Jaturampe

Beranda » Fasbuk » FASBuk Bulan November: Menari Rembulan (2)

FASBuk Bulan November: Menari Rembulan (2)

Follow Jaturampe on WordPress.com

Fasbuk Bulan November“Sekarang, mari kita buka sesi diskusi ini dengan pertanyaan dari teman-teman, mumpung salah satu Senior tari Kota Kudus ada di sini lho!” Ucap Arpien AM selaku ketua panitia
Sejenak, hening menguasai isi ruang. Ya, malam makin dingin, tapi masing-masing dari hati kami tetap bergolak semangat. Sedang, detak dari tarian detik pun melaju dengan pola sama.

Dari arah kiri, tampak pemuda berdiri. Ia mengambil micropon dan mulai berdehem, “Selamat malam, Saya Agung, sebenarnya saya tidaklah pelaku seni, malah bukan penikmat seni sejati. Keseharian kami – Sanggar Sapolahe Dhewe- adalah salahsatu mahasiswa sekolah ilmu kesehatan di Kota Kudus. Bulan lalu kami mendapat tawaran untuk mementaskan tari dari panitia FASBuk, maka tadi adalah sajian tari dari kami yang berjudul “Tari Jenang Kudus” mohon dimaklumi, jika gerak dan geliat kami masih kurang luwes ataupun kurang greget. Satu pertanyaan untuk narasumber, bolehkan didalam mementaskan tari disertai dengan puisi? Terimakasih!”
Dari sebelah kanan, terlihat Warih Bayoung Wewe -salahsatu seniman Kudus yang menetap di ibukota dan enggan dipanggil seniman- tersenyum simpul. Entah apa yang berkecamuk dalam hatinya. Hanya Tuhan dan para sahabatnya saja yang tahu itu.
“Penanya berikutnya!” suara moderator mulai terdengar.
“Saya dari Teater Aura. Menurut pendapat saya, jika kita sudah menghasilkan karya, saya rasa kita sudah menjadi pelaku seni. Demikian opini saya menanggapi pertanyaan dari Agung. Yup, itu saja!” kata pemuda yang tidak diketahui namanya.
““Penanya berikutnya, sumangga!” suara moderator terdengar menggelegar.
Ruang auditorium kembali lengang. Masing-masing dari penonton menunggu. Beberapa saat kemudian tampak seorang wanita berdiri, Ia mulai mendekat ke arah micropon. Sejenak dicek tombol on/off kemudian mulai berkata,
“Saya Nita, kebetulan adalah koreografer dari penampil tari ke-4 tadi. Hmm, sebenarnya tadi ada satu kecelakaan kecil. Kebetulan kaset yang kami rekam tidak berputar secara utuh, jadi yang terdengar hanya bunyi deng..deng…deng, simbal china saja. Inilah yang menimbulkan kebingungan dari para penari kami, oh..kalau kata anak muda sekarang, sakitnya tuh di sini! Ucapnya yang disambut gelegak tawa para penonton
“Berikutnya, ehmm…ukuran panggung terlalu sempit, jadi gerak dari penari kami terlihat kurang luas dalam melakukan pola lantai!” imbuhnya
Malam makin melebar. Debar yang timbul dari suasana diskusi semakin menghentak saja. Ada saja sebagian penari yang berdiri, entah untuk buang air kecil, maupun sekedar menghapus sisa-sisa make up di wajahnya..
Bersambung


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s