan termasuk Tujuh Dosa Sosial.

Dan entah satu waktu- dari Panggung-panggung semacam itu, akan  tumbuh dan bermunculan selaksa kembang-kembang dan tembang-tembang yang senantiasa menjaga Sang Dewi Kesenian, semoga!

-AntonGendhon-

Sumber Dokumentasi: Laneno Machiavelis, Mophet SK, Arpien Heritage

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s